Jangan Menyepelekan Pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga

Ilustrasi
Ilustrasi

Miranda Risang Ayu seorang penulis dalam bukunya berjudul Cahaya Rumah Kita, mengungkapkan :“Karier sebagai ibu rumah tangga adalah Pekerjaan yang menangani manusia kecil, dewasa bahkan orang lanjut usia. Inilah pekerjaan yang paling sulit dan paling mulia di dunia.”

Salah satu alasan perempuan menunda pernikahan adalah mereka enggan merelakan karier untuk sepenuhnya mendedikasikan waktu mengurus rumah tangga. Pemikiran seperti ini diduga karena pandangan banyak orang yang menyepelekan bahwa ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan apalagi pencapaian.

Beberapa waktu lalu, seperti dilansir oleh Daily Mail, majalah Parents menggelar survei terhadap sejumlah responden ibu rumah tangga. Selanjutnya, hasil poling mengungkapkan bahwa 92 persen ibu rumah tangga mengatakan, pekerjaan mereka lebih sulit dibandingkan perempuan kantoran. Pernyataan ini didukung oleh 500 perempuan lainnya, yang setuju bahwa pekerjaan paling berat di dunia adalah menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga.

Kemudian sekitar 33 persen perempuan yang baru saja melahirkan mengaku mengalami dilema tingkat tinggi saat dihadapkan pada pilihan merawat bayi di rumah atau meneruskan karier. Menurut mereka, pilihan sulit ini karena mereka memiliki kekhawatiran, apakah akan menjadi seorang ibu teladan bagi buah hatinya atau tidak.

Maka, dari hasil poling, 66 persen responden yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga sering menyembunyikan rasa panik akan kondisi keuangan keluarga. Survei pun menguak data yang melaporkan sekitar 28 persen ibu rumah tangga acap kali direndahkan oleh kerabat dan sahabat yang bekerja kantoran, dipandang sebagai pemalas karena tidak bisa membantu suami dalam mencari nafkah.

Bahkan, di Norwegia, the Housewife’s Association, organisasi yang beranggotakan 60.000 ibu rumah tangga, harus berganti nama menjadi the Women and Family Association. “Pergantian nama dikarenakan titel ibu rumah tangga terdengar memalukan,’’ ujar Charlotte Koren, Pakar Ekonomi dari Norwegian Instititute of Social Research, seperti yang dikutip dari laman NYTimes.

Pergeseran waktu dan pola pikir perempuan menghasilkan ambisi untuk bisa sukses dan maju seperti pria. Berbagai pengorbanan pun harus dilakukan, salah satunya mengurangi waktu di rumah dan menunda menikah.

Padahal, menjadi ibu rumah tangga sama sulitnya dengan berbagai profesi di perusahaan, tetapi tidak mendapatkan benefit dan fasilitas seperti perempuan karier lainnya. Ibu rumah tangga tidak memiliki asuransi kesehatan, tidak memiliki gaji bulanan, tidak memiliki “privillege” untuk menghabiskan beberapa jam di salon pada akhir pekan, karena tidak ada hari libur untuk mereka!

Sumber :

Daily Mail/Kompas/IK

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.