Bagaimana Jika Terinfeksi TB dan HIV Sekaligus?

165907_flucar

Dikenal sebagai dua penyakit yang mematikan, Tuberkulosis (TB) dan HIV nyatanya bisa dialami oleh seseorang sekaligus. Dikenal sebagai TB-HIV, ko-infeksi ini diketahui dapat meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Lantas apa yang harus dilakukan oleh pasien yang mengalami hal ini?

Perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk sebagai yang tercepat di Asia. Di Indonesia, TB merupakan tantangan bagi pengendalian AIDS. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Provinsi 2012, TB menjadi penyakit nomor satu sebagai penyakit penyerta kasus AIDS.

Penularan melalui hubungan seksual yang tidak aman merupakan cara transmisi HIV yang terbanyak (50,8 persen), diikuti dengan penularan melalui penggunaan jarum suntik tidak steril (9,4 persen). Lantas amankah mereka yang mengidap TB-HIV mengonsumsi obat TB reguler?

Pengobatan TB dengan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan terapi Anti Retroviral (ARV) yang tepat pada Orang Dengan HIV-AIDS atau ODHA yang sakit TB diyakini akan menurunkan angka kematian, kesakitan dan meningkatkan kualitas hidup ODHA. Terapi ARV diberikan untuk semua ODHA yang sakit TB, meskipun OAT tetap merupakan prioritas utama untuk pasien.

“Berbagai penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh tentu akan menimbulkan risiko lebih besar terhadap TB. Yang paling ekstrem tentu saja HIV, karena dengan penyakit ini daya tahan tubuh turun dan kemudian kemungkinan sakitnya menjadi lebih besar. Nah, obatnya bisa diberikan bersama-sama. Sudah ada mekanismenya juga,” tutur Prof dr Tjandra Yoga Aditama, selaku Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI.

Hal tersebut ia sampaikan kepada detikHealth dalam pembukaan Workshop Nasional Program Pengendalian TB, yang diselenggarakan di Swissbell Hotel, Jl Kartini Raya, Jakarta, Selasa (10/12/2013).

“Untuk itu memang pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan itu untuk mengetahui status HIV ataupun penyakit-penyakit lainnya kalau memang mengarah kesitu,” lanjutnya.

Perlu diketahui, ODHA harus melakukan skrining TB secara rutin, pemeriksaan diagnosis untuk TB dan segera menjalani pengobatan jika terbukti memiliki TB. Sebaliknya, pasien TB yang mempunyai faktor risiko HIV, misalnya memiliki tato dan jejas jarum, juga secara rutin harus melakukan pemeriksaan HIV untuk mengetahui status HIV-nya. (bobotoh.id/detik.com/ayc)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.