Berendam Air Panas, Redam Gejala Autis Anak

 

 

 

 

103224_anakberendam

 

Anak-anak penyandang autisme biasanya akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, melakukan sesuatu berulang-ulang atau bahkan cenderung hiperaktif. Nah, perilaku yang biasanya terjadi pada anak dengan autisme, bisa diredam dengan mandi air hangat.

Studi di AS menyebutkan bahwa berendam di bak air hangat selama setengah jam bisa membuat anak-anak autis lebih tenang, ramah, dan tidak mengulangi tindakan yang sudah ia lakukan. Diharapkan, penelitian ini bisa mempercepat penemuan pengobatan baru bagi autisme.

Lebih dari 100 anak penyandang autis di Inggris kondisinya berhubungan sengan sindrom Asperger. Gejalanya bervariasi pada tiap anak. Mereka bisanya sulit berinteraksi, berkomunikasi, dan melakukan hal yang diulang.

Tim peneliti meminta sepuluh anak autis berendam dengan dua suhu air berbeda. Dokter dan orang tua pun diminta menilai perilaku mereka. Hasilnya, anak yang berendam dengan suhu air 39 celcius selama setengah jam menunjukkan perbaikan kemampuan berkomunikasi dan penurunan perilaku repetitif.

“Namun, mandi dengan suhu air dua atau tiga derajat lebih dingin tidak berpengaruh. Kemungkinan, air dengan suhu 39 celcius berhubungan dengan gen yang meredam sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif,” papar salah satu peneliti, demikian dikutip dari Daily Mail, Rabu (18/12/2013).

Selain itu, peneliti juga fokus pada sistem kekebalan tubuh penyandang autisme dengan menggunakan cacing parasit yang diperkirakan bisa menenangkan perilaku orang dengan autisme. Setiap dua minggu selama enam minggu, sepuluh orang dewasa dengan autisme menelan ribuan telur cacing yang biasanya menginfeksi babi tapi tidak berbahaya bagi manusia.

“Setelah pengobatan, mereka bisa lebih terbuka untuk menerima hal yang baru dan tidak lagi fokus melakukan kegiatan yang diulang-ulang. Diperkirakan cacing memicu pelepasan bahan kimia yang membantu menenangkan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif,” jelas Eric Hollander.

Caroline Hattersley dari National Autistic Society mengatakan studi ini masih dalam ruang lingkup yang kecil sehingga penggunaan temuan ini harus hati-hati. Sebab, autisme adalah kondisi yang sangat kompleks. Yang terpenting, menurut Caroline, kita bisa memastikan orang-orang itu menerima dukungan agar penyandang autisme bisa mencapai potensi yang dimiliki. (bobotoh.id/http://health.detik.com/ayc)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.