“Copywriter”, Profesi yang Selalu Diintai Stres

Ilustrasi
Ilustrasi

Pekerjaan sejatinya tak ada yang aman dari serangan stres, tak terkecuali di industri kreatif. Kendati pekerjaan tersebut tampak menyenangkan dan tidak memiliki peraturan baku, para pekerja diharuskan memiliki ide baru dan segar yang siap diwujudkan.

Ide tersebut kadang beradu balap dengan tenggat waktu (deadline) yang harus dipenuhi. Deadline ini tak ayal menimbulkan stres di kalangan para pekerja kreatif. Stres inilah yang membuat pekerja kreatif rawan gangguan kesehatan. Bahkan dalam kondisi yang ekstrem stres berlebihan bisa memicu kematian, seperti yang menimpa copywriter muda Mita Diran.

Diakui oleh beberapa orang yang berprofesi copywriter, menjalani pekerjaan setiap hari di tengah tuntutan deadline sangat rawan terhadap stres.
Seorang pekerja kreatif bernama Alia, misalnya, menilai kebiasaan pulang larut malam untuk menyelesaikan tugasnya adalah hal yang lumrah. “Copywriter merupakan pekerjaan yang tidak kenal waktu dan bila dalam tekanan bisa menyebabkan stress. Bagi copywriter pulang jam 8 atau 9 malam merupakan keistimewaan, sedangkan pulang jam 10 atau 11 malam adalah hal biasa,” katanya saat dihubungi KOMPAS health pada Senin (16/12/2013) kemarin.

Kondisi ini dikarenakan seorang copywriter harus mengikuti semua proses kreatif, mulai dari brainstorming ide untuk iklan hingga persetujuan dengan pengiklan dan perusahaan. Padahal ide untuk membuat suatu tulisan, yang menjadi kewajiban seorang copywriter, tidak selalu muncul.

Hal senada juga dikatakan Miranda, seorang copywriter di sebuah agensi periklanan. “Paling berat kalau seorang copywriter wajib ikut shooting, yang mengharuskan tidak pulang selama beberapa hari. Terkadang untuk suatu iklan kita harus memperhatikan sampai detail, demi memuaskan klien,” ujarnya.

Tekanan ini, menurut Miranda, dikarenakan ide tersebut harus memiliki unique selling point yang tinggi. Padahal, kata Miranda, terkadang mereka hanya diberikan waktu 2 jam untuk lahirnya minimal 3 konsep iklan yang kemudian dipilih klien.

Kendati begitu, Alia dan Miranda sepakat, pekerjaan di dunia kreatif sangat menyenangkan.
“Walau stres, bekerja di industri kreatif sangat menantang dan menyenangkan. Kami biasanya mengetahui batas diri untuk mengetahui kapan saatnya istirahat dan bekerja,” kata Miranda.

Stres, menurut psikolog Aurora Lumbantoruan, sebetulnya merupakan proses adaptasi tubuh pada tekanan. Pada saat dalam tekanan tubuh akan fight untuk melawan segala faktor risiko yang menyebabkan stres.
Namun, kondisi ini tentu tidak bisa berlangsung terus-menerus. Pada satu titik tubuh tidak bisa melawan hingga meluapkannya pada bentuk lain, misal marah atau kecewa pada hasil yang diperoleh.

Untuk menghindari tekanan tersebut, sangat penting bagi pekerja bisa mengelola stres. “Prinsip pengelolaan stres sebetulnya sederhana. Sedapat mungkin cobalah untuk berbicara dengan lingkungan sekeliling, untuk mendapat cara pandang yang baru. Bila dipendam sendiri masalah tidak akan selesai karena hanya melihat dari satu sudut pandang,” kata Aurora.

Selain berbicara dengan lingkungan sekitar, Aurora juga mengingatkan untuk tidak lupa beristirahat. Istirahat akan mengembalikan kestabilan emosi seseorang. Dengan emosi yang tidak meluap-luap, seseorang akan lebih rileks sehingga pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. (bobotoh.id/kompas.com/ayc)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.