Imah Jurig Lain Imah Jurigan di Jatigedé

imahjurig

Seiring dengan masalah Waduk Jatigede yang masih menumpuk, Ketua FKRJ Kusnadi, tidak menampik jika sejak tahun 2000, bermunculan ‘rumah hantu’. Rumah hantu adalah rumah yang sengaja dibangun untuk mendapatkan ganti rugi, karena rumah itu tidak ditinggali setelah selesai dibangun.

Rumah hantu juga sebenarnya banyak, karena proyek ini sudah berpuluh-puluh tahun jadi banyak spekulasi dan kendala dimana-mana, lalu mulai ramai lagi tahun 2000 ketika direncanakan akan ada peledakan menandai dimulainya pembangunan fisik pada tahun 2007.

Dibenarkan Anggota Komisi A Atang Setaiwan yang juga merupakan warga Darmaraja, rumah hantu bermunculan dibiayai oleh investor, baik di Sumedang sendiri atau di luar kota. Mereka bekerjasama dengan pemilik lahan untuk membangun rumah hantu. Jika sudah dibayar ganti ruginya, akan ada pembagian keuntungan antara investor dan pemilik lahan.

“Rumah hantu itu sudah bukan hal baru, tapi sudah lama terjadi, itu karena pembebasan lahan ini terhjadi sejak puluhan tahun sejak Tahun 1980-an,” kata Atang.

Data di Panitia Pengadaan Tanah (P2T), tercatat ada 10.013 unit rumah hantu yang ada di 20 desa. Saat dilakukan pendataan oleh P2T, petugas sempat memergoki rumah hantu yang dipindahkan. Pembangunan rumah hantu itu kurang dari 24 jam. Petugas P2T meninggalkan lokasi seusai pendataan sekitar pukul 17.00, keesokan harinya saat petugas datang pada pukul 09.00 sudah berdiri rumah baru.

Waduk Jatigede akan menenggelamkan lahan seluas 4.896,22 hektar, area genangan 3.224,78 hektar, dan fasilitas 12.000 hektar. Seluruh lahan mengambil wilayah 26 desa di enam kecamatan, antara lain, Darmaraja, Cisitu, Wado, Jatinunggal, Situraja dan Jatigede. bobotohcoid/inilahkoran/ar

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.