Shahar Milih “Glove” Buatan Lokal

shahar-kaos

Kiper Bandung Ginanjar tak mempersoalkan merek suatu produk yang menempel di tubuhnya. Seperti sarung tangan yang dikenakannya kala membela di lapangan hijau. “Sarung tangan yang saya gunakan di lapangan hanya penunjang di lapangan saja. Yang saya pakai saat ini tidak memiliki nama dan merupakan produk lokal. Buat saya yang penting sarung tangan itu nyaman dan cocok, juga nggak lengket,” kata , Minggu (23/3/2014).

Diakui dia, saat ini dirinya memiliki 10 sarung tangan jenis hujan dan panas. Koleksi sarung tangannya itu meski tak memiliki merek, namun dari segi kualitas tak kalah dari merek terkenal. “Ada sepuluh sarung tangan kiper, tipe hujan dan panas. Yang membedakan tipe latexnya, yang jenisnya berbeda-beda. Mirip bahan bola. Nggak usah ternama, dan kebanyakan kiper Indonesia memakai itu,” ujar pemain yang menyukai sarung tangan warna hitam ini.
Kegemarannya menggunakan produk lokal namun berkualitas bisa jadi sudah tertanam sejak kecil. Apalagi sebelum terkenal seperti sekarang, pemain kelahiran Purwakarta 4 November 1990 itu pernah mengalami masa-masa sulit. Shahar menceritakan, saat itu ketika ingin memiliki sebuah perlengkapan sepak bola, dia harus menabung uang terlebih dahulu. Dia pun harus rela menyisihkan uang jajan demi keinginannya tersebut.

“Sarung pertama saya sudah hancur. Dulu untuk mempunyai sarung tangan atau sepatu bola sangat sulit. Saya harus menabung uang, waktu itu sampai Rp200 ribu harganya dan saya menabung sampai satu bulan. Tetapi kebeli juga karena saya sangat ingin bermain bola,” ujarnya.

Dia pun sangat mensyukuri jika usaha kerasnya berbuah manis. Terlebih, namanya selalu tercatat di line up tim Maung Bandung kala melakoni pertandingan kompetisi ISL ataupun turnamen lainnya. (.co.id/inilahkoran/ar) “Sarung tangan yang saya gunakan di lapangan hanya penunjang di lapangan saja. Yang saya pakai saat ini tidak memiliki nama dan merupakan produk lokal. Buat saya yang penting sarung tangan itu nyaman dan cocok, juga nggak lengket,” kata Shahar, Minggu (23/3/2014).

Diakui dia, saat ini dirinya memiliki 10 sarung tangan jenis hujan dan panas. Koleksi sarung tangannya itu meski tak memiliki merek, namun dari segi kualitas tak kalah dari merek terkenal. “Ada sepuluh sarung tangan kiper, tipe hujan dan panas. Yang membedakan tipe latexnya, yang jenisnya berbeda-beda. Mirip bahan bola. Nggak usah ternama, dan kebanyakan kiper Indonesia memakai itu,” ujar pemain yang menyukai sarung tangan warna hitam ini.

Kegemarannya menggunakan produk lokal namun berkualitas bisa jadi sudah tertanam sejak kecil. Apalagi sebelum terkenal seperti sekarang, pemain kelahiran Purwakarta 4 November 1990 itu pernah mengalami masa-masa sulit. Shahar menceritakan, saat itu ketika ingin memiliki sebuah perlengkapan sepak bola, dia harus menabung uang terlebih dahulu. Dia pun harus rela menyisihkan uang jajan demi keinginannya tersebut.

“Sarung pertama saya sudah hancur. Dulu untuk mempunyai sarung tangan atau sepatu bola sangat sulit. Saya harus menabung uang, waktu itu sampai Rp200 ribu harganya dan saya menabung sampai satu bulan. Tetapi kebeli juga karena saya sangat ingin bermain bola,” ujarnya.

Dia pun sangat mensyukuri jika usaha kerasnya berbuah manis. Terlebih, namanya selalu tercatat di line up tim Maung Bandung kala melakoni pertandingan kompetisi ISL ataupun turnamen lainnya. (bobotoh.co.id/inilahkoran/ar)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.