Lika-liku Bobotoh yang Bukan Laki-laki, Nisbar

 

nisbar

Kadang apa yang kita lakukan baik itu minat atau hobi terkendala bahkan bertolak belakang dengan keinginan orang tua walaupun ada sedikit yang mendukung.  Bagaimana pun orang tua lebih menginginkan anaknya untuk bisa ‘lebih’ dari mereka dalam hal positif tentunya. Bisa dikatakan, menjadi kegalauan sendiri antara menuruti orang tua dan menjalani hobi kita.

Terlihat ‘Protective’ mungkin, kadang anak lebih untuk bersikap ‘brutal’ untuk menghadapi orang tua seperti itu dan menjadi saat yang serba salah bagi orang tua.
Selama dalam koridor yang tepat, bermain-main dengan hobi bagi remaja tentunya wajar termasuk saya sendiri sebagai seorang yang hobi menonton bertanding walaupun harus dengan usaha yang susah payah tak semudah bobotoh yang lain sepertinya.

Ya mungkin uraian tersebut, mewakili isi ‘Curhatan’ saya, Anggranie Pertiwie. Panggil saja saya ‘Nis’, bisa dikatakan saya Bobotoh fanatik Persib sudah sejak lama, dan mungkin hobi dan minat saya sudah dapat ditebak, segala apa saja yg ada hubungannya dengan Persib tidak bisa di jauhkan dari saya, terutama ‘Lalajo’ Persib. Ini momen yang tidak bisa dilewatkan, mungkin akan merasa bersalah jika tidak menyaksikan tim kesayangan Persib sedang bertanding.

Hobi saya untuk menggeluti dunia Persib rupanya tak semulus yang dibayangkan.  Kebanyakan bobotoh, butuh banyak perjuangan, erutama faktor izin orang tua kadang menjadi hambatan. Bahkan butuh sedikit adu argumen dengan orang tua hanya untuk mendapat izin saja. Kadang, untuk sekedar melihat Persib Bandung pun dengan terpaksa harus ‘Ucing Sumput’dengan orang tua.

Timbul keraguan dan ketakutan dari orang tua saya, perawakan saya bisa dikatakan ‘Tomboy’ walaupun seorang perempuan menjadi salah satunya. Dengan keseharian tak bisa lepas dari balutan atribute Persib, aktivitas dengan kerjaan di salah satu perusahaan swasta pun menjadi rutinitas keseharian saya. Mungkin, karena itu juga saya sulit mencuri waktu hanya sekedar untuk menonton Persib selain faktor orang tua tentunya.

Semua orang tua tentunya pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kadang orang tua juga ingin anaknya fokus terhadap apa yang dilakukan baik itu pendidikan, pekerjaan yang orientasinya lebih ke masa depan. Mereka bukan niat memaksa kehendak mungkin tapi takut anaknya terbawa kepada kegiatan atau hal-hal yang berbau negative.  Apalagi saya seorang perempuan, butuh penjagaan atau perhatian lebih bagaimanapun itu pertanda sayang mereka kepada kita seperti halnya kita juga sayang kepada Persib.

Apalagi, sudah mendengar dengan namanya Suporter Sepak bola  mungkin yang ada di benak orangtua adalah rusuh, tawuran, brutal, anarkis-nya dan lain-lain. Media pun turut andil kadang yang hanya menyoroti sisi negatifnya yang menyebabkan image suporter bola pun menjadi terlihat jelek. Padahal, di luar itu banyak hal-hal positif yang bisa diambil bahkan banyak. Bagi saya pribadi mencintai dan mendukung Persib bukan hanya sekedar ajang bermain-main, hobi atau sebatas memberi dukungan saja,tapi menjadi wadah saya untuk ‘Belajar’. Banyak yang bisa saya jadikan ilmu dari sebuah nama BOBOTOH & PERSIB.

Bagaimanapun,kita sebagai Bobotoh tak boleh melupakan hakikat kita yang sebenarnya sebagai manusia sewajarnya. Fanatik boleh tapi dalam arti Positif jangan sampai melupakan kewajiban utama kita, bahkan sampai melupakan Orangtua. Apalagi melupakan pekerjaan, melupakan pendidikan/sekolah, melupakan Ibadah dsb. Yang bisa saja berimbas tidak baik nantinya.

Ambilah sisi dan nilai-nilai positifnya, jadikanlah PERSIB sebagai ‘motivator’ kita dalam arti sumber inspirasi dan belajar. Sama halnya Orangtua yg selalu mendukung kita, kita jadikan sumber belajar dalam mendukung Persib secara positif. Demikian juga kita dalam mendukung Persib jadikan lah sumber ilmu untuk mensupport kita pribadi untuk melakukan kegiatan dan kewajiban utama kita yang lain,agar tidak melulu bahwa Suporter bola itu khususnya bobotoh di ‘cap’ jelek. Mari kita ubah paradigma tersebut dari sekarang. Jadilah Bobotoh dan mendukung Persib dengan Ikhlas tanpa harus mengorbankan kewajiban dan memaksakan kehendak.  Nisbar Anggranie Pertiwi (@NISBAR23)

Catet!

Sepertinya ga perlu lagi komentar ya. Saluyu dengan konteks bahwa Bobotoh harus bisa berperilaku “nyunda, nyakola, nyantri nyeni pun hayu”.

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.