Menuju Suporter Indonesia Bersatu (Opini)

Konvoy

Bicara sepak bola, bukan hanya sebatas cabang olahraga, permainan yang indah, bisa menjadi masalah hidup dan mati untuk beberapa klub & pendukungnya. Rasa gengsi, budaya serta daerah, dan segala bentuk perbedaan berkontribusi terhadap keganasan ini.  Dan, pemain pun dalam pertandingan tersebut memutuskan apakah mereka akan selamanya dicintai atau dibenci. Sebuah kesalahan atau momen magic sesaat dapat menciptakan sejarah, tetapi juga dapat mengakibatkan gesekan, perkelahian, bentrokan dan kerusuhan yang tentunya merugikan.

Pertandingan derby mungkin menjadi sorotan,dimana kedua tim yang mempunyai sejarah sepak bola yang kental atau pun gengsi tim satu regional, bertemu. Memiliki fans/suporter fanatis ikut andil saat seteru memanas di lapangan terbawa ke luar dan biasanya menjadi ‘permusuhan’ yang mengakar. Ya, fanatisme berlebih yang melupakan filosofi awal sepakbola sebenarnya sebagai alat persatuan.

Mungkin, terlihat tabu saat nyawa yang melayang sia-sia itu hanya karena sepak bola, tapi itulah realitanya saat ini. Di tanah air, juga tak bisa kita hindari layaknya culture yg mengakar. Dalam sepakbola di Indonesia semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ menjadi tak berlaku. Kericuhan di tubuh federasi sampai kepada suporter sudah menjadi tontonan kita sehari-hari.

27 mei 2012, rasanya semuanya akan berakhir dan seakan menjadi titik terang untuk keduanya berdamai, sesaat sebelum kick off Persija vs , semua pemain dari kedua tim yg terlihat  membentangkan banner yg bertuliskan “The jakmania Viking Bersatulah !” Perlu diapresiasi memang, walaupun apa yg dilakukan adalah hal kecil, tapi imbasnya cukup positif bagi kedua suporter yg sedang berselisih. Tapi, itu hanya penghias sementara,dan kembali tak berarti. Setelah pertandingan itu berakhir, yaa tragis. Kembali oknum yg tidak tahu apa arti fanatisme yangg sesungguhnya sebagai suporter. mencederai arti sportifitas rival sebenarnya. Apa harus selalu dibayar dengan nyawa ? Anda sebagai suporter menunjukan kebanggaan terhadap tim yg kalian ‘elu-elukan’.

Tak berhenti disitu,layaknya kisah tak berujung,pada musim lalu atas inisiatif Menpora Roy Suryo waktu itu yang seakan ‘memaksa’ dan tergesa-gesa membuat gebrakan mempertemukan kedua suporter dalam satu stadion. Perlu di apresiasi memang, cukup berhasil tapi masih saja terjadi gesekan dan keributan dari kedua suporter yang kala itu bermain ditempat yang dinilai netral di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Seakan tak habis fikir dan cara,banyak pihak yang peduli dan ingin membantu setidaknya ‘mendinginkan’ suporter kedua klub agar bisa duduk bersama yang bisa membawa kepada tujuan akhirnya menuju kata kesepakatan damai. Terakhir, selang beberapa pekan lagi menuju yang katanya ‘El-Clasico’-nya indonesia itu, ada sepercik harapan saat dari pihak keamanan dalam hal ini kepolisan daerah setempat atas lanjutan ‘batal’-nya pertandingan sebelumnya dengan mengundang pihak yang berseteru suporter Viking dan Jakmania untuk bisa bertemu dan duduk bersama dengan mengusung tema ‘Islah’. Memang terjadi beberapa kesepatan hitam di atas putih yang kemudian ditandatangani kedua belah pihak, tapi masih saja ada sebagian yang melihat itu hanya sebagai momen ‘numpang lewat’ dan ‘pencitraan’ saja.  Beberapa oknum yang ikut memanfaatkannya dibelakang atas nama ISLAH’. Apalagi, pro dan kontra mencuat saat pihak keamaanan mengizinkan suporter Jakmania untuk datang ke stadion mendukung timnya saat bersua Persib di laga ‘el clasico nanti.

Diluar itu,kita berharap semoga ‘el clasico’ yang hanya hitungan hari itu akan berlangsung aman dan lancar tanpa ada hambatan lagi apapun. Bertolak belakang,bila dilihat dari sisi historis PERSIB dan Persija adalah salah satu tim yg berjasa dalam merintis terbentuknya PSSI,federasi tertinggi sepakbola Indonesia. Saat itu PSSI dan sepakbola dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa dalam menentang kolonialisme.Dan di era modern saat ini,semua itu menjadi tidak berlaku dan beralih haluan dari arti yg sebenarnya. Bahkan lebih menjurus menjadi sumber pemecah persatuan. Miris dan tragis memang.Tapi itulah faktanya yg terjadi apabila fanatisme berlebih tanpa mengindahkan Persatuan dan rasa damai.

Belum terlambat,marilah jadikan FANATISME sebagai alat menebarkan rasa damai menuju SUPORTER INDONESIA BERSATU.
Stop Rasisme & anarkistis!Usep Dedi K. Hendrawan (@ubel4persib/bobotoh.id)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.