Review Paruh Musim Persib di ISL 2014

review

Putaran pertama Indonesia Super League (ISL) 2014 telah berakhir. Tak begitu manis memang untuk karena di dua laga terakhirnya yang digelar di Bandung hanya meraih satu poin.Namun demikian, PERSIB tetaplah memberikan hasil yang bagus di sepanjang paruh pertama ini. Finish di klasemen sebagai runner up setidaknya menjadi bukti kualitas Djadjang Nurdjaman dalam meracik .

Jalan masih panjang dan terjal untuk ke tangga juara. Masih ada putaran kedua, Babak Delapan Besar, hingga (semoga) partai final yang harus ditempuh sang Pangeran Biru. (Jangan lupa pula kalau PERSIB masih punya gelar lain yang tengah dibidik, yakni turnamen pramusim Inter Island Cup 2014 yang hingga kini belum ada kepastian kapan finalnya akan digelar).

Kalau tim performance analysis sudah melaporkan evaluasinya ke manajemen, berikut ulasan perjalanan Maung Bandung di sepanjang putaran pertama lalu versi tim PERSIB.co.id. Selamat menikmati.

1. Gol Babak Pertama Tak Pernah Tercipta di Kandang

Total sudah 17 gol ditorehkan PERSIB dari 10 pertandingan. Secara rataan gol, hal tersebut merupakan hasil bagus. Artinya, PERSIB mampu mencetak 1,7 gol per pertandingannya.

Namun sayangnya, dari 17 gol itu hanya tiga gol yang mampu dicetak PERSIB di babak pertama. Menariknya, tiga-tiganya hanya mampu dicetak saat away.

Uniknya lagi, tiga gol di babak pertama ini mampu menghasilkan kemenangan bagi PERSIB di laga away tersebut. Gol-gol tersebut adalah gol Djibril Coulibaly di menit ke-21 saat mengalahkan Barito Putra 2-0, serta dua gol Ferdinand Sinaga di menit ke 5 dan 43 saat menghajar Gresik United 4-1.

Dari data di atas tersirat kalau lini depan PERSIB masih kesulitan jika bermain di kandang. Apakah Maung Bandung belum bisa mengontrol dukungan dari yang kemudian malah berbalik menjadi pressure? Entahlah, yang pasti hal ini harusnya menjadi catatan untuk memuluskan target menyapu bersih partai kandang di putaran kedua nanti.

2. Pertahanan di Kandang Masih Kurang Koordinasi

Kebobolan 8 gol dari 10 laga memang terhitung lumayan untuk pertahanan PERSIB. Apalagi 3 kali I Made Wirawan mencatatkan clean sheet.Namun, pencapaian lini belakang Maung Bandung itu masih kalah jauh dari Arema Cronous yang baru kebobolan 4 gol. Malah, bek-bek PERSIB juga masih kalah tangguh dengan lini pertahanan Persija yang baru kebobolan 7 gol saja.

Dari 8 gol itu, satu tercipta karena gol bunuh diri Supardi saat menjamu Semen Padang serta satu blunder Vladimir Vujovic yang berujung gol Syamsul Arif saat PERSIB menjamu Arema.

Hal itu bisa sedikit ditolelir karena duet Jufriyanto dan Vladimir Vujovic baru musim ini berada di antara Tony Sucipto serta Supardi dan berada di depan I Made Wirawan. Namun, sebagai pemain profesional hendaknya mereka harus segera beradaptasi dan berkoordinasi dalam merapatkan barisan.

Terlihat, lagi-lagi trend buruk di kandang juga merembet di lini belakang. Kurang koordinasinya bek-bek PERSIB itu berujung lima gol kemasukan di kandang. Jumlah yang separuh lebih dari jumlah kebobolan PERSIB musim ini.

PR besar kini bagi Djadjang Nurdjaman yang paruh pertama ini cukup sukses membawa PERSIB gemilang di lima laga away. Maung Bandung hanya sekali kalah dan sekali seri, sementara tiga laga di Kediri, Barito dan Gresik berakhir dengan kemenangan. Tapi di kandang, PERSIB melempem.

Mampukah Djadjang mengembalikan kembali mental garang Maung Bandung jika bermain di kandang? Kita lihat saja di putaran kedua nanti.

3. Kesulitan Menghadapi Tim Yang Bertahan Total

Filosofi ‘pertahanan terbaik adalah menyerang’ sepertinya memang digunakan Djadjang Nurdjaman. Seluruh laga PERSIB di putaran pertama lalu, dapat dipastikan Maung Bandung selalu tampil terbuka, menekan, dan menguasai possession sepanjang 90 menit. Baik kandang atau tandang.

Hasilnya, PERSIB gemilang saat di away. Sebab, mereka diladeni oleh tim tuan rumah yang  tak mau malu dengan bermain negatif di kandang sendiri.

Masalah datang saat bermain di Bandung. Tim-tim tamu yang datang kerap bermain bertahan dengan sesekali menyerang balik. Sebut saja, Persita Tangerang, Sriwijaya FC, Semen Padang, Persija Jakarta, hingga Pelita Bandung Raya (PBR) yang bertindak sebagai tim tamu lalu. Hanya Arema Cronous seorang yang berani bermain terbuka di Si Jalak Harupat.

Arema yang bermain terbuka mampu dikalahkan dengan come back manis. Dari tertinggal 0-2 menjadi 3-2. Tapi seluruh lawan yang datang ke Bandung dikalahkan dengan susah payah seperti Persita dan Sriwijaya.

Tim besutan Djadjang Nurdjaman malah buntu dan kalah saat melawan Semen Padang dan PBR yang bertahan total dan mencuri gol melalui serangan balik. Parkir Bus ala Persija juga membuat Maung Bandung buntu.

Hal ini menarik untuk ditunggu di putaran kedua. Sebab, PERSIB baru saja mendapatkan pelajaran besar jika mereka mengubah gaya bermainnya menjadi sedikit negatif. Saat melawan Ajax Amsterdam lalu, Firman Utina dkk justru diinstruksikan untuk bertahan dan melancarkan serangan balik dari sayap. Hasilnya, Maung Bandung mampu menahan tim asal Belanda itu 1-1.

Apakah Djadjang akan mengubah filosofi gaya bermainnya di putaran kedua? Well, kita lihat saja nanti.

4. Kesempatan Masih Minim Untuk Pemain Muda

Dari 10 laga yang telah dilakoni, Djadjang belum banyak memberikan kesempatan pemain muda seperti Sigit Hermawan, Rudiyana atau pun M Agung Pribadi. Ketiganya lebih banyak diturunkan di laga uji coba saja.

Berbeda dengan Sigit dan Agung yang belum merasakan panggung ISL musim ini, Rudiyana sudah tampil dua kali. Yakni selama lima menit saat melawan Gresik United dan 30 menit saat menjamu Persija Jakarta lalu.

Memang, semua itu dilakukan Djadjang karena lebih kebutuhan tim dengan melihat pertandingan yang ada. Toh, para pemain ini masih kalah bersaing dengan barisan pemain yang ada.

Namun, hendaknya Djadjang mulai melihat pelatih klub-klub lain yang berani memilih pemain debutan dan U-23 untuk menjadi starter. Sebut saja Suharno dengan Irsyad Maulana di Arema, Benny Dolo dengan Dany Saputra, Syahrizal dan lainnya. Tak cuma demi kebutuhan tim, memberikan kesempatan pemain muda demi tim di masa datang setidaknya sudah dilakukan mereka.

Walau demikian, kegundahan akan minimnya kesempatan pemain muda Bandung sedikit mulai teratasi. Di penghujung laga musim lalu, Djadjang memberikan kesempatan selama 30 menit kepada Rudiyana. Sebuah tanda bahwa di musim kedua nanti bisa saja ia mempercayakan penuh para pemain mudanya.(bobotoh/Fajar Rahman/persib/ar).-

Komentar

Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.