Drama Dua “Raja”, Spanyol Menangis

raja spanyol

Tak hanya akhir kekuasaannya sang raja di negaranya yang berakhir dramatis, pun harus menelan akhir dramatis bahkan tragis dalam , dalam satu hari yang sama, Rabu (18/8/2014) malam waktu setempat. Sang raja sepak bola ini harus angkat koper setelah dua kali kalah, termasuk kekalahan telak 1-5 saat berhadapan dengan Belanda. Sang juara bertahan pun dipastikan meninggalkan Brasil setelah kembali kalah 0-2 dari Cile.

Pada hari yang sama, Raja Juan Carlos yang memimpin Spanyol menghadapi hujan, badai, maupun terang kehidupan bernegara selama 44 tahun, menandatangani dokumen turun tahta dengan berlinang air mata. Bersamaan, para pemain tim nasional Spanyol pun menangis bak anak perempuan setelah 90 menit yang menjungkalkan mereka dari tahta dan segala sanjung-puji yang mengiringi keberangkatan mereka ke Piala Dunia 2014.

Lesakan bola dari tendangan Eduardo Vargas dan Charles Aranquiz, bak pukulan telak yang membungkam sejarah panjang sepak bola Spanyol yang dipenuhi panji-panji kemenangan dan trofi. Stadion Maracana di Rio de Janeiro menjadi saksi kejatuhan “sang raja” yang sempat digadang sebagai tim ideal calon pemenang ajang empat tahunan ini. Bola terbukti bundar, menyingkirkan segala prediksi, dengan mengirim pulang Spanyol dan Australia di antara empat tim di Grup B Piala Dunia 2014.

“Ini adalah hari yang menyedihkan bagi kita semua,” kata pelatih Spanyol Vicente del Bosque, seusai pertandingan. “Kami mohon maaf kami tidak berhasil tapi sekarang terlalu dini untuk menganalisis penyebabnya.”

“Kami kalah saat berhadapan dengan Belanda dan Cile. Mereka punya tujuan dan memberi kami gunung untuk didaki,” lanjut Bosque, menggambarkan tantangan yang dihadapi skuadnya dalam 90 menit dramatis di Maracana.

Timnas Spanyol berangkat ke Brasil dengan sebuah kilap prestasi global, setelah menjadi juara bertahan dari ajang yang sama sebelumnya, Piala Dunia 2010, ditambah dua kali berturut-turut memenangi Piala Eropa pada 2008 dan 2012. “World Failure” menjadi judul headline koran utama Spanyol, El Mundo. “Failed!” judul headline harian olahraga beroplah terbesar di Spanyol, Marca. “Sebuah perpisahan yang menyedihkan dari juara dunia.”

Kepulangan tim nasional Spanyol setelah kekalahan berturut-turut di dua laga awal menempatkan skuad ini dalam daftar juara bertahan yang terjungkal di babak pertama. Di dalam daftar itu ada Italia (1950 dan 2010), Brasil (1966), dan Perancis (2002). Del Bosque sudah memperlihatkan gelagat kejatuhan ketika tak menurunkan gelandang veteran Xavi dan bek Gerard Pique untuk pertandingan melawan Cile.

Namun kesalahan terbesar Del Bosque adalah tetap memasang Iker Casillas yang terbukti menjadi bumerang terbesar. Casillas yang juga kapten tim, “menyumbang” peran untuk gol kedua Cile, saat tepisan bolanya mengarah ke depan alih-alih menyamping, disambut tendangan Aranquiz dan menjadi gol kedua Cile. Aranquiz juga punya andil menjebol gawang Casillas untuk gol pertama yang diselesaikan dengan baik oleh Vargas dalam serangan balik.

“Saya tidak bermain dengan baik dan tidak memimpin tim seperti pada umumnya,” kata Casillas dengan murung. “Sekarang kami harus lebih bersatu dan menyelesaikan ini dengan cara yang paling bermartabat yang dimungkinkan.”

Peluit akhir petandingan memicu delirium di seantero Maracana, stadion yang dipadati penonton dengan komposisi jauh tak berimbang antara fans Spanyol dan Cile. Meski jelas sangat jauh kalah jumlah, pendukung tim Cile meraung dan terus mengelukan tim mereka. Bukan rahasia pula, bahwa fans Cile sampai harus mencuri-curi masuk stadion bahkan memaksa, karena tak bisa membeli tiket.

Kepulangan sangat awal Spanyol ini melengkapi drama lain yang lebih awal bermula di dalam negerinya. Sang raja yang selama empat dekade memimpin negara ini melewati beragam hujan, badai, dan terang, pada hari yang sama menandatangani dokumen pelepasan mahkota. Drama panjang dan drama 90 menit, pada satu hari di bulan Juni. Spanyol menangis. (bobotoh.id/kompas/ayc)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.