Vidyah, Pertama dan Hiji-hijina Relawan Indonesia di Piala Dunia Brasil 2014

Vidyah PayapoTimnas Indonesia tidak lolos ke di , 13 Juni–13 Juli 2014. Namun, Indonesia ’’sukses’’ meloloskan Vidyah Payapo al Qadry sebagai satu-satunya volunter yang akan bertugas selama berlangsungnya pesta sepak bola terakbar itu.

Hati Vidyah Payapo al Qadry begitu bungah setelah 24 April 2014 mendapat e-mail istimewa. Rasa bahagia bercampur haru menjadi satu.

Ya, e-mail itu datang dari panitia Piala Dunia 2014. Isinya mengonfirmasi dan mengumumkan bahwa gadis 23 tahun itu dinyatakan lolos seleksi rekrutmen relawan (volunter) even sepak bola empat tahunan tersebut. Hebatnya, dia menjadi orang pertama dan satu-satunya dari Indonesia yang terlibat dalam ajang itu.

Meski “hanya” menjadi volunter, perjuangan Vidyah untuk mendapat kesempatan itu pantas diacungi jempol. Betapa tidak, dia harus berkompetisi melawan 152 ribu orang dari seluruh dunia untuk memperoleh tiket itu. Prosesnya pun tidak gampang. Dia mesti mengisi aplikasi yang disediakan panitia dan menjawabnya dengan tepat. Bahasa Inggris-nya pun harus bagus.  Dari 152 ribu pelamar, panitia memilih 15 ribu relawan dari berbagai negara. Seorang di antaranya adalah Vidyah.

Bagi Vidyah, lolos seleksi ke Brasil itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebab, sejak kecil, dia sangat ingin berkunjung ke negara di Amerika Latin itu. Meski perempuan, dia termasuk gibol (gila bola) dan fans berat tim Samba, julukan timnas Brasil.

Pemilik akun twitter @vidyahpooh itu mengikuti seleksi volunter Piala Dunia 2014 pada September 2013.  Awalnya, dia hanya iseng dengan mencari informasi via internet. Sebab, sebelumnya dia sukses menjadi volunter sebuah acara internasional di Bali berkat iseng juga.

Seleksi itu berlangsung dalam beberapa gelombang dan dimulai pada 2012. Vidyah mengikuti seleksi gelombang terakhir pada September 2013. Sebulan kemudian, dia mendapat pemberitahuan telah lolos seleksi administratif melalui aplikasi yang dikirimkan.

Proses selanjutnya, Vidyah harus menjalani tes wawancara dengan panitia. Hanya, dia tidak perlu terbang ke Brasil atau markas FIFA di Swiss. Sebab, wawancara dilakukan melalui Skype pada tengah malam 22 November 2013.

Selama sebulan, Vidyah mempersiapkan diri untuk menghadapi wawancara itu. Dia harus mencari pengetahuan tentang FIFA, profil para bintang, asal klub, hingga tetek-bengek soal Piala Dunia sejak pertama digelar pada 1930 sampai edisi 2014 yang dimulai 13 Juni nanti.

Dara kelahiran Ambon itu juga mempelajari 32 negara peserta pada 2014 dan kota-kota yang dijadikan venue pertandingan nanti. Dia mesti menghafalkannya di luar kepala.

Namun, pada hari H wawancara, pertanyaan yang diajukan panitia ternyata melenceng jauh dari yang disiapkan. Bahkan tak satu pun yang dipelajarinya ditanyakan ketika wawancara selama sekitar 30 menit itu.

Misalnya, Vidyah diminta mendeskripsikan dirinya, sikapnya menghadapi orang yang emosional, dan bagaimana jika kangen dengan keluarga di rumah. Selain psikotes, kemampuan bahasa asing Vidyah diuji. Setiap pelamar memang disyaratkan menguasai minimal dua bahasa asing. Vidyah memang piawai berbicara dalam bahasa Inggris dan Spanyol. Untuk bahasa Inggris, peserta harus memiliki TOEFL di atas 500. Sedangkan untuk bahasa Spanyol minimal A2.

Setelah tes wawancara itu, Vidyah harus menunggu pengumuman hasil seleksi sekitar tujuh bulan. Dia dibuat tidak sabar mengetahui hasilnya. Karena itu, tak heran bila pada 24 April 2014, panitia Piala Dunia akhirnya mengumumkan bahwa Vidyah lolos ke Brasil. Alangkah bahagianya dia.

Selanjutnya, dia harus mengisi kesanggupan-kesanggupan selama bertugas menjadi relawan bagi penyelenggaraan Piala Dunia di Brasil. Vidyah juga diminta memilih kota yang diinginkan dan shift jaga.

Awalnya, Vidyah meminta ditempatkan di Rio de Janeiro atau Brasilia. Tapi, kuota volunter untuk dua kota itu telah penuh. Akhirnya, dia ditempatkan di Porto Alegre. Di kota itu ada tiga pertandingan pada 14–30 Juni 2014. Yakni Prancis melawan Honduras, Nigeria versus Argentina, dan Korsel melawan Aljazair. Meski begitu, dia baru akan pulang setelah pergelaran Piala Dunia berakhir, 13 Juli 2014.

Melihat negara yang tampil, Vidyah merasa perlu membekali diri dengan satu bahasa asing lagi. Yakni bahasa Portugis. Sebab, beberapa negara yang berlaga menggunakan bahasa itu.

“Karena itu, sekarang saya mempelajari bahasa Portugis. Ke mana-mana, saya bawa catatan bahasa Portugis karena memang bahasanya sedikit beda. Seperti bahasa Malaysia dan Indonesia,” ucap alumnus jurusan hubungan internasional Universitas Paramadina, Jakarta, itu sambil menunjukkan buku catatannya.

Perjuangan Vidyah tak berhenti sampai di situ. Setelah dipastikan lolos dan diputuskan untuk mengikuti training di Brasil mulai 9 Juni 2014, dia harus berpikir cara berangkat ke negeri Samba. Sebab, panitia hanya menyediakan uang lelah dan kelengkapan tugas, mulai jaket, celana, sepatu, sampai topi. Sementara itu, tiket pesawat berangkat dan pulang dari Brasil menjadi tanggungan masing-masing volunter.

Dia pun terpaksa mencari sponsor. Kebetulan ada pamannya yang bekerja di Kementerian BUMN. Akhirnya, Vidyah memberanikan diri untuk menemui Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Pertemuan dengan pemenang Konvensi Capres Partai Demokrat itu menjadi berkah bagi Vidyah. Sebab, dua perusahaan BUMN siap mensponsori dirinya. Yakni Garuda Indonesia Airways dan Pelindo. Hanya, lantaran Pelindo lebih dahulu menyatakan kesediaan, perusahaan itulah yang akhirnya menerbangkan Vidyah ke negara penghasil para bintang sepak bola itu.

 “Visa, tiket flight pulang-pergi, dan akomodasi ditanggung Pelindo. Alhamdulillah, saya jadi bisa berangkat,” ungkap gadis berdarah Ambon-Arab itu.

Total kebutuhan Vidyah selama di Brasil mencapai Rp60 juta–Rp 70 juta. Nominal itu memang tidak sebanding dengan uang lelah yang akan diberikan panitia untuk volunter yang tidak seberapa besar. Tapi, Vidyah tak mempersoalkan.

Kini selain bersiap berpisah dari orang tua dan menjalankan puasa di negeri orang, Vidyah sedang mempersiapkan barang bawaan. Dia akan membawa makanan kesukaan, seperti dendeng, abon, mi instan, dan beberapa makanan ringan khas Indonesia. Bekal itu sangat penting bagi Vidyah karena tidak mudah mencari makanan halal di Brasil. Apalagi, dia nanti harus menjalankan ibadah puasa Ramadan di negeri orang.

(bobotoh.id/radarlampung/berbagai/sumber/AH)

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.