ALQANNUN DARI IBNU SINA | Jadi rujukan Dokter sa alam dunya

ibnuNamanya relatif panjang, tapi orang lebih mengenalnya sebagai Ibnu Sina—orang Barat menyebutnya Avicenna. Di masa kini, namanya kerap disebut kembali ketika orang mencoba menelusuri jejak historis perkembangan ilmu kedokteran hingga ke masa sebelum Eropa bangkit dari tidur panjangnya.

Lahir di dekat Bukhara, Uzbekistan, pada 980 Masehi, Ibnu Sina dikenal sangat pintar sedari kanak-kanak. Ia menjadi ‘dokter’ pada usia 16 tahun dan pasien pertamanya adalah sang ibu. Namanya kian menjulang ketika Ibnu Sina berhasil menyembuhkan penguasa Dinasti Samaniyah dari infeksi pencernaan.

Jamak bahwa orang pintar diperlukan oleh penguasa untuk menopang kekuasaannya, sekurang-kurangnya sebagai pertanda keberpihakan kepada ilmu pengetahuan. Ibnu Sina ditawari jabatan tinggi di kerajaan, tapi ia lebih memilih akses ke dalam perpustakaan kerajaan yang menyimpan koleksi luar biasa.

Sebagaimana umumnya para ilmuwan abad itu, yang meminati berbagai disiplin ilmu, Ibnu Sina memelajari logika, geometri, dan astronomi, serta fisika dan metafisika. Ia memperoleh reputasi tinggi sebagai dokter praktik. Ia belajar metafisika dari karya al-Farabi.

Sebagai sosok yang lekas belajar (learning agile), dengan minat yang amat luas, pengetahuan dan keterampilan medis Ibnu Sina semakin meningkat. Prestasinya yang menjulang membuat Ibnu Sina diperebutkan para penguasa masa itu. Mereka perlu dokter yang andal agar tetap hidup sehat dan bertahan lama di singgasana.

Bagi Ibnu Sina, ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat sebagai guru maupun dokter jauh lebih berharga ketimbang menjadi orang dekat penguasa. Penjara, karena itu, menjadi bagian tak terelakkan dari kehidupan Ibnu Sina. Ia berusaha keras menghadapi siasat jahat, intrik dan tipu daya, dendam, maupun kedengkian orang-orang yang mabuk kuasa.  Ibnu Sina paling dikenang berkat karya terpentingnya tentang ilmu kedokteran, Alqannun Fit Tib.

Alqannun dengan isinya yang ensiklopedis, susunannya yang sistematis, dan perencanaannya yang filosofis, segera menempati posisi terkemuka literatur kedokteran pada masanya,” tulis sejarawan Phillip K. Hitti. “Karya ini menggantikan karya-karya Galen, al-Razi, dan al-Majusi, dan menjadi buku teks pendidikan kedokteran di sekolah-sekolah di Eropa.” Hingga 5 abad lamanya, Alqannun menjadi rujukan akademis di dunia Barat. (.id/HP/Tempo.co)

 

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.