DIBALIK RICUH SUPORTER MENGBAL INDONESIA

Bobotoh.id- Situasi tidak mengenakkan sempat tercipta di Kota Jakarta pada Sabtu (17/10) hingga Minggu (18/10). Beberapa insiden berupa perusakan mobil maupun kericuhan antara massa dan polisi sempat tercipta. Beragam kejadian tersebut ditengarai tidak lepas dari hajatan sepak bola berupa final Piala Presiden yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Laga yang mempertemukan Sriwijaya FC dan Persib Bandung itu memang membuat suasana ibukota “mendidih”. Hal itu sampai membuat Kepolisian Daerah Metro Jaya memberlakukan status Siaga 1 di Jakarta. Putusan tersebut merupakan langkah antisipasi potensi bentrokan antara oknum pendukung Persib dan Persija Jakarta yang dikenal sering bersitegang. Pilihan itu sangat tepat. Pasalnya, meski sudah dilakukan pengamanan maksimal, masih saja ada oknum yang mencoba memicu keributan.

Kenyataan itu tidak mengenakkan. Namun, begitulah realitas kondisi sepak bola di Indonesia. Ricuh antarsuporter masih sering tercipta.

Beragam alasan yang mendasari kejadian tersebut. Namun, secara umum, jika diperhatikan, para pelakunya justru para remaja yang masih muda. Merekalah yang masih sulit dikendalikan, sehingga kerap melakukan aksi tidak terkontrol.

Bisa jadi para remaja itu memandang sepak bola secara salah kaprah. Rasa cinta mereka terhadap olahraga ini maupun tim kesayangannya justru diragukan. Pasalnya, mereka lebih fokus berkegiatan dalam kelompok-kelompok suporter ketimbang menikmati pertandingan di atas lapangan.

Ada kemungkinan, para remaja itu menjadikan sepak bola sebagai sarana memperoleh pengakuan dari kelompoknya. Namun, langkah yang mereka ambil keliru.

Mereka senang menciptakan musuh bersama. Lalu, agar mendapat pengakuan atau respek di kelompoknya, para remaja itu melakukan kekerasan atau aksi tidak bertanggung jawab. Menyerang kelompok suporter lain yang dianggap sebagai seteru merupakan wujud konkritnya.

Para remaja itu berpikir, jika melakukan kekerasan, posisinya di komunitasnya akan berubah. Mereka bakal lebih dihargai dan diakui keberadaannya.

Logika pikir mereka sebenarnya mirip dengan budaya maskulinitas secara umum. Pria diharapkan untuk bertindak dan berlaku macho. Salah satu wujudnya adalah melakukan kekerasan yang dipandang sebagai sebuah bentuk superioritas.

Pola pikir keliru seperti itulah yang dicurigai sudah merasuk ke beberapa oknum suporter sepak bola terutama para remaja yang belum bisa berpikir panjang. Alhasil, keributan masih terus tercipta, meski sejatinya pengurus resmi kelompok suporter sudah berkomitmen damai.

Selama pemikiran itu masih ada, rasanya sulit untuk membuang kekerasan dari sepak bola Indonesia. Ricuh dari oknum suporter masih bakal terus terjadi. Kekerasan demi kekerasan masih akan terus tercipta. (Bobotoh.id/nationalgeographic/foto.liputan6)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.