PAMAÉN BOLA DI INDONESIA KURANG GIZI ?!

Kita akan belajar dari Christian Bekamenga dan Redouane Barkoui tentang pemain yang kurang gizi.

Saya akan memulainya dari perbincangan saya beberapa tahun yang lalu, waktu masih dilatih Alfred Riedl. Saya ngobrol sama orang PSSI tidak usah saya sebut namaya, terkait latihan, keberangkatan tim muda kita untuk latihan, melakukan TC disalah satu negara Amerika Latin yang dianggap memiliki football development yang baik .

Jadi ternyata orang itu ngomong ke saya, bahwa ini dari awal juga tim sononya, para pelatih, para instruktur dari negara yang bersangkutan udah mengatakan bahwa tim ini gak akan bisa maksimal. Loh kenapa bisa mengatakan seperti ini, belum dimulai juga latihannya?

Mereka mengatakan, pemain anda kurang gizi. Ngebandinginnya jangan sama kita-kita yang ukuran jelema biasa, makan seenaknya, gak pernah olah raga. Jadi kalau dibandingin sama kita-kita atau atlet Indonesia, mereka bagus bagus, badan tinggi, tangan besar, kaki besar.

Tapi ternyata Instruktur di negara tujuan itu mengatakan, bahwa pemain ini bibitnya jelek. Kenapa ga di ekspose ke publish? ini cari perkara, mereka yang milih, mereka yang kirim, ini proyek mereka. Tiba-tiba mereka bilang ini tim gagal, nanti mereka yang dihujat. Jadi diem-diem saja.

Jadi kenapa pemain kita kurang gizi?

Yang pertama proteinnya kurang, banyak dari mereka yang gak suka minum susu. Jadi di setiap kamar disiapin susu sama instruktur sana. Itu gak pernah abis, mungkin ya, ketahuan juga ada yang ngebuang. intinya gak suka minum susu.

Komposisi tubuh pemain indonesia itu lebih banyak daging daripada otot. Jadi sekali lagi jangan liat mereka tinggi besar. Itu daging bukan otot. untuk ukuran kita bagus, untuk ukuran urang-urang yang bukan atlet, tapi kalo dilihat serius ya gak ideal, karena komposisinya lebih banyak massa daging dan bukan otot.

Tahu pemain yang namanya Tore Andre Flo, itu kan kurus banget, tapi tendangannya keras, larinya kenceng. Dari penampakan kurus tapi isinya otot semua. Tibatan aya jelema jangkung gede, tapi daging, massa ototnya kurang.

Ketiga, ternyata pemain-pemain muda yang dikirim kesana giginya banyak berlubang. Itu jangan dianggap sepele karena berpengaruh pada konsentrasi dan refleks/reaksi terhadap bola. jangan sepelekan lubang di gigi, itu berpengaruh sepersekian detik reaksi orang.

Cerita di Manchester United (MU), ditemukan fakta bahwa beberapa pemain MU giginya berlubang, nah itu heboh banget kalo di Inggris sana. Kalau ada bola di depan, orang itu giginya ga berlubang, itu reaksinya cepet, bisa nyundul bisa apa gitu. Tapi kalau orang dengan gigi yang berlubang, gigi yang ga sehat itu akan terlambat sepersekian detik aja, itu berpengaruh di sepak bola.

Berikutnya adalah karena para pemain muda kita itu badannya berjamur, kotoran yang membuat beberapa hal terkait metabolisme+nutrisi tak maksimal. Di negara lain itu sport science itu berkembang dengan pesat. Jadi hal-hal seperti ini jadi perhatian. Di urang mah boro-boro.

Lalu hubungan dengan Bekamengan dan Barkoui?

Saya deket dengan Barkoui karena saya lumayan dekat bahkan kadang-kadang kami makan bareng.

Ada pengalaman dengan Bekamenga. Waktu itu mess masih di Jalan Bali. Waktu itu, makan siang abis latihan, Bekamenga makan, setelah makan dia menyiapkan suplemen-suplemen.

Saya tanya, makan sudah banyak kok makan suplemen. Dia ngomong, oya makanan yang tadi saya makan memang baik, tapi masih kurang untuk seorang atlet, makan banyak bukan jaminan. Jadi dia pilih-pilih juga, daging yang banyak nasinya dikit. Karena pertimbangan seorang pemain ketika makan ga sembarangan. jadi ada yang namanya kalori yang dibutuhkan. Semisal, untuk kita yang bukan atlit mungkin hanya membutuhkan sedikit kalori untuk aktivitas sehari-hari, tapi pemain bola bisa sampe 2-3 kali lipat. jadi mereka selektif milihnya, kalori yang dibutuhkan berapa dan dapat darimana. Menu makan di PERSIB (saat itu) mungkin dianggap oleh pemain-pemain yang cukup profesional seperti pemain asing, itu belum mencukupi kalori mereka. jadi mereka harus menambah suplemen.

Jadi Bekamenga mengatakan, makanan ini bagus untuk kalian, para suporter, wartawan dll, tapi kurang untuk pemain bola seperti saya.

Lalu Barkoui… setiap saya makan sama dia. Di nasi timbel Istiqomah misalnya. Beberapa kali makan sama dia, Barkoui itu kalau makan daging, ayamnya bisa dua sampe tiga potong. Tapi nasinya itu, setengah doang. Jadi Barkoui itu nyari kalorinya. banyak proteinnya.

Jadi pilihan menjadi pemain bola itu komitmen jangka panjang. Salah satunya komitmen untuk memilih makanan yang tepat untuk kebutuhan mereka.

Gimana pemain kita? untuk lokal, saat ini pemain Persib mah eweuh tandingan, tapi kita kan bicaranya Asia. apa yakin kita dia asia cukup bicara? jangankan Jepang sama Korea, lawan Vietnam aja kewalahan. Harus intropeksi, banyak yang perlu dibenahi. Termasuk didalemnya menu makan pemain kita. jadi saya sudah ceritakan.

Ada satu pemain, dia mantan icon Persib, pasti kenal. Waktu maen di Persib itu dia absen bermain gara-gara sakit tifus dan kalau kita perhatikan, kita melihat, dia itu tukang jajan makanan. Jadi sukanya makan cuanki. Sedangkan pemain bola itu butuh nutrisi, kalori, proteinnya Gizi banyak karena latihannya banyak, tapi mereka makannya cuaki, baso tahu, mie ayam. Bagi sebagian orang mungkin melihatnya bagus,berkomentar “alus merakyat”, teu legeg teu naon, tapi itu juga pandangan yang keliru, bukan masalah merakayat atau ngga nya.

harusnya sebagai pemain profesional dia berkomitmen sama asupan dia, dia sering banget sakit.

Ada lagi pemain yang saya ketemu dia tuh di darmo, bobotoh tau darmo? Waktu itu kan persib nginepnya di Jalan Bali, banyak jajanan kaya bebek goreng, pecel lele. Ini pemain doyan juga jajan disitu. yang digoreng pake minyak jelantah.

Saya tanya, kenapa makan disini, dia jawab, ini gurih, enak. Pemain kita yang dicari tuh gurih dan enak. Mereka tuh ga ngitung kalori.

Suatu saat pemain yang sering saya temui makan diluar ini makan di mes persib Jalan Bali Setelah latihan. Menunya sama dengan yang dimakan oleh pemain asing, saya tanya. Gimana makanannya? dia jawab : “bagus, sangat lezat sangat enak” nah itu jawabannya.
Tapi jawaban berbeda ketika saya tanya Barkoui

Dia jawab:
“ini bagus makanan, untuk kalian, untuk orang-orang biasa yang bukan pemain bola. tapi kalau untuk saya saya ada suplemen tambahan” sama seperti apa yang Bekamenga katakan

Kita orang biasa makan buat enak, tapi pemain bola profesional tak cukup itu, mereka pun harus makan berdasarkan kebutuhan kalori.

Dulu di persib ada yang bagus, dokter ahli gizi. Dokter Phaidon, sempat dilibatkan saat awal-awal konsorsium masuk pegang PERSIB dibawah bendera PT.PBB, tapi gak tau kenapa malah keluar.

Sebelumnya juga sempet ada namanya (kalo gak salah) dr. Iman
Beliau itu kerabatnya Prof. Himendra Wargahadibrata, Prof. Himendra adalah mantan pemain Persib, mantan kapten timnas, dia itu mantan rektor unpad 2 periode. Dia juga dokter spesialis anastesi. Termasuk yang terbaik di Indonesia.
Tapi dr. Iman pun tak lama di tim PERSIB (saat itu)

Tentunya jika ingin menatap asia, elemen tim harus semakin diperbaharui secara lengkap, perlu juga dilibatkan psikolog dan dokter ahli gizi, walau tanpa itu pun untuk sekarang PERSIB ya tetap yang terbaik di Indonesia….tapi kita kan pengennya menatap asia jadi harus semakin baik…kalo untuk level Indonesia ya tong dinya lah…PERSIB masih yang terbaik. (Eko “Maung” Noer Kristiyanto)

*Penulis adalah redaktur senior di bobotoh.id

Komentar

bobotoh.id

Persib, bobotohnya, serta kejadian aktual sa alam dunya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.