WEJANGAN DARI BAPAK ! MENJADI BOBOTOH ADALAH HIDAYAH TERINDAH !

Menjadi adalah hidayah terindah bagi seorang supporter, begitulah tulisan yang menjadi bahasan dan tentunya menjadi kebanggaan setelah membacanya, karna memang seperti itulah adanya.

Dalam tata bahasa yang kita kenal, secara sederhana hidayah ialah “ia” yang mendapat petunjuk untuk mendapatkan jalan yang lurus dan benar setelah mereka tersesat dan tak tau jalan.

Dan, saya mendapatkan hidayah itu sejak berumur 6 tahun, atau mungkin sekitar 5 tahunan. seperti yang kita ketahui menjadi bobotoh adalah budaya yang diwariskan sebagai amanah, dan kita tahu pula hukumnya menjalankan “amanah” wajib. Maka saya menunaikan kewajiban itu setelah mendapatkan hidayah sejak usia sedini mungkin, mungkin andapun sama seperti itu.
dari seorang ayah yang mencintai Persib sejak zaman Aang Witarsa, usia ayah saya sekitar 65 tahun. Pertama saya mengenal Persib sekitar tahun 2000/2001an, saat itu dilatih Abah Thohir dan Persib masuk 8 besar yang bermain di Medan. Namun, Persib gagal. setelah setahun sebelumnyapun mengalami kegagalan. dan di musim itupula, saya pertama melihat maestro lapangan tengah persib, Yusuf Bachtiar sekaligus musim terakhir sang legenda.

Dan ditahun-tahun sesudah itu, prestasi Persib semakin menurun, hampir degradasi, selalu di papan bawah dan tengah. Seolah Simana leungit.

Masa-masa dimana saya mengenal Persib, yaitu masa-masa persib keur eweuh sima na, kata kebanyakan orang. pernah suatu ketika, Persib lawan Persita Tangerang di Stadion Siliwangi. Saat itu hujan deras mengguyur langit sore itu, dan Tv di rumah saya kebetulan sedang rusak, dan terpaksa ikut menonton di rumah tetangga, meskipun sedikit terganggu dengan Tv cembung zaman 70an yang agak rumek, dan ditambah dengan hasil pertandingan, Persib kalah. dan itulah kali pertamanya saya menangis karna Persib kalah. Tapi, hari itupun saya berjanji. menjaga amanah kudu pas kukumaha wae.

Dan salah satu yang menjaga keoptimisan dan KeKeukuhan saya tetap yakin pada persib adalah wejangan dari bapak, “keun we ayeuna elah mah, da bareto ge persib eleh, tuluy juara terus2an. nu pentingmah ulah tutuluyan sedihna jueng kudu optimis terus” kata-kata itu bapak ucapkan malam setelah saya menangis itu, rasanya lucu kalo diingat sekarang, anak SD yang menangis dan diberi wejangan seperti itu, Ya tapi itulah orang2 yang menyediakan ruang di relung hatinya untuk satu nama, persib.

Dan pertama datang ke stadion sendiri saat kelas 5 Sd, ikut bersama teman-teman yang lebih besar, saat itu persib kalah lawan Psis semarang. berduka, tentu. pertandingan awal di liga, tapi ya sudahlah. optimis deui. beberapa hari kemudian kembal kandang melawan persijap jepara, dan seperti yang kita tahun itu adalah pertandingan yang membuat sang pelatih risnandar soendoro, angkat kaki dari kursi kepelatihan persib setelah bobotoh mengeluarkan kekuatannya sebagai pihak yang berkewajiban pula mengontrol kebijakan persib. itu adalah masa-masa dimana saya kembali belajar, melihat mereka yang begitu emosi melihat Simahna masih belum kembali meskipun bertabur pemain bintang, 11 tahun persib seolah kehilangan marwahnya sebagai team hebat di indonesia.

Dan kini, setelah ikut demo bobotoh di tribun VIP siliwang itu. apa yang dibicarakan bapak saya kembali terbukti. persib mengembalikan marwah dan simahnya, sebagai team dengan reputasi dan prestasi yang membanggakan. dan kamipun sebagai bobotoh terbukti menjaga amanah dan hidayah itu. amanah yang dengannya kami tahu rasanya menjaga kesetiaan, amanah yang dengannya kami tahu apa itu tangisan emosi, yang dengannya pula kebanggaan itu kini kami cicipi rasanya, indah ? salah satu kenikmatan orang yang berpuasa ilah saat ia berbuka, dahaga terobati, keinginan terpenuhi.

Saya lahir tahun 1994, ketika persib juara. 15 tahun saya mendukung persib, dan ketika juara kembali tahun lalu, tangisan itu selalu pecah saat mengingatnya, merinding selalu mengiringi. dan jadi aya kebanggan saat ngobrol dengan bapak, karna sayapun bisa melihat persib juara, kami sama-sama bangga 🙂

Dan dahaga itu terpenuhi dengan sempurna.***

Penulis adalah pemilik akun twitter @dsetiawan9 | Isi tulisan diluar tanggung jawab redaksi | Hatur nuhun

Komentar

Helmi M. Permana

Orang Bandung, suka foto, suka bola, & suka musik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.