3 FAKTA DJAJANG NURDJAMAN ! NAON WAÈ ?!

Sejak menjuarai Liga Indonesia 1 musim 1994/1995, beberapa pelatih ternama mencoba peruntungannya di tubuh . Mereka tentunya mempunyai satu tujuan yang sama yaitu membawa Maung Bandung kembali menjadi nomor satu di nusantara.

Beberapa pelatih asing sempat menyutradarai tim asal Jawa Barat ini, hasilnya nihil. Mereka gagal mempersembahkan trophy bergengsi bagi dan seluruh elemen yang ada di . Musim ke musim, tahun ke tahun, tak ada satupun pelatih yang mampu membawa menuju tangga juara. Kandas, kandas dan kandas lagi. Paceklik gelar seolah menjadi agenda tahunan pasca juara di musim 94/95. pun beteriak, meminta Persib kembali membawa pulang trophy juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Persib haus gelar. Berbagai upaya pun dilakukan, dimulai dengan perekrutan pemain lokal berkualitas hingga berani membayar mahal jasa pemain asing. Namun hasilnya tetap sama, dahaga juara belum juga terobati. Hampir dua dekade, kapten tim Persib tak pernah lagi mencicipi podium juara, tak ada angkat piala hanya malu dan rindu yang dirasa.

Tahun ke tahun masih tetap sama. Apapun dilakukan demi . Musim 2012 Persib mencoba dan memboyong mantan pemainnya yang kini jadi pelatih dari Pelita Jaya. , resmi menukangi Pangeran Biru.

Satu musim dicoba, Persib hanya finish di posisi empat klasemen akhir dengan sistem satu wilayah atau kompetisi penuh. Tahun berikutnya, Djajang kembali dipercaya menahkodai kapal Persib dengan beberapa amunisi barunya.

Kesempatan datang, PSSI selaku induk tertinggi sepak bola tanah air mengubah format kompetisi menjadi dua wilayah. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya saat format yang sama digunakan, Persib berada di wilayah barat. Tak lagi berjumpa tim-tim dari timur hanya Arema Cronous yang tersisa.

Diawali dengan menekuk Sriwijaya FC dilaga perdana, Maung Bandung melangkah pasti. Akhir musim, Persib finish diurutan dua klasemen wilayah barat, berbeda lima poin dari Arema. Satu tiket babak 8 besar digenggam pasukan Djajang Nurdjaman. Dengan menggunakan sistem home and away, Persib merajai klasemen akhir babak 8 besar dengan 13 poin. Persib lolos ke semi final bertemu Singo Edan di Stadion Jaka Baring Pelembang.

Selangkah lagi, Djajang berhasil membawa Persib menuju tangga juara. Trophy yang dulu sempat dibawa pulang kini berada di depan mata. Di babak semi final, Djajang cemas. Pasukannya tertinggal hingga menit 80. Kebuntuan pecah saat Persib menyamakan kedudukan melalui Vladimir Vujovic dan memaksa pertandingan harus diselesaikan melalui babak perpanjangan waktu.

Persib diatas angin, percaya diri semakin tumbuh pasca Atep menjebol gawang Arema satu menit sesudah kick off babak pertama ekstra time. Malam itu, Makan Konate menutup semuanya.
Golnya semakin mendekatkan mimpi Maung Bandung menuju tangga juara.

7 November 2014, Partai puncak ISL 2014 siap digelar, Persib Bandung “berperang” melawan jagoan dari timur, Persipura Jayapura. Suasana yang hampir sama pernah Djajang rasakan saat Ia membawa Persib juara takala menjadi pemain dan saat ia membantu Indra thohir meraih trophy Liga Indonesia I musim 94/95.

Kecemasan terpancaran dari raut wajah juru taktik Maung Bandung setiap kali lensa kamera menyorotnya. Dengan jantung berdebar, ia menyaksikan perjuangan anak asuhnya dilapangan hijau. Berharap tangisan haru mengakhiri perjalanan panjang Pangeran Biru.

Ketegangan demi ketegangan terus terasa sepanjang laga. Pertandingan harus dilanjutkan melalui drama adu penalti. Lima algojo yang dipilih Djajang siap melakukan eksekusi dari titik 12 pas.
Tentunya Ia berharap tidak ada satu pun pilihannya yang gagal.

Empat algojo Maung Bandung sukses mengoyak jala gawang Persipura. Harapan datang saat I Made Wirawan menepis tendangan pemain Persipura. Persib pun diambang juara. Algojo terakhir, Achmad Jufriyanto menjadi harapan Djajang, akhirnya… Persib Juara !! Djajang mengulang suksesnya saat menjadi pemain dan assiten pelatih beberapa tahun silam.

Fakta Lain Djajang Nurjaman :

1. Membawa Persib Bandung Juara saat menjadi pemain tahun 1986

Djajang Nurdjaman merupakan salah satu pemain kunci saat Persib mengalahkan Perseman Manokwari di Kompetisi Perserikatan Tahun 1986. Bersama Adjat Sudrajat, Adeng Hudaya, Robby Darwis dan Ade Mulyono, Djajang berhasil meriuhkan Istora Senayan Jakarta (kini Gelora Bung Karno). Persib dibawah pelatih Nandar Iskandar meraih gelar juara Divisi Utama Perserikatan tahun 1986 setelah pada babak penyisihan sempat terseok-seok.

2. Membawa Persib Bandung Juara saat menjadi assisten pelatih Persib tahun 1993/1994 (perserikatan) dan 1994/1995 (Liga Indonesia 1)

Kesuksesan Djajang terus berlanjut. Kali ini bukan sebagai pemain, melainkan asissten pelatih Indra Tohir. Djajang bersama Emen Suwarman kala itu, membantu Tohir dalam meracik dan memimpin Robby Darwis cs di lapangan hijau. Saat final Perserikatan terakhir (sebelum meleburnya Galatama dan Perserikatan), Persib mengalahkan PSM Makasar dengan skor 2-0.
Bertemu tim-tim profesional Indonesia yang bermain di kompetisi Galatama, Persib tetap meraja. Dibawah asuhan pelatih kepala, Indra Tohir dan dua asisstennya Djajang – Emen, Persib meraih trophy pertama liga profesional Indonesia.

3. Membawa Persib Bandung Juara Indonesia Super League 2014

Sesuai cerita pembuka diatas, Djajang berhasil membawa Persib juara ditahun keduanya menukangi Maung Bandung. (bobotoh.id/HL)

Komentar

Helmi M. Permana

Orang Bandung, suka foto, suka bola, & suka musik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.