MUSIK 2015

5) Rinto Harahap Tutup Usia

Penyanyi sekaligus pencipta lagu legendaris, Rinto Harahap, tutup usia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura pada Senin (9/2) pukul 22:15 waktu setempat. Kabarnya sejak lama ia diketahui memang mengidap penyakit kanker tulang. Sebelumnya pada 2004 ia dikabarkan sempat terserang stroke. Rinto wafat dalam usia 65 tahun.

Mungkin bagi generasi muda jaman sekarang nama Rinto Harahap hanya beken berkat istilah olokan “Wajah Rambo, Hati Rinto” atau hanya dikenal sebagai pencipta lagu-lagu pop sendu semata (kerap pula disebut pop cengeng). Padahal kiprah dan karya-karya Rinto Harahap yang banyak menjadi hits besar sangat menyentuh psikologis mayoritas masyarakat dan mendominasi penjualan album di industri pop Indonesia pada dekade akhir ’70-an dan ’80-an. Rolling Stone Indonesia pada edisi khusus 100 Pencipta Lagu Terbaik Sepanjang Masa yang terbit pada Februari 2014 silam juga memasukkan namanya pada posisi ke-56.

Nama besarnya bersanding sejajar dengan para pencipta lagu pop sendu legendaris lainnya seperti A. Riyanto, Pance Pondaag, dan Obbie Messakh. Kuartet pencipta lagu inilah yang kemudian berjaya menjadi godfather pop sendu di industri musik pada waktu itu. Selain menjadi hits nasional, album-album mereka pun selalu laris ratusan ribu hingga jutaan kopi kasetnya. Saking berpengaruhnya, rezim Orde Baru melalui Menteri Penerangan Harmoko bahkan hingga merasa perlu untuk “mencekal” dan “memusuhi” karya-karya mereka pada saat itu.

6) ((AUMAN)) Bubar

Band heavy rock pendatang baru paling berpengaruh asal Palembang, ((AUMAN)), pada 20 Februari 2015 secara mengejutkan mengumumkan tentang pembubaran band mereka secara baik-baik setelah bertahan hanya lima tahun saja di pentas musik rock nasional dan merilis sebuah album studio esensial bertajuk Suar Marabahaya. Menurut rilis pers yang diterima Rolling Stone, mereka tidak menjelaskan dengan rinci apa penyebab utama bubarnya band yang menjadi motor penggerak kancah musik cadas Sumatera Selatan ini.

“Sebuah keputusan yang tidaklah mudah, tapi itu mungkin yang terbaik dikarenakan adanya pergeseran dari arah, tujuan dan prioritas dari kolaboratornya. Ketika sinergi tidak bisa terjalin maka sebuah kolaborasi bisa dibilang mati. Langkah untuk membubarkan diri ini adalah keputusan yang dibahas dan ditimbang dan diambil secara kolektif oleh ((AUMAN)) sebagai band. Walau getir tidak ada gesekan personal antar para kolaboratornya dalam menetapkan keputusan ini,” demikian bunyi kutipan pernyataan resmi band yang sempat meraih penghargaan Rolling Stone Editors’ Choice Awards 2014 sebagai Rock’s New Blood tersebut.   

7) Konser Lenny Kravitz di Jakarta Batal

Hanya berselang sebulan sebelum digelarnya, konser Lenny Kravitz yang rencananya bakal diadakan di Istora Senayan Jakarta pada 26 Maret 2015 mendadak dibatalkan begitu saja oleh Lenny sendiri via laman Facebook pribadinya.

“Karena masalah konflik jadwal dengan kontrak-kontrak lain berada di luar kemampuan saya, saya tidak bisa datang untuk tampil di Jakarta. Saya sangat ingin datang untuk bermain di hadapan para penggemar dan saya sangat menyesal konser saya dibatalkan,” tulis Kravitz dalam pernyataannya.

Pembatalan konser yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh penggemar Kravitz di Indonesia sejak dekade ’90-an ini ternyata tak hanya meninggalkan kekecewaan semata, proses pengembalian uang tiket (refund) konser ini pun sempat tersendat-sendat.

Variant Entertainment (Indonesia) dan Rockstar Touring (Singapura) selaku promotor konser ini menunjuk RajaKarcis sebagai agensi tiket resminya. Namun bagi RajaKarcis, kebijakan refund ini tak sesuai dengan apa yang tertulis di kontrak perjanjian.

Saat dihubungi oleh Rolling Stone pada Juli silam, Lola Winata selaku Chief Operation Officer dari RajaKarcis menegaskan bahwa pelanggaran kontrak yang dilakukan Variant Entertainment lah yang membuat mereka hingga sekarang ini belum bisa melakukan tindak refund.

“Pihak Rockstar Touring menunjuk RajaKarcis sebagai satu-satunya agensi yang menjual tiket Lenny Kravitz. Tapi ternyata Variant mengambil jatah tiket untuk dijual sendiri,” terang Lola. “Variant harusnya tidak jualan tiket, bahkan mereka tidak mengirimkan laporannya ke Rockstar Touring,” tambahnya lagi.

8) Kontroversi Konser Rasis Ki Gendeng Pamungkas di Bogor

Ki Gendeng Pamungkas yang sejak beberapa tahun belakangan di Bogor kerap menggelar konser musik rock bawah tanah dari artis-artis lokal dan internasional, pada Maret 2015 silam terpaksa berhadapan dengan petisi online di Change.org yang ditandatangani lebih dari 6000 orang karena ia dianggap mempromosikan rasialisme melalui konser bertajuk Brutalize in Darkness yang digelar pada 10 Mei 2015 di Stadion Padjajaran, Bogor.

Pada petisi berjudul “Tolak dan Batalkan Konser Rasis KGP #tolakKGP” ini sang inisiator petisi, Donny Anggoro, menulis sebagai berikut, “dalam penyelenggaraannya KGP menyelipkan pesan-pesan rasisme dan kebencian terhadap etnis Cina yang semakin lama dilakukan secara terbuka. Puncaknya tahun 2016 KGP akan menyelenggarakan konser band luar negeri dan para pengunjung akan di bagikan kaos gratis bertuliskan pesan anti Cina. Kami menuntut kepada institusi/lembaga pemerintah terkait HAM terutama negara untuk menyeret KGP ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya meracuni anak-anak muda dengan menyebar pesan kebencian/rasisme.”

1

Potongan gambar laman Facebook Ki Gendeng Pamungkas yang diduga melakukan kampanye rasisme. (Facebook/Change.org) 

 

Akibat kontroversi kampanye rasialisme ini beberapa band lokal yang awalnya sepakat untuk tampil di acara tersebut lantas memutuskan mengundurkan diri yaitu Burgerkill dan Down For Life. Sementara Deadsquad dan Seringai juga sempat mengeluarkan pernyataan yang menolak rasialisme.

“Kami ingin menyatakan sikap kami sebagai individu dan juga sebagai band. Dengan keras kami menentang tindakan atau sikap yang menunjukan kebencian, permusuhan dan ketidaksukaan akan golongan tertentu,” tegas Deadsquad via laman Facebook band.

Sementara secara terpisah Seringai dalam pernyataan yang lebih panjang juga turut menyikapi sentimen rasialisme dalam akun Facebook band mereka.

“Perlu diketahui bahwa sampai kapanpun Seringai tak akan pernah membeda-bedakan siapa yang boleh atau tidak boleh menikmati musik kami, apa suku, ras, ataupun agama mereka. Kami percaya dan menyaksikan bahwa sikap saling menghormati satu sama lain dan keberagaman adalah salah satu kunci yang berhasil membuat kancah metal Indonesia menjadi sebesar sekarang,” tulis mereka di sana.

Ketika dikonfirmasi oleh Rolling Stone tentang beredarnya petisi online yang menentang dirinya dan konser yang akan digelarnya pada 10 Mei mendatang itu dan apakah akan tetap dilangsungkan, Ki Gendeng Pamungkas dengan tegas menyatakan, “Akan tetap jalan terus. Tidak ada masalah. Semua akan jalan terus. Saya tidak merasa salah.”

“Isu kaus Anti-Cina itu bohong. Tidak ada itu. Saya menjamin 3000% tidak akan ada kaus seperti itu di 10 Mei nanti. Silahkan cek sendiri ke lapangan,” imbuhnya lagi.

Setelah mengeluarkan pernyataan menolak rasisme di atas, beberapa hari kemudian seusai konser di sebuah pensi SMA di daerah Cibinong, Bogor, Seringai sempat mendapatkan intimidasi secara langsung dari Ki Gendeng Pamungkas dan beberapa pengikutnya.  Mereka mendesak untuk bertemu Arian13 dan mendapatkan klarifikasi. Akhirnya setelah dimediasi oleh aparat kepolisian, dialog singkat antara Arian13 dan para personel Seringai lainnya dengan Ki Gendeng Pamungkas pun berakhir dengan damai.

Konser Brutalize in Darkness sendiri akhirnya tetap berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Tampil pula band black metal Norwegia, Gorgoroth dan unit death metal asal Belanda, Disavowed selain band-band lokal seperti Kedjawen dan Dajjal. Dilaporkan tidak ditemukan adanya agenda kampanye rasisme pada konser tersebut.

Tenjo oge Lurr.. (MUSIK 2015 Bag.1)

(/BBS/rollingstone)

[socialpoll id=”[socialpoll id=”2320216″]


[socialpoll id=”2317542″]

 

Komentar

Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.