MUSIK 2015

2015 hanya menyisakan perjalanannya selama satu hari lagi dan segera berlalu tanpa akan pernah kembali untuk selamanya. Tak terasa 364 hari telah kita lalui dengan beragam peristiwa di kancah lokal, nasional maupun internasional yang berkategori mengesankan, membanggakan, menyedihkan, mengecewakan, dan pastinya, tak akan pernah terlupakan.

Sejauh ini pula, 2015 jika ingin disimpulkan berhasil ditandai dengan beberapa sejarah baru, pencapaian-pencapaian hingga penorehan prestasi yang hebatnya bahkan tak pernah terjadi di kancah musik Indonesia pada dekade-dekade sebelumnya (Terima kasih wahai Joey Alexander, Burgerkill dan Jasad!).

Seperti kata Jimi Multhazam, sang biduan The Upstairs sepuluh tahun yang lalu, “Semua terekam, tak pernah mati.”

2015 hanya menyisakan perjalanannya selama satu hari lagi dan segera berlalu tanpa akan pernah kembali untuk selamanya. Tak terasa 364 hari telah kita lalui dengan beragam peristiwa musik di kancah lokal, nasional maupun internasional yang berkategori mengesankan, membanggakan, menyedihkan, mengecewakan, dan pastinya, tak akan pernah terlupakan.

Sejauh ini pula, 2015 jika ingin disimpulkan berhasil ditandai dengan beberapa sejarah baru, pencapaian-pencapaian hingga penorehan prestasi yang hebatnya bahkan tak pernah terjadi di kancah musik Indonesia pada dekade-dekade sebelumnya (Terima kasih wahai Joey Alexander, Burgerkill dan Jasad!)

Tim redaksi digital Rolling Stone Indonesia yang terdiri dari Wendi Putranto, Reno Nismara, Pramedya Nataprawira dan Decky Arrizal sejak beberapa waktu lalu dalam rapat redaksi mencoba memilah-milah kembali ratusan peristiwa yang pernah terjadi di tahun ini – menjadi buah bibir, menarik perhatian publik atau menimbulkan kontroversi – lalu menimbang-menimbang, berdebat, memilih, dan menyajikannya kembali kepada sidang pembaca yang terhormat.

Terakhir, jika ternyata menurut Anda kami dengan teledornya tega melewatkan peristiwa-peristiwa penting lainnya dalam “” ini, semoga Anda tidak keberatan untuk menambahkan sendiri momen tersebut dengan menuliskannya di bagian komentar di bawah ini.

Seperti kata Jimi Multhazam, sang biduan The Upstairs sepuluh tahun yang lalu, “Semua terekam, tak pernah mati.”

2015 hanya menyisakan perjalanannya selama satu hari lagi dan segera berlalu tanpa akan pernah kembali untuk selamanya. Tak terasa 364 hari telah kita lalui dengan beragam peristiwa musik di kancah lokal, nasional maupun internasional yang berkategori mengesankan, membanggakan, menyedihkan, mengecewakan, dan pastinya, tak akan pernah terlupakan.

Sejauh ini pula, 2015 jika ingin disimpulkan berhasil ditandai dengan beberapa sejarah baru, pencapaian-pencapaian hingga penorehan prestasi yang hebatnya bahkan tak pernah terjadi di kancah musik Indonesia pada dekade-dekade sebelumnya (Terima kasih wahai Joey Alexander, Burgerkill dan Jasad!)

Tim redaksi digital Rolling Stone Indonesia yang terdiri dari Wendi Putranto, Reno Nismara, Pramedya Nataprawira dan Decky Arrizal sejak beberapa waktu lalu dalam rapat redaksi mencoba memilah-milah kembali ratusan peristiwa yang pernah terjadi di tahun ini – menjadi buah bibir, menarik perhatian publik atau menimbulkan kontroversi – lalu menimbang-menimbang, berdebat, memilih, dan menyajikannya kembali kepada sidang pembaca yang terhormat.

Terakhir, jika ternyata menurut Anda kami dengan teledornya tega melewatkan peristiwa-peristiwa penting lainnya dalam “kaleidoskop” ini, semoga Anda tidak keberatan untuk menambahkan sendiri momen tersebut dengan menuliskannya di bagian komentar di bawah ini.

Seperti kata Jimi Multhazam, sang biduan The Upstairs sepuluh tahun yang lalu, “Semua terekam, tak pernah mati.”

2015 hanya menyisakan perjalanannya selama satu hari lagi dan segera berlalu tanpa akan pernah kembali untuk selamanya. Tak terasa 364 hari telah kita lalui dengan beragam peristiwa musik di kancah lokal, nasional maupun internasional yang berkategori mengesankan, membanggakan, menyedihkan, mengecewakan, dan pastinya, tak akan pernah terlupakan.

Sejauh ini pula, 2015 jika ingin disimpulkan berhasil ditandai dengan beberapa sejarah baru, pencapaian-pencapaian hingga penorehan prestasi yang hebatnya bahkan tak pernah terjadi di kancah musik Indonesia pada dekade-dekade sebelumnya (Terima kasih wahai Joey Alexander, Burgerkill dan Jasad!)

Tim redaksi digital Rolling Stone Indonesia yang terdiri dari Wendi Putranto, Reno Nismara, Pramedya Nataprawira dan Decky Arrizal sejak beberapa waktu lalu dalam rapat redaksi mencoba memilah-milah kembali ratusan peristiwa yang pernah terjadi di tahun ini – menjadi buah bibir, menarik perhatian publik atau menimbulkan kontroversi – lalu menimbang-menimbang, berdebat, memilih, dan menyajikannya kembali kepada sidang pembaca yang terhormat.

Terakhir, jika ternyata menurut Anda kami dengan teledornya tega melewatkan peristiwa-peristiwa penting lainnya dalam “kaleidoskop” ini, semoga Anda tidak keberatan untuk menambahkan sendiri momen tersebut dengan menuliskannya di bagian komentar di bawah ini.

Seperti kata Jimi Multhazam, sang biduan The Upstairs sepuluh tahun yang lalu, “Semua terekam, tak pernah mati.”

1) Pengamat Musik Denny Sakrie Tutup Usia

2015 langsung dibuka oleh kabar duka yang sangat mengagetkan sekaligus menyedihkan. Pengamat musik terkemuka, Denny Sakrie, mendadak wafat di atas ojek pada Sabtu (3/1) pagi dalam perjalanan menuju ke rumah sakit di kawasan Tangerang, Banten. Walau tidak diketahui penyebab pasti kematiannya, Denny diduga terkena serangan jantung. Istrinya, Mike Hendrawati, kepada media menjelaskan bahwa ketika bangun tidur ia sempat mengeluh bagian dadanya sakit dan memutuskan pergi ke rumah sakit sendirian untuk memeriksakannya. Kontributor tetap Rolling Stone Indonesia sejak 2005 ini tutup usia dalam umur 51 tahun. Beberapa buku warisan karya Denny Sakrie yang pernah diterbitkan di antaranya adalah 100 Tahun Musik Indonesia (2015), Musisiku (bersama KPMI, 2007), Audiobook Chrisye Masterpiece (2007), Warkop: Main-main Jadi Bukan Main (bersama Rudy Badil, Indro, Budiarto Shambazy, Edy Suhardy, 2010). Tulisan terakhir yang dipublikasikan oleh Denny Sakrie di blog pribadinya adalah tentang musisi legendaris Fariz RM yang berulang tahun pada 5 Januari 2015, hanya beberapa hari sebelum Fariz ditangkap di rumahnya karena tertangkap tangan sedang mengonsumsi narkotika.

2) Gelombang Musisi Ditangkap Polisi Karena Narkotika

Pasca berita kematian Denny Sakrie, awal 2015 juga dikejutkan dengan kabar tertangkapnya lagi musisi legendaris Indonesia, Fariz RM di kediamannya di Bintaro pada 6 Januari dini hari akibat tertangkap tangan oleh polisi sedang mengonsumsi narkotika jenis ganja dan heroin. Setelah ditangkap Fariz RM kemudian tidak dijebloskan ke dalam penjara melainkan direhabilitasi, sebelum akhirnya pada Agustus 2015 ia pun akhirnya dibebaskan. Selama berada di dalam tahanan BNN, Fariz dikabarkan sempat menciptakan 10 lagu baru sebagai materi bagi album studio terbarunya. Sebelumnya pada 2007 Fariz RM untuk pertama kalinya ditangkap oleh polisi karena kedapatan membawa 1,5 linting ganja. Saat itu Ia sempat mendekam selama sekitar tujuh bulan di dalam penjara.

Setelah penangkapan Fariz, hanya berselang beberapa minggu kemudian polisi juga menangkap gitaris Padi, Ari Tri Sosianto, di sebuah studio musik yang terletak di Ciputat Timur pada 22 Januari silam. Ketika digrebek, Polisi menemukan barang bukti berupa psikotropika jenis shabu dan ekstasi serta beberapa buah bong. Selama menjalani masa rehabilitasi, Ari juga sempat bertemu dengan Fariz RM di panti rehabilitasi yang sama di Lebak Bulus, Jakarta, sebelum akhirnya Ari dibebaskan pada 19 Juli silam.

Berselang dua minggu setelah penangkapan Ari, gitaris Padi, polisi kembali menangkap musisi yang tertangkap membawa narkotika. Kali ini giliran mantan drummer band rock legendaris Godbless serta Gong 2000, Yaya Moektio, yang ditangkap bersama dua orang rekannya saat hendak pergi ke sebuah rumah karaoke di Jakarta pada 6 Februari silam. Dari ketiganya polisi menyita beberapa buah bong serta tiga paket psikotropika jenis shabu yang kabarnya akan digunakan saat mereka berkaraoke bersama.

Penangkapan terhadap musisi yang menggunakan narkotika baru terjadi lagi pada 22 November silam saat polisi menangkap gitaris sekaligus pencipta lagu Geisha, Robby Satria, yang diketahui memesan ganja via layanan ojek online saat menginap di Hotel Aston Bali. Tercatat ini sudah yang kedua kali kasus hukum yang sama menimpa Robby. Sebelumnya pada 2013 ia sempat pula dijatuhi hukuman kurungan satu tahun penjara karena terbukti mengonsumsi ganja, namun setelah menjalani 2/3 masa hukuman ia pun menerima pembebasan bersyarat.

3) Drummer dan Gitaris Pure Saturday Mundur dari Band untuk Memperdalam Agama

Dua orang personel asli Pure Saturday sejak dekade ’90-an yang merupakan saudara kembar identik, gitaris Aditya Ardinugraha dan drummer Yudhistira Ardinugraha mengumumkan pengunduran diri mereka dari band secara mendadak pada 25 Januari silam usai tampil di sebuah acara di Senayan, Jakarta.

“Anak-anak Pure Saturday sedang ngobrol-ngobrol waktu itu, baru saja beres main. Tiba-tiba Adi dan Udi mengeluarkan statement, mau resign. Kami benar-benar kaget. Nggak ada curhat dulu atau semacamnya, tapi langsung pengumuman keluar. Keputusan mereka sudah positif, tidak bisa diganggu-gugat. Mau bagaimana lagi? Ini urusan prinsip, urusan kepercayaan,” terang Budi Gunawan, manajer Pure Saturday secara eksklusif kepada Rolling Stone Indonesia selang lima hari setelah keduanya menyatakan hengkang dari band.

Keduanya ternyata tak hanya mundur dari band namun juga memutuskan untuk berhenti bermain musik untuk selamanya dan ingin sepenuhnya mengabdikan hidup mereka dengan memperdalam ajaran agama Islam. Tak ayal keputusan ini sempat menerima respons yang sangat besar di ranah media sosial dari para penggemar maupun media massa.

4) Tolak Hukuman Mati, Para Bintang Rock Dunia Menyurati Presiden Jokowi

https://youtu.be/Js53n6wl-6w

Tiga orang rocker legendaris dunia, Mark “Barney” Greenway (vokalis Napalm Death), Tony Iommi (gitaris Black Sabbath) dan Axl Rose (vokalis Guns N’ Roses), secara bergantian di waktu yang berbeda sempat melayangkan surat kepada Presiden RI Joko Widodo yang isinya sebuah tuntutan agar presiden membatalkan proses hukuman mati bagi para terpidana mati narkotika, Bali Nine, di antaranya adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Presiden Jokowi memang sebelumnya dikenal luas sebagai penggemar musik cadas oleh karena itu para bintang rock dunia ini sangat berharap jika permohonan ini datang langsung dari sang idola maka kemungkinan untuk dikabulkan oleh Jokowi akan sangat besar. Diawali oleh Barney Greenway yang sebanyak dua kali menulis surat terbuka bagi Jokowi, pada akhir Januari 2015 menulis via laman Facebook bandnya dan melalui surat pembaca surat kabar The Independent pada awal Februari 2015 yang memohon proses hukuman mati tersebut dibatalkan.

“Sebagai penggemar band kami, Napalm Death, Anda akan memahami bahwa lirik dan etos kami untuk menantang siklus kekerasan di dunia, apakah itu berasal dari sebuah negara atau sebagai individu….Saya paham jika heroin dapat merusak dalam banyak tingkatan, tapi saya percaya hal ini adalah masalah yang jauh lebih dalam yang tidak dapat diubah hanya dengan mencabut nyawa seseorang,” tulis Barney via laman Facebook bandnya.

Surat permohonan kedua datang pada awal Maret 2015 dari gitaris legendaris Black Sabbath, Tony Iommi.

“Saya memohon kepada Anda, sebagai pria pemaaf, untuk melihat perubahan yang terjadi pada mereka (Chan dan Sukumaran). Mereka kini adalah orang-orang yang telah berubah dan membuat perbedaan positif dalam kehidupan bagi sesama tahanan lainnya. Bahwa mereka telah berubah begitu banyak adalah kredit yang nyata untuk pihak berwenang Indonesia. Untuk alasan ini, saya meminta Anda menghentikan eksekusi terhadap Andrew dan Myuran, ” demikian bunti kutipan surat dari Iommi.

Surat terakhir datang dari vokalis Guns N’ Roses, Axl Rose pada April 2015, atau detik-detik akhir menjelang eksekusi dilakukan. Axl bahkan menembuskan pula surat tersebut kepada Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, Dubes AS untuk Indonesia serta tiga orang duta besar RI.

“Perhatian utama korespondensi ini sehubungan dengan eksekusi yang akan datang bagi Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari kelompok Bali Nine serta Mary Jane Fiesta Veloso….

Aku memohon kepada Anda Bapak Presiden, Joko Widodo menggunakan kekuatan Anda dalam cara-cara untuk memperkuat hubungan internasional antara negara Anda dan negara lain, untuk menunjukkan kekuatan negara Anda dan memungkinkan dunia untuk menyaksikan tindakan yang luar biasa manusiawi dan menunjukkan keberanian diri Anda dan serta negara Anda,” demikian bunyi kutipan surat dari Axl Rose tersebut.

Terlepas dari semua surat tersebut, pemerintahan Jokowi akhirnya tetap mengeksekusi delapan orang terpidana mati tersebut, termasuk di antaranya adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Sementara bagi Mary Jane Fiesta Veloso proses eksekusi akhirnya masih ditunda karena mendadak saja ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas aksi yang dilakukan Veloso tersebut menyerahkan diri di Filipina.

Tiga orang rocker legendaris dunia, Mark “Barney” Greenway (vokalis Napalm Death), Tony Iommi (gitaris Black Sabbath) dan Axl Rose (vokalis Guns N’ Roses), secara bergantian di waktu yang berbeda sempat melayangkan surat kepada Presiden RI Joko Widodo yang isinya sebuah tuntutan agar presiden membatalkan proses hukuman mati bagi para terpidana mati narkotika, Bali Nine, di antaranya adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Presiden Jokowi memang sebelumnya dikenal luas sebagai penggemar musik cadas oleh karena itu para bintang rock dunia ini sangat berharap jika permohonan ini datang langsung dari sang idola maka kemungkinan untuk dikabulkan oleh Jokowi akan sangat besar. Diawali oleh Barney Greenway yang sebanyak dua kali menulis surat terbuka bagi Jokowi, pada akhir Januari 2015 menulis via laman Facebook bandnya dan melalui surat pembaca surat kabar The Independent pada awal Februari 2015 yang memohon proses hukuman mati tersebut dibatalkan.

Tenjo oge Lurr.. (Musik 2015 Bag.2)

(/BBS/rollingstone)

[socialpoll id=”[socialpoll id=”2320216″]


[socialpoll id=”2317542″]

 

Komentar

Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.