LIVE REVIEW: ROCK IN SOLO 2015 (Bag 6 – Habis)

Band yang baru saja merilis album baru, What Should Not Be Unearthed ini mulai membakar panggung dengan “Sacrifice Unto Sebek”. Brutal dan agresif, semuanya bergerak cepat, mulai jari-jemari para gitaris dan bassis, pukulan drum, dan hentakan double bass dari George. Teknikalitas tinggi musik death metal bernuansa Timur Tengah yang disajikan oleh Nile mulai merangsang penonton untuk bergerak. Wall of death tercipta ketika lagu yang diambil dari album baru, “In The Name of Amun” dipresentasikan. Dallas sesekali menunjukkan ekspresi wajah bengis yang begitu menikmati musiknya. Setelah lagu ini selesai, Karl mengalami masalah teknis dengan gitarnya. “Saya pikir Karl merusak sesuatu. Kami memiliki kebiasaan buruk dalam merusak barang. Biasanya George yang senang merusak sesuatu, kali ini Karl,” ujar Dallas, tertawa. Karena cukup lama menunggu perbaikan teknis pada gitar Karl, Dallas berinisiatif melakukan solo gitar untuk menghibur penonton, tapi dalam beberapa detik ia hentikan kembali. “Kami bukan tipe band yang bermain solo, walaupun sedang bermain di festival Solo (Rock In Solo),” candanya.

01

Karl tersenyum membalas perkataan beberapa penonton yang memintanya untuk tidak merusak gitarnya lagi. Ia siap, agresi pun dilanjutkan dengan “The Howling of The Jinn”. Strategi penyelenggara untuk menjaga stamina penonton tampaknya tak sepenuhnya berhasil. Penonton mulai kehabisan energi dan beberapa yang di depan memilih mundur ketika 3 lagu terakhir mulai berjalan. Sudah tidak ada lagi gerakan-gerakan liar, hanya dua penonton yang terus melakukan headbang tanpa henti di baris depan yang sudah merenggang. Bahkan, beberapa di antaranya duduk dan tak sanggup lagi menanggapi derasnya musik Nile. Hingga akhirnya Nile menutup , sekaligus membuka era baru bagi festival ini, dengan hits “Black Seeds of Vengeance”. Terasa ada yang kurang dengan penampilan Nile, mereka tidak memainkan lagu yang mungkin paling terkenal di Indonesia, “Kafir!” Beberapa penonton berteriak-teriak meminta lagu itu dimainkan namun tidak digubris. Padahal lagu ini termasuk dari empat lagu yang selalu ada dalam setlist mereka. Tenjo oge Lurr.. (LIVE REVIEW: ROCK IN SOLO 2015 KAMARI LURR.. – Bag 1)

Sukacita dan euforia sepanjang konser berlangsung menjadi kunci yang akan mengantarkan Rock In Solo untuk terus berjaya di era barunya. Tugas Rock In Solo ke depannya adalah untuk terus mempertahankan antusias penonton seperti ini. Berbagai pilihan band pengisi dan konsep acara akan terus menjadi tantangan bagi pihak penyelenggara ke depannya. Patut ditunggu, Rock In Solo 2016! (Bobotoh.id/BBS/rollingstoneindonesia)

Contreng oge Pulingna Lurr..

[socialpoll id=”[socialpoll id=”2317992″]”]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.