LIVE REVIEW: ROCK IN SOLO 2015, KAMARI LURR.. (Bag 2)

Tema Metal Against Racism terpampang jelas di atas panggung. Tema ini dipilih oleh pihak penyelenggara untuk memperluas jangkauan dengan target massa yang lebih global. Bentuk kepedulian terhadap isu kesetaraan suku, agama, ras, dan golongan disampaikan melalui tema ini. Apalagi beberapa waktu lalu kancah musik metal Indonesia sempat diguncang oleh isu rasisme dalam suatu konser yang mengatasnamakan metal. Selain itu, juga menjadi perayaan dibukanya gerbang menuju era baru dari festival ini. Seperti diungkapkan oleh salah satu Dewan Jenderal Rock In Solo dan juga pentolan Down For Life, Stephanus Adjie. Ia mengatakan, pemilihan tema ini juga merupakan salah satu langkah menuju era baru Rock In Solo yang lebih global.

Pemilihan venue sendiri sebenarnya diakui dilematis oleh Adjie. “Dalam setiap helatan Rock In Solo, kami akui venue selalu menjadi kendala kami,” ujar Adjie. Ia mengaku, sebenarnya pihak penyelenggara (The Think Organizer) memiliki banyak opsi untuk venue kali ini. Namun dengan berbagai pertimbangan kenyamanan dan izin, akhirnya Lapangan Parkir Stadion Manahan yang menjadi pilihan. “Lapangan Parkir Stadion Manahan kami pilih untuk menghindari debu yang sangat mengganggu ketika tahun lalu di Benteng Vastenburg. Juga untuk menghindari lumpur karena saat ini telah memasuki musim penghujan. Kami cukup bersyukur dengan dipilihnya venue ini,” lanjutnya.  Tenjo oge Lurr.. (: ROCK IN SOLO 2015 KAMARI LURR.. – Bag 1)

Pemilihan ini dirasa tepat, terbukti para penonton kini tak lagi ragu untuk melakukan moshing yang liar, menciptakan wall of death, crowd surfing, dan melompat-lompat. Berbanding terbalik dengan tahun lalu dimana beberapa penonton memilih untuk menghindari debu dan menutupi hidung mereka dengan masker. Riak-riak moshpit mulai tercipta di bagian depan ketika Carnivored menunjukkan keliaran di atas panggung. Tampak Baken Nainggolan (Hellcrust) dan David Salim (Djin) mengisi posisi gitar. Lagu-lagu andalan dari album No Truth Found menyerang kuping penonton secara bertubi-tubi, memancing riak moshpit yang semakin besar. Permainan yang kejam ditampilkan Carnivored, padu dan harmonis. Vokal Ronald mengaum penuh amarah dan bertenaga. Sayang, di beberapa lagu gitar David sempat mati.

(Bobotoh.id/BBS/rollingstoneindonesia)

Contreng oge Pulingna Lurr..

[socialpoll id=”[socialpoll id=”2317992″]”]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.