LIVE REVIEW: ROCK IN SOLO 2015 (Bag 5)

Segera saja, “Watch It Burn” menghujam penonton yang secara spontan bergerak menghantam sekitarnya. Tata suara dalam penampilan Unearth ini tebal dan jernih, membuat melodi-melodi yang dilancarkan McGrath dan Susi mengalun tajam di telinga. Bahkan Trevor turut memujinya, “Sound-nya sangat bagus!” Strategi penyelenggara cukup berhasil sejauh ini, penonton tak henti bergerak sepanjang penampilan Unearth. Repertoar andalan dari album terakhir, Watchers of Rule, “The Swarm” dan “Never Cease” dibawakan malam itu. Cukup sulit untuk menerobos ke barisan depan, kepadatan penonton mulai memuncak dan sulit bergerak bebas terutama bagi yang berada di baris tengah. Rif dan melodi yang dilancarkan duo McGrath dan Susi mengalir deras tanpa cela. Sesekali Susi bernyanyi di beberapa bagian lagu “Last Wish” dan “Endless”. Lingkaran besar tercipta ketika “My Will Be Done” dimainkan. Penampilan Unearth sangat memuaskan dan jauh lebih baik ketimbang di Hammersonic lalu. Ditunjang tata suara yang bagus dan penonton yang antusias, pesta pun berlangsung klimaks.

Unearth menutup penampilan sarat ayunan kepalanya dengan lagu “The Great Dividers”. Penonton kembali duduk dan menanti penampil utama terakhir, monster technical death metal asal AS, Nile. Sebuah backdrop bergambar logo Nile raksasa mulai dipasang di atas panggung, lalu gitaris Karl Sanders, Dallas Toler-Wade, drummer George Kollias, dan bassis Brad Parris mondar-mandir di atas panggung melakukan line check. Sepertinya Unearth dan Nile kompak membawa sedikit kru untuk tur di Asia Tenggara dan Australia kali ini. Karl beberapa kali memarahi kru panggung karena terdapat masalah pada mikrofonnya, “Hei, tolong perhatikan! Mikrofon ini mendengking!”

Tenjo oge Lurr.. (LIVE REVIEW: KAMARI LURR.. – Bag 1)

01

“Under The Scars” yang diambil dari album Venomous menutup sore yang panas dan brutal hari itu. Pihak penyelenggara memberikan waktu jeda selama 1 jam lebih sebelum dua penampil utama, Unearth dan Nile. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para penonton untuk mengisi ulang energi dan beribadah bagi kaum muslim. Jeda yang panjang menjadi strategi pihak penyelenggara untuk mengantisipasi kejadian tahun lalu, dimana penonton sudah kehabisan energi saat Carcass tampil. Terdapat beberapa hal berbeda dari gelaran festival Rock In Solo kali ini, salah satunya adalah diizinkannya penonton untuk membawa segala jenis kamera ke dalam venue. Untungnya, penonton yang membawa kamera profesional tidak banyak sehingga kekhawatiran akan kenyamanan menonton tidak terwujud. (Bobotoh.id/BBS/rollingstoneindonesia)

Contreng oge Pulingna Lurr..

[socialpoll id=”[socialpoll id=”2317992″]”]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.