MENENJO DANAU YANG KONON ADA LAUK PURBA ! KUMAHA TAH ?

Di balik keindahan alam dan udara yang sejuk, nuansa mistik juga menyelimuti lokasi tersebut. Menurut masyarakat sekitar, di ini hidup 2 ekor ikan purba berwarna hitam dan kuning. Menurut Supandi, apabila ada orang yang mampu melihat ikan besar tersebut dan meloncat ke atas permukaan , maka segala cita-citanya akan tercapai dan terkabul. Mitos lain yang dipercayai masyarakat setempat ialah bagi siapa yang membasuh muka dengan air ini, akan selalu terlihat awet muda.

Di sisi lain, terdapat pula sebuah legenda unik yang berkembang secara turun temurun di kalangan masyarakat sekitar mengenai asal mula terbentuknya Telaga Warna. Dahulu kala, tutur Supandi, di kawasan puncak tepatnya di lereng Gunung Lemo sekitar pegunungan Mega Mendung terdapat sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Kutatanggeuhan. Nama kerajaan ini berasal dari kata ‘Kuta’ yang berarti tempat dan ‘Tanggeuhan’ yang berarti andalan. Kerajaan ini sering disebut Kerajaan Kemuning Kewangi. Kerajaan ini dipimpin seorang raja bernama Prabu Swarnalaya. Beliau didampingi seorang permaisuri bernama Ratu Purbamanah. “Di masa kepemimpinannya, negeri ini terkenal damai, subur, makmur, dan tentram. Tak ada satupun keluarga yang kekurangan sandang, pangan maupun papan. Walaupun demikian, sang Prabu dan Permaisuri belum merasa bahagia,” cerita Supandi.

Dia melanjutkan, selama bertahun-tahun hidup membina rumah tangga, mereka belum dikarunia seorang keturunan. Padahal berbagai upaya telah dilakukan seperti meminum ramuan tradisional hingga meminta saran penasihat kerajaan, namun tidak membuahkan hasil. Kemudian beliau memutuskan untuk bertapa. Setelah sekian waktu bertapa, akhirnya sang raja mendapat wangsit yang isinya berupa saran agar ia mengangkat seorang anak. Dan ternyata setelah beberapa bulan sang Permaisuri pun hamil hingga melahirkan seorang bayi cantik, kemudian diberi nama Nyi Ajeng Gilang Rinukmi atau Putri Ayu Kencana Ungu.

Ieu rame lur: PAKANSI KA WISATA HUTAN PINUS YOGYAKARTA

Setelah puterinya menginjak dewasa, lanjut Supandi, sang raja mengadakan pesta dan memberikan hadiah kepada puteri semata wayangnya tersebut sebuah kalung. Namun Nyi Ajeng Gilang Rinukmi tidak mau menerima hadiah kalung tersebut hingga akhirnya sang permaisuri tak henti-hentinya menangis. Pada saat yang bersamaan timbul suatu keajaiban, bumi bergoncang dan dari permukaan tanah keluar air yang semakin lama semakin membesar sehingga membentuk sebuah telaga dan menenggelamkan Kerajaan Kutatanggeuhan beserta segala isinya.

Dari dasar telaga memancarkan cahaya berwarna-warni yang diduga berasal dari kalung yang telah bercerai berai. Karena itulah, danau tersebut dinamakan Telaga Warna. “Keanehan ini yang membuat banyak orang mengambil airnya untuk obat. Bahkan di bulan dan hari tertentu tempat ini sering dijadikan tempat ziarah oleh masyarakat yang mempercayai hal itu,” tutup Supandi.

[socialpoll id=”2320484″]

(Bobotoh.id/RF/Liputan6.com)

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.