PERAKIT TV IEU DIPENJARA, TERUS DIDURUK HASIL GAWENA OGE | BEUHH…

Kusrin ditangkap aparat lantaran dinilai berbuat kriminal dengan memasarkan produk televisi yang dirakit sendiri di bengkelnya dari komponen-komponen barang bekas. Usahanya tak memiliki izin dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. “Diputuskan bersalah karena terbukti melanggar pasal 120 ayat 1 UU Republik Indonesia nomor 3 tahun 2014 tentang perindustrian dan dijatuhi hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun serta denda Rp 2,5 juta,” sebut Kepala Kejaksaan Negeri Karanganyar Teguh Subroto, sebagaimana dirangkum Nextren dari Tribunnews, Selasa (12/1/2016).

Tenjo oge Lurr.. (RUMASA KATIPU, MANTAN PELATIH TIMNAS LAPOR POLISI !)

Muhammad adalah pria lulusan SD warga Desa Jatikuwun, Karanganyar, Jawa Tengah. Ratusan televisi hasil rakitannya dimusnahkan dengan cara dibakar. Kasus yang menimpa menuai perhatian netizen Tanah Air di media sosial. Sebagian merasa prihatin terhadap cara pemerintah menanggapi kreativitas warganya.

Harusnya Kusrin dibina, bukan dibinasakan!” kicau seorang pengguna Twitter di akun @bemoljaya. “Nasibnya beda dengan pembakar hutan,” komentar tweeps lain bernama @G_paseksuardika, tentang hal yang sama.

Heran saya dengan hukum di negeri ini,” ujar seorang pengguna Facebook.

Nenek penebang sebatang pohon dihukum, pembakar hutan bebas, monitor bekas ‘dioprek’ jadi televisi dihukum, barang-barang elektronik luar dijual bebas,” lanjutnya.

Kusrin sebenarnya telah mengajukan izin usaha perakitan televisi kepada pihak pemerintah. Namun dia keburu ditangkap sebelum izin itu turun. Adapun Kusrin telah merakit dan menjual TV berukuran 14 inci dan 17 inci sejak tahun lalu. Ujar Teguh. TV dirakit menggunakan komponen monitor komputer bekas, lalu dikemas menggunakan kardus dan diberi merek. Daerah pemasaran TV rakitan Kusrin yang dibanderol antara Rp 750.000 hingga Rp 800.000 ini meliputi sejumlah kota, seperti Solo dan Yogyakarta. (Bobotoh.id/BBS)

[socialpoll id=”2323473″]


 

[socialpoll id=”2318163″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.