BAR BLUES, IMAH KADUA MUSISI INDEPENDEN INDONESIA | HMMM.. DIMANA TAH?

Kala itu, di tahun 2002, seorang anak muda bernama Eka Annash yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Australia, hendak pergi ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Cikini, Jakarta Pusat, untuk menyaksikan teman-temannya tampil di sebuah acara musik. Malam itu, Eka ingin menyaksikan penampilan The Upstairs.

Setelah menyaksikan penampilan The Upstairs, Eka pun disapa oleh vokalis grup musik new wave tersebut, Jimi Multhazam. Menurut penuturan Eka, Jimi mengajaknya ke sebuah bernama (BB’s) yang terletak di Menteng, untuk menyaksikan beberapa grup musik independen tampil.

“Setelah gue balik ke Jakarta, tentu dong, gue nyari tempat yang di mana gue bisa menyaksikan band lokal. Akhirnya si Jimi ngajak gue ke BB’s, di situ The Upstairs bakal manggung,” ujar Eka ketika ditemui disela-sela sesi latihan grup musiknya, The Brandals, belum lama ini.

Tenjo oge Lurr.. (JONO KALUAR TI GUGUN BLUES SHELTER (GBS) ! EH, KUNAON JON ?)

Akhirnya, di penghujung tahun 2002, Eka mampir ke BB’s untuk memenuhi ajakan Jimi. Kala itu, grup musik seperti Seringai, The Miskin, dan Sajama Cut turut meramaikan acara yang disebut sebagai DJ KITA.

“Waktu itu acara diadakan di lantai 3. Gue terbelalak banget melihat band-band yang tampil di sana, keren-keren semua!” katanya.

Saat itu, Eka mengaku sudah mencium adanya pergerakan serta pola baru dari musik independen Jakarta. Beruntungnya, Eka bersama The Brandals sedang sering melakukan sesi latihan. Tidak lama setelah itu, Eka pun diajak Yunis, sang pencetus acara di BB’s, untuk menjajakan kakinya untuk pertama kali di panggung BB’s.

“Di bulan Januari tahun 2003, Yunis buat acara. Dia narik band-band seperti The Upstairs, Seringai, nah band gue juga diajak, The Brandals,” Eka menceritakan.Karena The Brandals termasuk band yang baru terbentuk saat itu, mereka pun tampil duluan, yang kemudian diikuti oleh band-band selanjutnya. Saat itu, Eka semakin yakin bahwa ada pergerakan musik independen baru di BB’s.

“The Brandals manggung duluan saat itu. Itu dari suasananya, yang nonton temen-temen semua,chemistry-nya oke banget, dan gue merasa bahwa skena musik baru akan terbentuk, semua orang merasakan hal itu,” tuturnya.

Sehabis acara itu selesai, akhirnya Yunis mulai mengadakan acara musik reguler setiap minggunya. Usaha yang dilakukan Yunis pun bertepatan dengan momen-momen penting dan bersejarah musik independen Jakarta saat itu.

“Dari malam itu, Yunis mulai buat acara musik reguler, dan mulai bergulir deh. Beruntung banget saat itu banyak band-band yang rilis album, seperti Superglad, lalu ada The Upstairs,” lanjut Eka.

Seiring berjalannya waktu, BB’s pun mulai terkenal di kuping anak-anak muda di Indonesia. Band-band yang ingin unjuk gigi pun semakin banyak, tidak hanya dari Jakarta, namun juga dari Bandung.

“Akhirnya muncul banyak komunitas dan juga muncul band yang mau main di BB’s. Ada The Adams, That’s Rockafeller, lalu White Shoes and The Couples Company. Semua itu berjalan dari 2003 hingga 2004,” ujar Eka.

“Selain itu, band-band Bandung juga tampil, ada Teenage Death Star, Pure Saturday, lalu The S.I.G.I.T.,” ia menambahkan.

Mengutip pernyataan Eka, momen-momen itu adalah masa keemasan BB’s dan juga musik independen lokal. Bagaimana tidak, setiap akhir pekan, BB’s selalu dipenuhi oleh kaum indies Tanah Air.

Berbicara masalah kenangan, terdapat satu malam di mana Eka tidak bisa melupakan segala hal yang terjadi di BB’s.

Gue nggak bakal bisa lupain panggung pertama gue, itu panggung paling nyaman. Tapi ada juga momen lain yang gila banget. Waktu itu, gue manggung sama The Brandals dan semua penontonnya angkat gelas beer bersama dan meminumnya ketika gue manggung,” Eka melanjutkan.

Eka mengakui bahwa bar yang didominasi oleh warna hijau itu adalah bar yang sumpek dan sangat kecil sekali. Walau demikian, Eka menegaskan bahwa BB’s sudah dianggap sebagai rumah kedua bagi para kala itu.

“BB’s itu didominasi warna hijau, sumpek, dekil, bayarnya cuma Rp30 ribu, itu sudah termasuk beer. Walaupun ada pendingin ruangan, tetap aja nggak kerasa. Gue selalu bawa baju dua untuk ganti, pasti keringetan banget,” ia menceritakan.

“Tapi nggak tahu kenapa, gue selalu merasa seperti di rumah jika gue ada di BB’s. Semangat para pengunjung saat itu lah yang nggak bisa dibeli oleh uang.”

Menurut Eka, skena musik di BB’s menjadi faktor terbesar lahirnya skena bar musik seperti sekarang ini. Sebut saja ‘Thursday Noise’ yang diadakan rutin di bar 365 Eco Bar, Kemang. Kemudian ada ‘Superbad’ di Jaya Pub, Thamrin. (Bobotoh.id/cnnindonesia)

[socialpoll id=”2326271″]

[socialpoll id=”2324516″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.