BERAS, ROKOK, DAN CABAI PICU KEMISKINAN DI BENGKULU | HALLAAHH..

Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Bengkulu mengungkapkan terdapat beberapa komoditas yang memberi sumbangan kemiskinan di daerah itu. Di antaranya beras, rokok kretek dan filter, serta cabai merah.

Pada September 2015 jumlah penduduk miskin di Bengkulu mencapai 3.228.3000 orang atau 17, 16 persen, bertambah sebanyak 633.000 orang dibandingkan penduduk miskin pada September 2014 yang besarannya hanya 3.165.000 ribu orang atau 17,09 persen.

Sepanjang lima tahun jumlah penduduk miskin di Bengkulu selalu di atas 300.000  orang atau berada di angka 17 persen. Jumlah penduduk ini sempat menyentuh angka 18,34 persen pada Maret 2013. Jumlah ini sangat jauh di bawah angka kemiskinan nasional 11 persen. “Dari beberapa survei komoditas pemicu kemiskinan ternyata, beras, rokok, dan cabai merah di urutan teratas,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial, BPS, Provinsi Bengkulu, Timbul Silitonga, Senin (4/1/2016).

Komoditas beras di daerah perkotaan menyumbang garis kemiskinan beserta kontribusinya dalam persentase mencapai 16,58 persen, di perdesaan 32,67 persen. Sementara, rokok kretek dan filter di urutan kedua dengan persentase di perkotaan menyumbang kemiskinan mencapai 10,67, sedangkan di perdesaan 7,78 persen.

Sementara itui,  cabai merah di perkotaan menyumbang kemiskinan mencapai 5,02 persen dan perdesaan 5,44 persen. Menyusul, daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, ikan mujahir, kue basah, tempe dan roti.  Selanjutnya, sektor penyumbang kemiskinan dari kelompok bukan makanan meliputi perumahan 7,34 persen, bensin, listrik, pendidikan dan angkutan termasuk kayu bakar. Tenjo oge Lurr.. (INNALILLAHI.. GIZI BURUK MASIH KÉNÉH TINGGI DI JAMBI !)

Dari data ini, Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dody Herlando, menekankan agar pemerintah daerah setempat dapat meningkatkan pertanian terutama sektor padi. “Beras ini memicu kemiskinan cukup tinggi, untuk itu data ini dapat digunakan Pemda untuk mengentaskan kemiskinan, dengan menggenjot lagi hasil padi, termasuk memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai,” ujarnya. Sementara, terkait tingginya kontribusi rokok, ia berharap dinas kesehatan dapat melakukan penyuluhan antirokok lebih giat lagi. (Bobotoh.id/BBS/kompas)

[socialpoll id=”[socialpoll id=”2321086″]


 

[socialpoll id=”2317542″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.