“BOCORAN” TEKNOLOGI ANYAR DI FILM SEKUEL AVATAR?

Ingatkah Anda saat Jake kali pertama masuk ke dalam hutan hujan Pandora? Ia terperangah dengan tanaman besar yang daunnya berpilin dan memancarkan rona merah jambu. Saat disentuh, tanaman itu menguncup, mirip daun tumbuhan puteri malu. Ia juga terkagum-kagum saat berpuluh-puluh ubur-ubur hinggap ke badannya. Hewan kecil penuh warna itu menjadikan dia ikut memancarkan sinar.

Selama 160 menit, penonton serasa menjadi Jake juga. Ikut sesak rasanya dada, saat Bangsa Na’vi khawatir dengan kedatangan koloni manusia ke wilayahnya. Rasanya ikut tak rela “surga” Pandora dihancurkan begitu saja.

Ieu rame Lurr.. (“AVATAR 2” BELUM PASTI RILIS SAAT NATAL 2017)

Usung

Bagi Anda yang menonton film tersebut di bioskop, kualitas dan ketajaman tiap detail gambar dalam film ini akan sangat kentara. Ya, Cameron tak main-main dengan teknologi yang menyertai serangkaian proses pembuatan film keluaran akhir 2009 itu.Hasil kalkulasinya, Avatar menelan biaya produksi hingga mendekati angka 237 juta dollar AS. Dalam prosesnya, makhluk biru berlabel Bangsa Na’vi bukanlah tampilan efek komputer semata, tetapi benar-benar dijalani oleh aktor yang terlibat dalam film itu.

Cameron memakai teknologi computer generated imagery (CGI). Ia juga menangkap gerakan aktor dan ekspresi wajah dengan 140 kamera digital. Tak lupa, aktor peran juga dipasangi sensor untuk mendapatkan gesture yang mendetail. Kemudian, untuk penyempurnaan visual di mata penonton, Cameron memakai Fusion 3D Camera.

Dengan kamera berteknologi tinggi tersebut, adegan yang diambil akan menghasilkan kualitas gambar beresolusi tinggi berformat 3D mendetail. Tak heran kalau visual yang dipertontonkan film Avatar membuat penonton terpesona, dan penasaran bakal seperti apa sekuelnya.

Kabar baiknya, Cameron berencana menaikkan kelas perekaman gambar Avatar 2 dengan menggunakan teknologi terbaru. “Ya, saya sedang mempelajari format high frame. Namun, saya belum mengambil keputusan apakah secara keseluruhan film ini akan dibuat dengan format tersebut atau hanya sebagian,” tutur Cameron seperti pernah dikutip Techradar.

Perekaman gambar pada proses syuting lanjutan film ini bisa jadi menggunakan kamera beresolusi 4K dengan 48 frame per second high frame. Artinya, gambar yang dihasilkan akan memiliki resolusi 3.840 x 2.160 piksel.

Resolusi itu setara empat kali lebih tajam dibanding teknologi sebelumnya, 1.280 x 720 piksel di standar resolusi high definition (HD) maupun 1.920 x 1.080 piksel untuk full HD. Dengan resolusi yang demikian kaya, mata penonton akan dimanjakan oleh detail dan warna tajam semirip aslinya.

Namun, sabar dulu, film kedua Avatar baru akan dirilis paling cepat pada tahun depan. Meski begitu, jangan khawatir juga. Untuk mencicipi tayangan beresolusi tinggi, Anda tak perlu menunggu selama itu.

Saat ini sudah banyak video dengan kualitas gambar 4K yang tayang, termasuk di internet. Film The Hobbit yang sudah lebih dulu muncul di layar lebar, juga memakai teknologi itu. Kalaupun terlewat menontonnya di bioskop, Anda masih bisa pula menikmati kekayaan warna film itu di rumah. Tentu, untuk itu butuh peranti yang tepat.

Untuk mendapat pengalaman menonton tayangan berkualitas 4K secara maksimal, Anda butuh media tayang dengan kualitas setara. Layar televisi yang dipakai menonton sebaiknya juga memiliki resolusi 4K.

Akan lebih mempesona lagi, bila televisi tersebut punya warna dasar digital yang bisa mereproduksi jutaan warna dalam tayangannya. Panasonic Viera dengan teknologi warna digital hexa chroma drive, misalnya.

Dalam teknologi digital, kebanyakan layar membenamkan kemampuan mereproduksi warna menggunakan tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru. Dalam teknologi teranyar, ada tiga warna lagi ditambahkan, yakni magenta, cyan, dan kuning. Hmm.. siap menongton Lurr.. (Bobotoh.id/Kompas.com)

[socialpoll id=”2326478″]

[socialpoll id=”2326739″]

 

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.