DURAN-DURAN MENOLAK SENJA KALA, RILIS “PAPER GODS”

Band asal Inggris ini tahu benar bahwa mereka perlu berdamai dengan zaman. Setelah ajang reuni lima personel awal: Simon Lebon, trio Taylor yang bukan kakak-adik (John, Andy, dan Roger), dan Nick Rhodes pada awal tahun 2000-an, mereka hanya memproduksi album-album yang seolah menjadi nostalgia masa keemasan mereka.

Sebagai seniman, mereka punya visi untuk menatap masa depan dan bukan tenggelam ditelan zaman. Mereka selalu punya Nick Rhodes, yang dari pertama menjadi semacam dirigen yang merancang irama musik . Suara-suara yang keluar dari kibornya menjadi penanda perubahan bab dalam perjalanan musik .

Kali ini yang dilakukan Duran Duran sungguh berbeda. Alih-alih meneruskan mood musik yang sudah mereka bangun selama tiga dekade, mereka kini memulai langkah yang baru. Melalui suara-suara modern, Duran Duran merilis album pada September 2015.

Para pencinta Duran Duran mungkin akan terkejut mendengarkan musik yang tersaji di album ini. Hampir tidak terdengar karakter musik mereka terdahulu.  Sejak reuni, mereka membuat musik yang mudah diterima kuping. Di Paper Gods, Duran Duran mengubah karakter musik mereka menjadi musik masa kini dengan “beat-beat” yang membuat kita mengangguk-angguk atau menjejak-jejakkan kaki di lantai.

Hampir semua lagu di album Paper Gods didominasi bunyi-bunyian yang diolah komputer, mulai dari dentuman bas drum hingga suara “futuristik” yang sering dipakai dalam film fiksi ilmiah. Meski demikian, peran tiap-tiap personel masih cukup kuat. Suara Simon Le Bon yang kini 57 tahun tidak banyak berubah meski tidak banyak melantunkan nada tinggi karena faktor usia.

Tenjo oge Lurr.. (10 VIDEO MUSIK INDONESIA TERBAIK 2015 PERSI ROLLING STONE (Bag. 1) | TENJO LURR..)

Pesona ketampanan John Taylor (55) yang tidak luntur oleh usia masih diimbangi dengan permainan yang simpel tetapi menyatu dalam musik. Roger Taylor tetap menjaga ritme musik dengan ketukan-ketukan drumnya meski terkadang kalah dengan dentuman-dentuman suara beat dari komputer.

Satu-satunya yang kurang adalah kegarangan cabikan gitar Andy Taylor yang kembali memutuskan mundur dari band untuk lebih konsentrasi mengurus klub musik rock miliknya. Penggemar Duran Duran mungkin mengerutkan dahi ketika mendengarkan album Paper Gods. Diputar berkali-kali pun tidak akan ketemu musik Duran Duran yang lama mereka akrabi.

Mungkin saja, buat Duran Duran, album Paper Gods menjadi ajang pamitan buat penggemar-penggemarnya. Mereka sekarang menatap ke depan. Jika dulu lagu-lagu mereka menghiasi lantai dansa, maka dengan musiknya di Paper Gods, mereka berupaya untuk memperkenalkan diri dengan generasi kini yang suka berdansa.

Musik perlu evolusi, dan Duran Duran sudah melakukannya. Zaman berganti, tetapi dalam musik industri tidak ada bagi seniman kreatif. (Bobotoh.id/kompas)

[socialpoll id=”2326227″]

[socialpoll id=”2324516″]

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.