IEU LUR, MENÉNJO TAMAN NASIONAL BALURAN DAN KAWAH IJEN !

Bobotoh.id – Siapa sangka hanya dalam waktu 2 hari para traveler bisa mengunjungi tempat eksotis yang ada di wilayah Wonorejo dan Banyuwangi. Traveler dari BKPW (Backpacker Kece Petarung Waktu) kali ini kembali melakukan perjalanan bersama orang-orang yang penat dengan kehidupan kota besar Jakarta yang selalu terburu-buru dan ambisius. Taman Nasional dan Kawah menjadi tujuan utama kami kali ini.

Ieu rame lur: POLEMIK UMUH BUKAN JEUNG PT. PBB, TAPI DENGAN….. !!!

Untuk menuju ke tempat yang sangat populer tersebut, kami dari Jakarta menggunakan kereta api tujuan Surabaya. Begitu kaki menginjak bumi Surabaya, kami melanjutkan perjalanan dengan  menyewa mobil. Cukup jauh ternyata, perjalanan menuju tempat wisata perlu waktu selama kurang lebih 7 jam lamanya.

Taman Nasional Baluran tempat yang pertama kami kunjungi.  Taman ini biasa juga disebut Africa van Java karena luasnya ladang savana yang tampak seperti di Africa aslinya. Hari ini kebetulan suasana savana sedang kering, sehingga waktu yang pas untuk melihat miniatur Africa ini. Taman Nasional Baluran mempunyai luas sekitar 25.000 hektar. Sekitar 40% di antaranya merupakan ekosistem alami, berupa padang savana Bekol yang merupakan savana terluas di Pulau Jawa.

Memasuki kawasan padang savana Bekol saat musim kemarau seperti menyaksikan padang savana Afrika dari dekat, ditambah pemandangan gunung Baluran setinggi 1.247 mdpl menjadi latar belakangnya.

Padang savana Bekol menjadi habitat asli bagi sekawanan binatang endemik Indonesia, seperti kera ekor panjang (Macaca fascicularis), rusa (Cervus timorensis), hingga banteng (Bos javanicus). Dari keseluruhan jenis fauna yang ada di Taman Nasional Gunung Baluran, 47 di antaranya merupakan binatang langka yang dilindungi undang-undang.

Setelah puas menikmati Taman Nasional Baluran, kita beranjak menuju Banyuwangi untuk menikmati kawasan Ijen yang terkenal akan blue fire-nya. Untuk menuju Kawah Ijen kita tetap menggunakan kendaraan yang kami sewa dari Surabaya. Perjalanan menanjak dan hutan hujan tropis menghiasi perjalanan kami malam itu.

Setelah sampai di pos basecamp pendakian Kawah Ijen di Desa Paltuding, kami bersiap-siap untuk mendaki. Saat itu jam menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Dan memang dinihari adalah waktu yang paling tepat untuk melihat fenomenalnya blue fire di Kawah Ijen ini.

Perjalanan mendaki yang menanjak membuat kami cepat lelah. Tak terasa ketika sampai di pertigaan antara ke puncak Ijen dan Kawah Ijen untuk melihat blue fire, ternyata waktu sudah pagi. Matahari keluar perlahan dari bukit yang mengelilingi kawasan ijen.

Walhasil, kami tidak bisa melihat fenomena blue fire, tapi kami tak kecewa karena masih bisa melihat eloknya pemandangan dari atas puncak Ijen. Pemandangan kawah belerang dengan air danaunya yang berwarna hijau serta kepulan asap belerang yang menambah eksotisnya kawah Ijen.

Kami tidak lupa mengabadikan momen indah tersebut dengan berfoto bersama. Tak terasa hari semakin siang dan waktunya harus kembali turun karena harus kembali lagi untuk ke Surabaya.


Bobotoh.id/RF/Liputan6.com

 

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.