LIBURAN “ANTI-MAINSTREAM” DI BALI, WISATA GAJAH CARANGSARI

Wisata naik sembari menyaksikan pemandangan lembah, persawahan, hutan dan sungai di kawasan , Petang, Kabupaten Badung, , diminati wisatawan mancanegara.

“Rute naik gajah Sumatera sekitar 60 menit. Wisatawan asing yang berminat akan diajak menyusuri lembah dan lainnya, dengan kondisi pemandangan alam yang masih alami,” ujar praktisi I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha di Kuta, Minggu (24/1/2016).

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Gung Inda, mayoritas wisatawan yang berminat mencoba atraksi wisata gajah berasal dari Eropa dan Asia. Namun, peminat dari wisatawan domestik belakangan juga makin bertambah.

Dia meneruskan, wisatawan yang mengikuti wisata gajah akan menjelajah wilayah seluas sepuluh hektare dengan pemandangan luas menghijau. Seperti sayur-sayuran di perkebunan penduduk dab padang bunga.

Tenjo oge Lurr.. (PAKET WISATA MELIHAT GMT MAKE KAPAL PESIAR | MILUAN LURR..)

Rute berikutnya menyaksikan kolam gajah, siamang, dan burung di habitat alami mereka. Melihat ke bawah Sungai Ayung yang menawan, dilanjutkan dengan mengambil beberapa gambar dari pemandangan menarik ini adalah pengalaman luar biasa bagi wisatawan.

Pengalaman lain adalah melihat langsung kehidupan keseharian masyarakat setempat dari atas gajah, jenis satwa yang tergolong langka dan tengah dalam upaya pelestarian.

Setiap wisatawan yang ingin mencoba atraksi naik gajah, dikenakan biaya antara Rp 600.000 – Rp 700.000. Maksimal wisatawan berusia 75 tahun, sesuai peraturan dari pihak asuransi.

Biasanya setiap ‘high season’ turis datang bersama keluarga atau rombongan dalam jumlah besar, pada akhir Desember atau pertengahan tahun. Kalau sudah ‘low season’, maka jumlah wisatawan otomatis berkurang hingga setengahnya.

Disinggung ketatnya persaingan usaha wisata, dikatakan Gung Inda, setiap bisnis selalu ada kompetisi. Namun justru persaingan hendaknya disikapi dengan sikap inovatif.

“Supaya turis tidak jenuh, kita tawarkan bagi yang beratraksi naik gajah, ditawari kombinasi ke tempat pembuatan cokelat atau bersepeda. Kalau turis kurang minat, bisa ditawari lagi kegiatan lain,” ujar Gung Inda yang sekaligus Ketua Hipmi Bali.

Sikap inovatif, mesti dimiliki pengusaha di bidang apapun, agar bisnis tetap bertahan di tengah ketatnya kompetisi. (Bobotoh.id/kompas)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.