LIVE REVIEW: FRAU ‘TENTANG RASA’ PERSI ROLLING STONE

Beda Kota, beda rasa.

Untuk yang belum tahu, aku Leilani Hermiasih atau Lani, dan ini (menunjuk keyboards, Red) Oskar. Kami dari Frau,” sebuah sapa pembuka menyenangkan dari Lani yang disambung dengan nada minor ceria dari Oskar. “Semoga kalian nggak bosan, ya, karena aku selalu memakai perkenalan itu,” tawaan canggung para penonton yang kebanyakan berdomisili di Jakarta pun menyambut.

Perkenalan tersebut memang sudah sering digunakan di panggung-panggung Frau sebelumnya, termasuk ‘Konser Tentang Rasa’ edisi Bandung dan Yogyakarta yang berhasil digelar pada 2015 lalu. Dan Rabu (20/1) malam kemarin, ‘Konser Tentang Rasa’ dari Frau kian mempertebal babadnya karena Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, telah menjadi jilid ketiganya.

Sekitar satu jam sebelum Frau menyapa penonton, ‘Konser Tentang Rasa’ dibuka oleh penampilan duo musikal puisi bernama AriReda. Duo yang sudah terbentuk sejak 1982 silam ini tampil begitu hangat menyanyikan lima lagu berlirik puisi berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”, “Kartu Pos Bergambar Jembatan ‘Golden Gate’ San Francisco”, “Kupu-kupu”, “Gadis Peminta-minta”, dan “Hujan Bulan Juni”.

Tenjo oge Lurr.. (AYA PAMERAN “ROCK MEMBERONTAK” DI JAKARTA)

Ruangan pertunjukan GKJ akhirnya dibuat gelap gulita. Lani muncul dari latar panggung dengan membawa lampu petromaks elektriknya. Ia duduk di belakang Oskar, dan ada lampu yang hanya menerangi wajah mungilnya. Lani mulai mengeluarkan suara hum dari mulutnya sebagai intro. Lampu dari sisi kanan dan kiri mulai bertugas lebih banyak, konser tunggalnya pun dibuka dengan tiga nomor sekaligus tanpa jeda obrolan yaitu “Sembunyi”, “Berdiri Aku”, dan “Berita Perjalanan”. Setelah tiga lagu ini Lani mulai berkenalan dengan penonton seperti halnya di paragraf pertama.

Perihal set list, Frau kali ini menampilkan urutan lagu yang berbeda dengan ‘Konser Tentang Rasa’ edisi sebelumnya di Yogyakarta. Bahkan terdapat satu puisi yang ia nyanyikan berjudul “Tiada Bunga Merekah”. Hal ini Lani jelaskan sebagai respons dirinya atas puisi Sapardi Djoko Damono yang pernah dinyanyikan oleh AriReda berjudul “Ketika Jari-jari Bunga Terbuka”.

 

LIVE REVIEW: FRAU 'TENTANG RASA' PERSI ROLLING STONE

Sedangkan konsepnya tentu saja masih sama dengan dua edisi sebelumnya, yaitu bagaimana konser ini dapat memancing lebih dalam panca indera penonton dalam menikmati dan mengalami sebuah suguhan musik. Tak hanya telinga dan mata saja yang dimanjakan, ‘Konser Tentang Rasa’ juga coba memikat indera penciuman dengan menyebarkan berbagai macam wewangian.

Namun sayangnya untuk upaya memikat indera penciuman, sepertinya ‘Konser Tentang Rasa’ edisi Jakarta tidak cukup berhasil. Berbagai macam wewangian yang sudah disiapkan seperti kayu manis, teh hijau, vanila, hingga permen minthanya sekelebat muncul lalu menghilang. Itu pun tergantung kepada posisi tempat duduk yang tepat.

Satu kekurangan tampil bertandang di kota orang, berimbang dengan satu kelebihan yang tak ditemukan di konser kota asal. Kualitas ruangan akustik GKJ nyatanya memaksimalkan penampilan Frau pada malam itu; ditambah lagi pengeras suara yang dibuat khusus untuk musik Frau dibawa langsung dari Yogyakarta. Daya prima di departemen suara mulai terasa lewat penampilan menghibur dari Frau bersama musisi tamu Erson Padapiran (trumpet) saat membawakan lagu “Mr. Wolf” dan “I’m A Sir”.

Setelah istirahat selama sepuluh menit, segmen kedua ‘Konser Tentang Rasa’ dibuka dengan penjelasan Lani kepada penonton tentang segmen nyanyi bersama lagu baru berjudul “The Butcher” dan “Tukang Jagal”. Berkat panduan Lani sebelum memulai lagu serta secarik kertas lirik yang dibagikan – tidak dilakukan di edisi konser sebelumnya – segmen ini terasa lebih lancar dan tidak canggung.

Di lagu “Mesin Penenun Hujan”, latar panggung hitam penuh lubang yang cukup lama menganggur akhirnya dipergunakan. Cahaya-cahaya lampu berwarna kuning mengalir ke setiap lubang dan menghujani punggung Frau, membuat penonton sontak terpesona. Sebagai timbal balik rasa kagum penonton yang Lani rasakan, dirinya pun hanya memberi senyuman manis sambil memainkan bagian intro lagu.

Bagian klimaks datang ketika Frau menampilkan lagu “Suspens” dari albumHappy Coda dan lagu baru yang berjudul “Layang-Layang”. Pasalnya di dua lagu ini, mereka tampil bersama string section kecil yang terdiri dari tiga pemain biola, satu pemain cello, dan satu pemain bass. Suara kian ramai namun padat, bagian-bagian lagu kian sempurna dengan permainan apik setiap personel. Tak boleh dilupakan, fungsi tata lampu yang juga lebih interaktif.

Setelah memukau membawakan “Tarian Sari”, GKJ diselimuti lampu berwarna merah. Kali ini salah satu lagu yang paling ditunggu yaitu “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” yang versi aslinya merupakan milik grup Melancholic Bitch akhirnya dibawakan. Nyanyian penonton makin terdengar, dan Lani sepertinya merasakannya. ‘Konser Tentang Rasa’ edisi Jakarta pun ditutup oleh lagu “Arah” dan disambut standing ovation dari sebagian besar penonton.

Selain kurang maksimalnya wewangian sepanjang acara – meski bukan konsep utama – beberapa penonton juga dipastikan mendapat kesan yang tidak terlalu istimewa terhadap konser ini karena beberapa alasan. Bukan karena kelengahan dari pihak Frau atau penyelenggaranya, tapi dari perilaku penontonnya sendiri. Beberapa dari mereka masih berlalu lalang dan datang terlambat, beberapa lebih fokus memainkan telepon genggamnya, bahkan ada yang menggunakan camera tipe DSLR yang jelas dilarang. Sangat disayangkan, karena kesempatan untuk hikmat menikmati seperti ini mungkin akan sulit didapatkan kembali. (Bobotoh.id/rollingstone)

[socialpoll id=”2324032″]

[socialpoll id=”2324516″]

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.