PENGAKUAN SOPIR TAKSI NU NGANGKUT “PENUMPANG HANTU” DI DAERAH TERKENA TSUNAMI

Pada awal musim panas tahun 2011, seorang sopir taksi yang bekerja di Ishinomaki, Prefektur Miyagi, , yang telah hancur oleh dahsyat beberapa bulan sebelumnya, mengalami sebuah pertemuan misterius.

Seorang perempuan yang mengenakan mantel naik ke taksinya di dekat Stasiun Ishinomaki. Perempuan itu memberitahukan tujuannya kepadanya, “Tolong antarakan saya ke (Distrik) Minamiyama.”

Si sopir, yang berusia 50-an tahun, bertanya, “Daerah itu sepi, apakah itu tidak apa-apa?”

Perempuan itu kemudian berkata dengan suara gemetar, “Apakah saya telah meninggal?”

Terkejut dengan pertanyaan itu, sopir tersebut menengok ke kursi belakang. Namun, tidak ada siapa pun di sana.

Seorang mahasiswi tingkat akhir di Fakultas Sosiologi Universitas Tohoku Gakuin, Yuka Kudo, memasukkan pengalaman sopir itu dalam tesis kelulusannya, sebagaimana dilaporkan koran Jepang,The Asahi Shimbun, di situs jejaringnya, Kamis (21/1/2016).

Kudo mengatakan, tujuh sopir taksi dilaporkan telah mengangkut “para ” menyusul gempa besar yang disusul tsunami di Jepang pada Maret 2011.

Kudo (22) setiap minggu pergi ke Ishinomaki pada tahun pertama kuliahnya untuk mewawancarai para sopir taksi yang menunggu penumpang. Dia bertanya kepada mereka, “Apakah Anda memiliki pengalaman yang tidak biasa setelah bencana tersebut?”

Dia mengajukan pertanyaan itu terhadap lebih dari 100 sopir. Banyak dari mereka mengabaikan pertanyaannya. Beberapa menjadi berang. Namun, tujuh orang menceritakan pengalaman misterius mereka kepadanya.

Seorang sopir taksi lain yang berusia 40-an tahun menceritakan pengalamannya yang tidak bisa dijelaskan. Menurut sopir itu, seorang pria yang tampak berusia 20-an tahun masuk ke taksinya. Ketika pengemudi itu melihat ke kaca spion, penumpangnya menunjuk ke arah depan.

Sopir itu berulang kali bertanya kepada penumpangnya tentang tujuannya. Kemudian, penumpang itu menjawab, “(Gunung) Hiyoriyama”. Ketika taksi tiba di sana, orang tersebut menghilang.

Menurut Kudo, laporan tujuh sopir itu tidak dapat dengan mudah didiabaikan sebagai ilusi. Pasalnya, jika seorang penumpang naik taksi mereka, sopir mulai memasang argometer, dan hal itu tercatat.

Jika para penumpang itu memang “hantu”, mereka tetap dihitung sebagai penumpang. Akibatnya, para sopir tetap harus membayar tarif untuk mereka.

Beberapa dari tujuh sopir itu menuliskan pengalaman mereka di catatannya. Satu orang menunjukkan catatannya, yang menyatakan bahwa ada ongkos yang belum dibayarkan.

Karena “hantu-hantu” yang ditemui para sopir itu semuanya muda, mereka diyakini bisa jadi merupakan roh dari korban bencana tahun 2011.

“Anak-anak muda merasa sangat sedih (dengan kematiannya) ketika mereka tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang mereka cintai. Ketika mereka ingin menyampaikan kepedihan mereka, mereka mungkin memilih taksi, yang seperti kamar pribadi, sebagai media untuk melakukan hal itu,” kata Kudo kepada The Asahi Shimbun.

Hal yang membuat Kudo terkesan adalah, para sopir itu tidak merasa takut terhadap “penumpang hantu” mereka. Para sopir justru memperlakukan mereka dengan hormat. Mereka menganggap pertemuan itu sebagai pengalaman penting yang harus dihargai.

Para sopir taksi merasakan kesedihan sehari-hari penduduk di Ishinomaki, tempat banyak orang tewas akibat tsunami. Seorang sopir mengatakan, ia kehilangan seorang anggota keluarga dalam bencana itu.

Seorang sopir lain mengatakan, “Bukan hal aneh melihat hantu (di sini). Jika saya bertemu hantu lagi, saya akan menerimanya sebagai penumpang saya.”

Kudo berasal dari Prefektur Akita, yang tidak terkena tsunami. Sebelum mewawancarai para sopir taksi, ia hanya menganggap para korban sebagai “ribuan orang” yang telah meninggal dalam bencana itu.

“(Melalui wawancara ini), saya belajar bahwa kematian setiap korban merupakan hal penting,” katanya. “Saya ingin menyampaikan hal itu (kepada orang lain).” (Bobotoh.id/Kompas.com)

[socialpoll id=”2325561″]

[socialpoll id=”2324891″]

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.