#SAVESIDOLIG , NOSTALGIA LAPANGAN PERSIB DI ERA PENJAJAHAN

Perjalanan Tim Pangeran Biru sebagai salah satu bond nasional di Bandung penuh rintangan.  pernah dikucilkan dan diremehkan oleh bond bikinan Belanda di Bandung, VBBO (Voetbal Bond Bandoeng & Omstraken). Urusan lapangan pun menjadi masalah besar karena semua lapangan yang ada di kota Bandung dikuasai oleh pemerintahan Belanda.

Persib yang lahir di tahun 1933 beruntung memiliki tokoh-tokoh nasionalis yang peduli kepada perserikatan tersebut. Sebelumnya pernah ada bond nasional lainnya, BIVB (Bandoeng Inlandische Voetbal Bond) yang mewakili kota Bandung, tetapi dalam perjalananya nama mereka hilang tertelan sejarah.

Jadilah Tim Maung Bandung sebagai bond nasionalis satu-satunya yang datang ke kompetisi PSSI dari kota Bandung. Cibiran dari VBBO pun tak membuat Persib melemah, bahkan mereka berhasil membungkam VBBO dengan membawa pulang gelar juara tahun 1937 dari ‘wonderteam’ saat itu, Persis Solo.

Seiring berjalannya waktu, VBBO pun membubarkan diri. Persib yang bermain di Lapangan Cilentah, Lapangan Ciroyom dan juga Tegallega menyambut gembira dengan pembubaran bond bikinan penjajah Belanda tersebut. Beberapa klub anggota VBBO pun berbondong-bondong masuk ke Persib, seperti UNI dan . Bahkan Persib ketiban untung dengan mendapatkan lapangan eks VBBO, seperti Lapangan UNI (sekarang alun-alun kota Bandung), Lapangan dan juga Lapangan Sparta (Stadion Siliwangi).

Jadilah Persib memiliki lapangan untuk membina timnya. Tak hanya lapangan legendaris di pinggiran kota Bandung seperti Cilentah, Ciroyom dan Tegallega, akan tetapi Persib semakin identik sebagai ikon sepak bola Bandung dengan hijrah ke lapangan tengah kota Bandung. Aloon-Aloon Bandoeng atau Lapangan UNI yang dulu lebih identik dengan orang-orang Belanda pun berubah dengan lautan pribumi yang ingin melihat Persib singgah bermain di lapangan yang kini menjadi taman kota di Bandung.

Meski demikian, setelah Persib kembali merebut kota Bandung dari VBBO dan menjelma menjadi klub besar di Indonesia, nasib Sidolig saat ini bisa dibilang miris. Stadion warisan Belanda dari Mr. Frans Sidolig itu dirasa kurang terawat rumputnya.

Saat penulis berkunjung ke stadion yang berdiri dari tahun 1903 itu, kondisi rumput yang buruk diikuti kontur lapangan yang sangat keras. Hal itulah yang membuat Persib jarang menggunakan lapangan tersebut untuk berlatih.

Mengenai Sidolig, ada cerita yang belum banyak diketahui. Sidolig yang merupakan singkatan dari ‘Sport in de Openlucht is Gezond’ atau yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Olahraga di udara terbuka adalah sehat’ merupakan klub anggota internal Persib Bandung yang kini bernaung di Pengcab PSSI Kota Jawa Barat.

Nasib Sidolig zaman Belanda dan zaman setelah kemerdekaan sangat jauh berbeda. Jika di masa VBBO, Sidolig menjadi klub tangguh bersama UNI dan Sparta, kini Sidolig menjadi klub yang tak memiliki ‘rumah’. Demi kelancaran Persib berlatih di Stadion Sidolig, SSB dan klub Sidolig pun harus angkat kaki dari lapangan yang bertahun-tahun menjadi rumah mereka.

Selepas Frans Sidolig pergi ke Belanda usai kemerdekaan, lapangannya pun diserahkan dan dikelola oleh Kolonel Udara Kapto. Sidolig mempercayakan lapangan tersebut dikelola oleh orang Indonesia agar bisa digunakan untuk kepentingan sepak bola dan olahraga untuk warga Bandung.

Persib di era 1950-an pun pernah merasakan stadion ini saat berhadapan dengan kesebelasan Nan Hua dari Cina Selatan tahun 1953. Stadion Sidolig pun entah bagaimana berubah nama menjadi Stadion Persib, dan menjadi mes para pemain Persib.

Namun, saat Dada Rosada menjadi Wali Kota Bandung ada kesepakatan dengan manajer tim Sidolig, Ali Angga untuk mengalih kepemilikan Lapangan Sidolig kepada Pemerintah Kota Bandung yang nantinya akan menjadi tempat latihan sepenuhnya Persib. Setelah kesepakatan tersebut terjadi, stadion yang kini dikelola oleh Pemerintah Kota Bandung pun resmi menjadi pemerintah kota dan bukan lagi SSB Sidolig.

Opini yang beredar di masyarakat kota Bandung tentang Stadion Sidolig pun bisa dibilang salah. Stadion ini tidak dikelola oleh Persib secara tim, tetapi pemerintah kota yang diperuntukan untuk Persib.

Kini, setelah SSB Sidolig memilih menyewa lapangan Yonkav-4 di Jalan Salak Bandung. Sidolig pun menjadi tempat latihan Persib seutuhnya. Akan tetapi, saat ini Sidolig sudah tidak lagi memungkinkan untuk tempat berlatih Maung Bandung.

18 PEMAIN NGARAMÈKEUN LATIHAN PERSIB, SATU ABSEN !

Lapangan yang keras merupakan salah satu alasan Persib ‘meninggalkan’ Sidolig. Persib lebih memilig berlatih di lapangan futsal taman kota Bandung atau di lapangan daerah Cimahi yang memang lebih baik kondisinya di banding Sidolig.

Meski Persib tidak lagi berlatih di Sidolig, lapangan ini tetap bergema menjadi salah satu lapangan yang digemari warga Bandung untuk berolahraga. Selain itu, kompetisi internal Persib yang dikelola Pengcab Kota Bandung pun dilangsungkan di sini. Sebagai lapangan pemerintah kota, Sidolig pun menjadi tempat pemain-pemain muda anggota Persib menunjukan dirinya untuk bisa menjadi bagian Persib U-17.

Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki lapangan sepak bola yang berlimpah. Persib pun dengan jeli memanfaatkan potensi tersebut sejak jaman Belanda untuk lebih memopulerkan bond yang berdiri pada 1933 itu. Setelah perjuangan R. Enoch membangun Persib dari Cilentah, kini Maung Bandung tak kesulitan untuk sekedar mengadakan pertandingan sepak bola berskala nasional dan Internasional.

Meski Persib di masa lalu sangat identik dengan Stadion Siliwangi, dan kini dengan Stadion Si Jalak Harupat-nya, namun Sidolig adalah simbol kemenangan dan kembalinya Persib ke pusat kota Bandung. Perjuangan Anwar Pamuntjak dan Otto Iskandardinata dalam mengembalikan martabat sepak bola pribumi di Bandung lewat Persib pun telah tercapai. Dan kini, setelah sempat vakum prestasi hampir 20 tahun, Persib menemukan lagi kejayaannya di masa kini.

Satu masa yang takkan kembali, dan Persib membuktikan ada sejarah panjang untuk meraih kebanggan yang sekarang benar-benar melekat di hati para pecinta sepak bola Bandung. Dan Sidolig hadir di dalamnya.

* Penulis Timur Paramayudha, penikmat sepak bola nasional asal Jakarta. (.id/RF/Bola.com) (Foto: viva.co.id)

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.