TRADISI ‘PENCARIAN BAKAT’ MUSISI DI PISA CAFE

Berawal dari tradisi menampilkan band menemani pengunjung yang asik bercengkrama, justru menjadi salah satu pilihan bagi para musisi pemula untuk menjajal industri musik Indonesia.

Ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu yang lalu, Glenndy, Marketing Corporation Pisa Cafe mengisahkan bagaimana bar dan cafe yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat, itu jadi bagian sejarah karier Ari Lasso dan Raisa.

“Kalau saya bilang, pengunjung di sini bisa jadi produser musik sepertinya,” kata Glenndy sembari tertawa. “Karena mereka telinganya sensitif sekali, mereka bisa menilai bukan hanya dari segi musiknya tetapi juga penampilannya dan berinteraksi dengan pengunjung juga dinilai.”Pisa Kafe memiliki tradisi menampilkan band atau musisi baru untuk mengisi panggung sejak masih di periode awal kafe ini berdiri pada 1993 silam. Pertunjukan live music itu sendiri diselenggarakan dari pukul 21.00 hingga 24.00 WIB, setiap hari.

Setiap harinya pula kafe yang terkenal dengan gelato ini memiliki tema berbeda untuk musik yang akan dibawakan. Beragam genre mulai dari Top 40 hingga rockdan acapella mendapatkan tempat di panggung Pisa Cafe.

Demi mempertahankan tujuan menghibur pengunjung, pihak manajemen tidak sembarangan dalam mengizinkan musisi awam manggung di Pisa Cafe. Mereka membuka pintu bagi siapapun yang ingin berpentas, tapi harus diaudisi terlebih dahulu.

“Kadang ada yang terang-terangan dari kafe lain datang ke sini untuk mencari band. Karena band dari kafe ini enak buat pelanggan,” kata Glenndy.

Bila sebuah band lolos audisi, maka mereka akan dikontrak sekitar dua hingga tiga bulan. Begitu memasuki akhir masa kontrak, maka akan dievaluasi kembali mulai dari penampilan hingga interaksi dengan pengunjung.

Penilaian bukan hanya dari pihak kafe, tetapi juga melibatkan pengunjung. Pengunjung memberikan evaluasi dan tanggapan mereka terhadap sebuah band. Dan komentar pengunjung dianggap penting bagi pihak Pisa Cafe.

Bukan cuma musisi indie yang berminat menyanyi di kafe ini. Tetapi musisi baru yang sudah punya label juga sangat antusias berdendang di kafe yang berusia 22 tahun ini. Hal ini dimaksudkan agar dapat menarik publik. Meski sudah berlabel, Pisa Cafe tetap memberlakukan audisi.

Beberapa musisi memang terbukti sukses di pasar industri Indonesia. Mereka pun kadang kerap mampir kembali ke kafe ini dan bernyanyi dalam kesempatan tertentu.

Tenjo oge Lurr.. (JAMS, KELAB JAZZ CIKAL BAKALNA FESTIVAL MUSIK AKBAR)

“Raisa pernah balik lagi, dan mereka suka komentar ‘sering-sering deh diundang ke sini’ tapi kalau mereka dengan senang hati menyanyi ya kami sangat welcome.” kata Glenndy.

Hingga kini, Pisa Kafe belum berminat untuk mengganti tradisi mereka. Semua karena menginginkan kepuasan pelanggan dan citarasa yang menjadi ciri khas kafe ini, baik dari makanan ataupun pertunjukan musiknya. (Bobotoh.id/cnnindonesia)

[socialpoll id=”2324516″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.