BOS FACEBOOK: OTT JUSTRU MENGUNTUNGKAN OPERATOR TELEKOMUNIKASI!

Sebagai salah satu penyelenggara layanan online terbesar (over the top – ) , WhatsApp, dan Instagram bebas berjalan di atas infrastrukur telekomunikasi di seluruh dunia (termasuk Indonesia) secara cuma-cuma. Jumlah pengguna dan angka pemakaian yang besar dari layanan-layanan itu banyak menyedot bandwith jaringan.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa selaku pemilik infrastruktur yang “ditumpangi” tidak memperoleh keuntungan dari OTT.

Namun benarkah begitu? Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg punya pendapat sebaliknya.

Seperti dilaporkan jurnalis KompasTekno Oik Yusuf, menurut Zuckerberg, OTT dan operator justru bisa menjalankan “simbiosis mutualisme” yang saling menguntungkan.

“Para pengembang aplikasi memicu timbulnya permintaan atas data dari konsumen yang ingin mengkonsumsi aneka konten dari internet seperti video, misalnya,” ujar Zuckerberg ketika berbicara di sesi keynote Mobile World Congress 2016 di Barcelona, Spanyol, Senin (22/2/2016).

Ieu rame Lurr.. (RUMAH PENDIRI FACEBOOK NGADADAK DIJAGA 16 SATPAM | KABANGSATAN KITU?)

Hal ini, menurut dia, bakal menguntungkan juga buat operator karena mendorong tingkat konsumsi data yang pada akhirnya mmberi kontribusi pada pendapatan perusahaan telekomunikasi.

“Semakin besar konsumsi data semakin untung pula operator karena di era sekarang ini mereka berjualan paket data, bukan lagi voice seperti dulu,” lanjut Zuckerberg yang pada malam itu mengenakan setelan kaus abu-abu, celana jeans, dan sepatu kets andalannya seperti biasa.

Dia menggunakan istilah “pengembang aplikasi” (app developer), namun pada dasarnya mengacu pada para penyedia layanan over the top, termasuk Facebook sendiri.

“Ingatlah bahwa konsumen tidak membayar untuk memakai Facebook, mereka justru membayar untuk paket data dari operator,” tambah Zuckerberg.

Tak mau diatur

Konflik kepentingan antara OTT dan operator melahirkan regulasi baru dari pemerintah. Di Eropa misalnya, belakangan terbit aturan yang meminta OTT agar diatur berdasarkan lisensi, mirip model lisensi pada operator telekomunikasi.

Di Indonesia, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara tahun lalu pernah mengutarakan niatnya untuk mengikuti langkah Eropa dan menerapkan regulasi serupa di Indonesia.

Namun Zuckerberg menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan wacana ini. Dia beralasan Facebook menganut model bisnis yang sama sekali berbeda dari operator telekomunikasi dan karena itu tidak bisa diperlakukan secara sama.

“Kami tidak membangun infrastruktur fisik, hanya mengembangkan aplikasi. Kami butuh kebebasan regulasi agar dapat menjalankan model bisnis yang sesuai,” tutupnya. (.id/BBS/Kompas.com)

[socialpoll id=”2335996″]

[socialpoll id=”2334877″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.