TWITTER DI INDONESIA TEMPATNA PARA SEPUH | EH NAHA?

Indonesia lama dikenal sebagai “ibu kota” Twitter. Namun, belakangan layanan microblogging ini menunjukkan tanda-tanda mulai ditinggalkan. Bersama dengan Meksiko, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu basis pengguna Twitter terbesar di dunia. Angka penetrasi Twitter di Tanah Air mencapai 74 persen dari keseluruhan pengguna internet.

Tapi di balik itu, jumlah pengguna aktif Twitter di Indonesia sebenarnya telah menurun 10 persen dalam 2 tahun terakhir hingga tinggal sepertiga dari pegguna internet, menurut catatan Global Web Index dari Reuters, Senin (15/2/2016).

Apa yang menjadi pemicu “senja kala” Twitter di Indonesia? Sebabnya disinyalir tak hanya berkaitan dengan keberadaan platform media sosial lain yang menarik pengguna, tapi juga keadaan di Twitter yang mulai berubah menjemukan.

“Kalau Twitter membuat perubahan atau memberikan sesuatu yang baru, menarik dan unik, saya rasa orang tidak akan kembali menggunakan Twitter,” ujar Enda Nasution, seorang blogger dan founder media sosial lokal Sebangsa, yang memiliki akun Twitter dengan sekitar 200 ribu follower.

Juru bicara layanan microblogging tersebut enggan berkomentar dengan alasan belum melihat data yang dimaksud. Dia memberi catatan bahwa di wilayah seperti Indonesia dan India, pengguna muda getol berkicau lewat Twitter.

Ieu rame Lurr.. (NINI-NINI HILANG, WEHH.. DITEMUKAN LEWAT TWITTER)

Namun laporan keuangan Twitter yang dirilis Rabu (10/2/2016) lalu mengungkapkan hal sebaliknya. Disebutkan bahwa jumlah pengguna aktif Twitter di Indonesia yang berusia 16-24 tahun lebih sedikit dari wilayah lain seperti Spanyol, Meksiko, dan Inggris.

Bulan lalu, lembaga survei JakPat mengatakan bahwa para anak muda Indonesia lebih jarang memakai Twitter secara reguler dibanding segmen pengguna lain yang lebih tua, yakni kalangan berusia 26 tahun ke atas. Kaum muda di bawah batas umur tersebut cenderung beralih ke layanan lain seperti Facebook, Instagram, dan Line.

Tempat orang tua

Di Indonesia, Twitter ramai digunakan sebagai ajang kampanye politik. Para relawan dan bot beradu kicau menyebarkan kata-kata yang oleh Shafiq Pontoh -chief strategic officer dari firma konsultasi media sosial Provetic di Jakarta- disebut sebagai “tsunami” black campaign, hoax, prasangka buruk, dan spam.

Twitter, kata Shafiq, “Telah berubah menjadi tempat yang tidak nyaman.” Sesekali, debat kusir di Twitter bahkan bisa berlanjut jadi adu jotos.

Contohnya seperti yang terjadi Februari tahun lalu di Istora Senayan, antara dua pengguna Twitter yang menyerang dan membela kebijakan Presiden soal mobil Proton. Suasana seperti itu, menurut blogger Enda Nasution, membuat para pengguna Twitter merasa tak betah, lalu menarik diri dan melompat ke aneka layanan online lain yang banyak tersedia.

Memang, ada banyak pihak yang memanfaatkan Twitter untuk menyalurkan aneka konten berguna buat para penggunanya. Institusi pemerintah dan Presiden Joko Widodo sendiri, misalnya, kerap berkicau di Twitter untuk menyampaikan pengumuman.

Lalu ada juga akun TMC Polda Metro Jaya yang mengicaukan informasi lalu lintas secara rutin untuk membantu para pengendara dan warga kota yang berlalu-lalang. Tapi pengamat teknologi Aulia Masna menilai hal-hal ini masih terlalu pasif untuk para pengguna muda.

“Orang-orang menggunakan media sosial untuk mencari hiburan dan bersenang-senang,” katanya. “Sementara Twitter di Indonesia lebih dikenal sebagai alat pencari berita serta ajang debat dan politik. Jadi layanan ini menarik kalangan serius yang berusia lebih tua.” (Bobotoh.id/BBS/Nextren.com)

[socialpoll id=”2333282″]

[socialpoll id=”2332876″]

 

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.