GERAKAN PEDULI SOSIAL MELALUI MEDSOS

Pada akhir Mei 2015, Edi Fadhil (31) sedang menunggui motornya diperbaiki di bengkel di Desa Lhok Gajah, Sawang, Aceh Utara. Matanya tertuju pada sebuah rumah kontruksi kayu, beratap rumbia, dan berlantai tanah, yang letaknya selemparan batu dari bengkel batu.

Rumah itu milik Habibullah, seorang mualaf. Usai meminta izin kepada pemiliknya, Fadhil memotret rumah itu dengan kamera telepon genggamnya.

Gambar rumah itu diunggah ke akun Facebook miliknya. Di keterangan gambar, dia menuliskan pesan bernada provokasi. “Saya menantang teman-teman, setiap like dan komentar wajib bayar Rp 100.000 untuk membantu merehap rumah keluarga miskin itu,” kata Fadhil, Selasa (2/2/2016), ditemui di Banda Aceh.

Tak ayal, hanya dalam satu bulan saja, uang sebanyak Rp 12 juta terkumpul untuk merehab rumah. Para warga media sosial menyumbang dengan ikhlas untuk membangun rumah Habibullah.

Pekan itu juga, rumah reot Habibullah direhab menjadi rumah permanen tipe 36.
Dari peristiwa kecil itu, Fadhil mulai merenungi. Ternyata masih banyak orang yang peduli terhadap nasib orang lain.

Dia merasa terpanggil. Dari peristiwa kecil yang mencerahkan itu, kemudian muncullah Gerakan Mari Berbagi. “Saya yakin setiap orang punya rasa empati pada orang lain, namun terkadang orang tidak memiliki cukup waktu untuk berbagi,” kata Fadhil.

Fadhil berusaha menjadi fasilitator, yakni mempertemukan para dermawan dengan mereka yang butuh uluran tangan. Saat ini sudah ada 10 unit rumah untuk kaum dhuafa yang dibangun dengan biaya “gotong-royong” warga media sosial.

Fadhil tidak pernah bertemu dengan donator-donatur itu, namun setiap ada sumbangan yang masuk ke rekeningnya, dia unggah ke media sosial miliknya.

“Sebagai pertanggungjawaban, meski sebenarnya mereka tak pernah memintanya,” kata Fadhil yang saat ini bekerja sebagai pegawai negeri di Sekretariat Pemerintah Aceh.

Selain memfasilitasi para dermawan membangun rumah bagi dhuafa, Gerakan Mari Berbagi juga memfasilitasi penyaluran beasiswa dari donatur kepada anak-anak putus sekolah.

Setidaknya saat ini ada 130 anak, yang semula putus sekolah sudah bisa bersekolah lagi. Besaran beasiswa yang disalurkan antara Rp 150.000 – Rp 200.000 per bulan.

Pada awal Januari lalu, Fadhil bersama relawan GMB mengunjungi sekolah di pedalaman Aceh Timur. Sekolah swasta yang hampir rubuh.

Untuk mencapai sekolah itu, mereka harus mengarungai sungai dengan perahu kayu selama satu jam. Gambar sekolah dan surat tulis tangan siswa sekolah itu diunggah ke media sosial.

Esoknya, belasan filantropi menghubungi Fadhil dan bersedia membangun sekolah itu. Saat ini sekolah itu dalam proses pembangunan.

Gerakan SADaR

Sejenis dengan Gerakan Mari Berbagi, ada pula Gerakan Sahabat Aneuk Dhuafa Pidie Mengajar atau SADaR, yang diinisiasi oleh Ismail Von Sabi (39). Gerakan SADaR juga telah berhasil menyelamatkan puluhan anak-anak di Kabupaten Pidie yang putus sekolah.

Saat malam mulai larut, Ilyas masih bekerja menyiapkan barang-barang dagangan. Kini, gerakan kepedulian sosial di Aceh makin tumbuh. Gerakan sosial di Aceh diinisiasi oleh anak-anak muda yang bertujuan membantu keluarga kurang mampu.

“Mereka punya hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Pendidikan dan kehidupan yang layak milik semua anak bangsa,” kata Ismail suatu malam saat baru pulang menjenguk satu keluarga penderita gizi buruk. Awal Januari lalu, Ismail mendapatkan kabar, ada satu keluarga di Garot, Indrajaya, Pidie, hidup dalam kemiskinan. Hari itu juga dia meluncur ke sana.

Dia tiba di sana bersama matahari terbenam. Di rumah berlantai tanah dan berdinding tripleks bekas itu, Ismail tertegun melihat empat bocah kurus dan kuyu. Empat bocah berusia 13 tahun, 11 tahun, 7 tahun, dan 6 tahun itu sejak pagi belum makan. Ayahnya, Ilyas, 46 tahun, belum pulang dari berjualan rokok gantung ke kota kabupaten, 10 kilometer dari rumah.

Ismail langsung ke warung untuk membeli jus buah dan roti. Anak-anak itu memakan dengan lahap. Esoknya foto dan kisah keluarga Ilyas diungguh ke media sosial. Seminggu kemudian banyak orang mengirim sumbangan kepada kelaurga itu.

Ieu rame Lurr.. (ROCKET ROCKERS GALANG PETISI DEMI TAMPIL DI AS | DUKUNG LURR..)

Wakil Bupati Pidie, Iriawan juga tergerak untuk berkunjung ke rumah itu. Pemerintah berkomitmen membangun rumah dhuafa untuk Ilyas dan memberikan modal usaha. Bagi Fadhil dan Ismail, kerja sosial yang mereka lakukan tak ubahnya hobi. Hobi membantu orang lain. Senang melihat orang lain bahagia.

Tumbuh membanggakan

Gerakan sosial yang dipelopori oleh masyarakat, termasuk oleh para netizen di media sosial, terus tumbuh membanggakan dan merupakan kekuatan besar dalam mendorong perubahan sosial. Mereka mengusung semangat humanisme transendental. Di Aceh, dalam dua tahun terakhir, gerakan sosial yang lahir dari komunitas-komunitas warga memang kian tumbuh.

 

Mereka bergerilya ke sudut-sudut kampung, mengarungi sungai yang ganas, dan mendaki bukit yang tinggi. Di sana, kepada warga yang selama ini kerap terabaikan, mereka berbagi ilmu dan menebar optimisme. Tak jarang pula, para relawan itu menjadi jembatan mempertemukan warga yang terpuruk dengan para filantropi.

Beberapa komunitas yang aktif melakukan aksi sosial seperti Gerakan Mari Berbagi (GMB), Sahabat Aneuk Dhuafa Pidie Mengajar (SADaR), Relawan Pendidikan Tanah Rencong, Rumah Relawan Remaja, Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman), dan Blood For Life Foundation (BFLF).

Komunitas tersebut bergerak di ranah yang berbeda. Namun, tujuannya sama, yakni meningkatkan taraf hidup orang lain.

Saat negara tak mampu menjamah hingga ke ruang sempit, kelompok sosial mulai dari grup-grup kecil, termasuk grup warga pengguna internet atau netizen, hadir mengisi ruang itu. Di tangan orang-orang yang punya hati, pada akhirnya, media sosial benar-benar menjadi modal sosial untuk membantu sesama. (Bobotoh.id/Kompas.com)

[socialpoll id=”2329513″]

[socialpoll id=”2329145″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.