JUMLAH KARYAWAN YANG TERKENA PHK BISA CAPAI 10.000 JELEMA

Presiden Konfederesi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Ikbal mengingatkan pemerintah bahwa potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantui Indonesia, khususnya pada industri migas, komponen otomotif dan komponen elektronik.

“Potensi PHK akan terjadi di industri tersebut, migas karena harga minyak yang anjlok, sedangkan komponen otomotif dan sepeda motor karena penjualan kendaraan bermotor menurun,” ujar Ikbal di Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Ieu rame Lurr.. (FORD INDONESIA TUTUP, PULUHAN KARYAWAN DI-PHK)

KSPI mencatat, sejak Januari 2016, jumlah PHK mencapai 8.000 tenaga kerja. Rinciannya, Panasonic dan Toshiba mem-PHK 2.145 orang. Perusahaan Elektronik Korea, Samoin (1.166 orang), Starlink (452 orang), dan perusahaan yang bergerak di sektor industri perminyakan (5.000 orang).

“Dari migas saya dapat informasi Halliburton PHK karyawan 10 persen. Chevron juga,” papar Ikbal.

“Dugaan kami yang kena PHK hingga hingga Maret mendatang akan mencapai 10.000 orang. Angka itu belum termasuk Jaba Garmindo, Ford, Opel, Danamon, Cimb niaga,” lanjut dia.

Khusus untuk industri sepeda motor dan komponen elektronik, Ikbal mengatakan potensi PHK tidak mengancam karyawan tetap, melainkan tenaga kerja kontrak. “Biasanya kalau kontraknya habis diperpanjang, tapi saat ini tidak diperpanjang lagi. Sama saja dengan PHK,” tutur dia.

Seperti yang diberitakan, Spanjang Januari – September 2015 Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ada sekitar 43.085 buruh yang di-PHK. Jumlah tersebut belum termasuk ribuan pekerja lainnya kini dirumahkan dan terancam di-PHK.

Tanggal 2 Februari 2016 lalu, PT. Panasonic dan PT Toshiba berencana untuk menutup pabriknya yang berlokasi di beberapa tempat di Indonesia. Penutupan pabrik-pabrik tersebut berpotensi membuat sekitar 2.500 pekerja akan terkena PHK. (.id/Kompas.com)

[socialpoll id=”2329145″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.