LALAKI BERTOPI KOBOI JEUNG SAMPAH MASYARAKAT

TRENGGANA berpapasan dengan laki-laki bertopi koboi di depan gang. Dia tak mengenal laki-laki yang tiba-tiba menghentikan langkahnya itu.
“Mau ke mana?” tanya laki-laki perlente itu.

“Cari tambahan, Pak,” jawab Trenggana.

“Saya titip. Ini buat beli empat botol,” tukasnya sambil menyodorkan uang Rp 50 ribu.

Merasa mendapat angin, Trenggana segera ke Warung Engkong.

Empat botol bir hitam dalam satu plastik sudah di tangan. Sesampai di hadapan pria misterius itu, Trenggana langsung menyerahkan bawaannya.

“Ini. Empat botol bir hitam,” serunya.

“Ya sudah, buka saja,” sahut laki-laki itu.

Tapi apa lacur, Trenggana mendapati keempat botol itu kosong!

“Kamu itu bagaimana, tho? Botol kosong kok dibeli?” seloroh laki-laki itu, tertawa.

Trenggana tak bisa berdalih apa pun untuk membela diri. Sebab, dia tadi membeli empat botol bir hitam tapi kenyataannya botol itu menjadi tanpa isi ketika diserahkan kepada laki-laki tak dikenal itu.

Dengan muka merah padam, ia cepat ke Warung Engkong meremas uang Rp 50 ribu kedua dari pemodalnya. Bisa ditebak betapa marah Trenggana kepada Engkong.

“Engkong! Jangan main-main ya. Aku ini disuruh orang beli bir! Kok Engkong ngasih botol kosong?” ujar Trenggana.

Engkong tak kalah marah karena dituduh menipu pembeli. Tapi perdebatan tidak berlangsung lama karena Trenggana harus buru-buru balik ke mulut gang.

“Ini, Pak. Empat botol,” serunya.

Plastik dibuka dan,” Piye tho, botol kosong kok dibeli!”

Mata Trenggana terbelalak. Dia yakin betul Engkong memasukkan empat botol bir hitam. Ya! Empat botol berisi bir hitam.

“Plastik yang saya jinjing itu memang berat. Bukan botol kosong!” cerita Trenggana kepadaku.

Tapi, laki-laki itu hanya tertawa. Tidak marah. Dia memberi uang lagi, kali ini Rp 100 ribu. Waktu itu, menurut Trenggana, bir hitam berharga Rp 12.500,00 per botol. Trenggana disuruh beli sekali lagi.

“Kamu itu disuruh beli bir hitam saja tidak bisa. Dilihat dulu baik-baik, botolnya kosong atau tidak. Supaya tidak mondar-mandir begini,” pesan laki-laki dermawan itu.

“Tapi, saya tadi..” sahut Trenggana.

“Sudah, sudah, sana beli lagi. Periksa dulu baik-baik. Teliti ya,” kata dia. Trenggana kehabisan kata. Dua kali membeli bir hitam, dua kali pula botolnya mendadak kosong.

“Sampeyan ini bikin malu. Saya ini disuruh orang beli bir hitam! Jangan main-main!” seru Trenggana kepada Engkong. Ributlah mereka.

“Kosong bagaimana? Emang tutup botolnya sudah terbuka ketika saya jual? Kan masih tertutup rapat!” kata Engkong, tak kalah sengit.

“Bisa saja itu akal-akalan Sampeyan. Sini, kasih saya delapan botol bir hitam. De-la-pan!”

Dengan tegas Trenggana meminta Engkong menaruh delapan botol bir hitam di depan matanya. Tak cuma cermat menghitungnya, dia bahkan membolak-balik botol-botol itu satu per satu. Memastikan dia melihat sendiri gelembung bir di dalamnya. Isi! Botol-botol itu benar-benar berisi bir hitam! Setengah berlari, Trenggana secepatnya kembali ke mulut gang.

“Piye?” sambut laki-laki itu, masih dengan roman datar. Nyaris tanpa ekspresi.

“Sudah jelas ini, Pak. Kali ini pasti tidak kosong! Saya periksa satu per satu. Saya memasukkan sendiri ke dua plastik ini,” jelas Trenggana.

“Ya, ya. Itu teman-temanmu, suruhlah ke sini minum bareng,” serunya.

Sekali tepuk, teman-teman Trenggana yang tak jauh dari situ langsung bergabung.

“Sini, sini. Ayo segera dibuka botol-botol itu. Sudah malam,” ujar pria itu.

Bersama teman-temannya, Trenggana segera menyergap dua plastik berisi delapan botol bir hitam. Dan.. “Lho, kok kosong?” seru orang-orang itu nyaris bersamaan.

“Walah, kamu ini bagaimana tho? Sudahlah. Pulang, pulang! Sudah malam,” kata laki-laki itu. Mereka bubar. Trenggana melongo.

Hari-hari berikutnya, Trenggana masih ke gang di kawasan Dolly, Surabaya, Jawa Timur itu. Tapi, dia tidak jumpa lagi dengan sosok misterius tersebut. Penasaran, Trenggana bertanya kepada warga di sana seraya menyebut ciri-ciri laki-laki itu.

“O, ? Sudah lama Beliau tidak ke sini. Dulu hampir tiap hari,” ujar seorang tukang becak. Warga lainnya juga menjawab begitu.

Gus Miek, yang bernama lengkap KH Chamim Jazuli, memang punya cara berdakwah yang sangat unik. Dia menemani para pelacur, pejudi, pemabuk, dan orang-orang yang dicap sebagai sampah masyarakat untuk kemudian memberi “petuah” tanpa menggurui.

Trenggana, dan entah berapa banyak orang lagi, mendapat hidayah sejak Gus Miek menjumpai.

Gus Miek sudah lama berpulang ke Rahmatullah, dan kami merindukan figur berkarakter Bapak sepertinya. Khotbah dan fatwa memang sangat baik untuk umat. Tapi, terutama di kala orang-orang di Dolly, Kalijodo, atau entah di mana lagi, disergap dengan ancaman neraka, aku yakin mereka butuh dipeluk Gus Miek dan dimengerti kesusahannya di dunia.

Trenggana mengenang Gus Miek dengan berziarah ke makam Tambak Ngadi, Ploso, Kediri, Jawa Timur. Gus Miek mewariskan Dzikir Ghofilin yang fenomenal dan terus diamalkan oleh puluhan ribu jamaah Majelis Semaan Qur’an Jantiko Mantab di berbagai daerah. Ketika di sini, di Hotel Elmi, Surabaya, langganannya semasa hidup, aku merindukan Gus Miek.

Surabaya, 25 Februari 2016

(.id/Kompas.com)

 

[socialpoll id=”2334877″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.