MELEDUGH DI MEDSOS, PEMERINTAH DATANGI KEDIAMAN BOCAH PENJUAL MAKARONI IEU| EH, KUNAUN KITU?

Upaya Eko Adi Prasetyo (9) membantu pengobatan ibunya, Dewi (30), mulai mendapat titik terang. Pemprov Jawa Tengah bersama Pemkot Semarang akhirnya mendatangi kediaman Eko untuk membantu ibundanya berobat di rumah sakit. “Sudah, kemarin ada utusan dari gubernur dan banyak dari pemerintah yang datang. Mereka datang menawarkan bantuan,” kata Dewi, saat dihubungi, Rabu (10/2/2016).

Menurut dia, utusan pemerintah itu umumnya menawarkan bantuan agar Dewi bisa berobat di rumah sakit tanpa biaya. Namun, Dewi justru kebingungan lantaran telah berjanji dengan para donatur lain yang terlebih dulu menawarkan bantuan.

Ieu rame Lurr.. (GERAKAN PEDULI SOSIAL MELALUI MEDSOS)

Hari ini, kata dia, tim dari Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama puskesmas setempat juga berkunjung ke kediaman Dewi. Mereka menawarkan pemeriksaan kesehatan karena selama berobat, dirinya tidak pernah membawa kartu BPJS, Kartu Indonesia Sehat, maupun kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Setelah melakukan pemeriksaan identitas, Dewi ternyata adalah warga asli Kalibanteng, Kota Semarang. Tim pemerintah itu lantas berjanji untuk mengusahakan Dewi mendapat kartu Jamkesmas Kota Semarang agar dia tak perlu dipusingkan dengan biaya pengobatan.

“Tapi, saya enggak bisa hari ini untuk berobatnya, saya belum selesai urus-urus pindahannya,” ujar Dewi lagi. Tim Pemkot Semarang, kata dia, mengatakan akan mendampingi ketika dia hendak menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

Lantaran mobilitas Dewi yang terbatas, pemerintah menawarkan mobil puskesmas keliling untuk mengantar perempuan itu ke rumah sakit. “Saya harus bagaimana ini? Saya berterima kasih banyak atas bantuan yang banyak selama ini,” imbuh ibu dua anak ini.

Kisah Eko yang berjualan makaroni berkeliling sempat menjadi viral di media sosial. Berkat pemberitaan itu juga, para relawan berdatangan memberikan bantuan baik berbentuk uang maupun barang. Eko mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk menjajakan makaroni yang dihargai Rp 1.000 setiap bungkusnya. Kebanyakan pembeli makaroni yang dijajakan Eko adalah para ibu rumah tangga.

Eko berharap suatu saat bisa membantu kondisi orangtuanya. Oleh karena itulah, ia bercita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) agar bisa membantu kehidupan keluarganya. (.id/BBS/Kompas.com)

[socialpoll id=”2326477″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.