MICROSOFT NYIEUN DATA CENTER DI BAWAH LAUT | BISA KITU?

Microsoft yakin masa depan akan “ditenggelamkan” ke . Setidaknya ada beberapa hal yang memicu kesimpulan tersebut.

Pertama, data center sebagai medium transfer dan penyimpanan arus data berbagai layanan (streaming video, e-mail, media sosial, dll) terdiri dari ribuan komputer serveryang menghasilkan panas.

Ketika panas itu mencapai suhu tertentu, server akan rusak. Untuk itu, standar utama data center adalah ketersediaan alat pendingin.

Permasalahan kedua, alat pendingin peredam panas itu akan menyedot banyak energi listrik. Hal ini tentu tak sejalan dengan kampanye pendiri Bill Gates tentang lingkungan sehat dan hemat energi.

Maka peneliti Microsoft memutar otak untuk mengoperasikan data center bawah laut yang ramah lingkungan, awet, dan lebih mumpuni. Upaya tersebut mereka namakan “Proyek Natick”.

“Ketika saya pertama kali mendengar pemikiran ini, saya pikir ‘air, listrik, kenapa kita melakukan ini?'” kata desainer komputer Microsoft Ben Cutler. Ia sekaligus menjadi teknisi untuk Proyek Natick.

Tapi, kata dia, setelah dipikir dalam-dalam, data center bawah laut adalah hal paling masuk akal yang bisa dilakukan.

Ieu rame Lurr.. (PEMUDA JERMAN DAKI PUNCAK PIRAMIDA GIZA NGAN 8 MENIT | WEWW..)

Mekanismenya seperti apa?

Simpelnya, Proyek Natrick membuat jaringan bawah laut dengan memanfaatkan banyak kapsul baja raksasa. Masing-masing dihubungkan kabel serat optik.

Ada juga wadah berbentuk seperti kacang jeli yang ditangguhkan tepat di bawah permukaan laut. Tujuannya menangkap arus laut dengan turbin yang menghasilkan listrik untuk server.

Menurut peneliti, dengan memproduksi banyak kapsul, mereka bisa menyingkat waktu penyebaran data dari data center lama ke data center baru di bawah laut.

Dari prediksi waktu dua tahun dengan perpindahan konvensional, menjadi 90 hari saja. Hal itu akan signifikan menghemat duit.

Peneliti juga yakin, kontener-kontener server akan membantu layanan web bekerja lebih cepat. Sebab, banyak populasi dunia kini tinggal di pusat-pusat urban yang dekat dengan perairan dan jauh dari lokasi data centerkonvensional.

Artinya, menaruh sistem komputasi di wilayah perairan, akan mendekatkan sistem itu ke pengguna. Alhasil, performa sistem komputasi diklaim bakal meningkat.

Percobaan teranyar

Microsoft telah melakukan percobaan penempatan kapsul berdiameter 8 kaki selama 105 hari. Kapsul itu diletakkan 30 kaki di bawah permukaan perairan Samudera Pasifik, di pantai lepas California Tengah dekat San Luis Obispo, AS.

Kapsul bawah laut itu dibenamkan 100 sensor berbeda untuk mengukur tekanan, kelembaban, gerakan, dan hal-hal lainnya. Tujuannya agar peneliti memahami kondisi pengoperasian bawah laut.

Pengontrolan dilakukan dari kampus Microsoft. Menurut tim proyek, hasil percobaan bisa dibilang sukses, bahkan di atas ekspektasi. Kendati demikian, peneliti belum mengungkap hasilnya secara detil.

Yang jelas, hasil itu memacu para teknisi memperpanjang waktu eksperimen. Mereka bahkan menjalankan pemrosesan data komersil dari layanan komputasi cloud Microsoft Azure.

Sejalan dengan itu, tim peneliti kini merancang sistem bawah laut baru yang bakal tiga kali lipat lebih besar. Menurut teknisi Microsoft, percobaan kedua akan dimulai tahun depan. Kemungkinan dilakukan di dekat Florida atau Eropa Utara. (Bobotoh.id/Nextren)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.