PENGALAMAN SERU BOBOTOH YANG GAWÈ DI UGD RUMAH SAKIT PEMERINTAHAN ! #PART 1

Bobotoh tersebar diseluruh penjuru dunia. Dengan ragam pekerjaan, agama, suku, dan budaya mereka setia menyebut satu nama, . Salah satunya berakun twitter Outsider Bandung – @outsider022. Ia merupakan pegawai di salah satu Pemerintah yang akan menceritakan pengalamannya saat bekerja, silahkan disimak !

——————————-

outsider

Awalnya penulis tak pernah menyangka “berlabuh” mencari nafkah di tempat & bidang yang tak sesuai ijasah atau keahlian yang didapat dari SMK. Tapi kata peribahasa orang tua “kalau mencari pekerjaan sesuai ijasah dan keahlian, sangat sulit & ngga tau kapan bisa dapat semua itu”.

Lalu, waktu itu penulis sebetulnya bekerja di sebuah tempat yg bergerak dibidang jasa kuliner atau catering. Entah bagaimana ceritanya, namanya juga rahasia Illahi, ada orang yg menawarkan pekerjaan di RS besar di kota Bandung.

Sebenarnya terbersit rasa bingung, walau hati tak keberatan untuk menerima pekerjaan disana. Kenapa bingung? apakah nanti bisa menjalankan tugas & kewajiban sebagaimana mestinya di Rumah Sakit dan bagian UGD (Unit Gawat Darurat) tersebut? apakah stamina juga bisa mendukung? apakah nantinya kuat bertahan disana dengan bayangan bahwa di bagian UGD adalah tempat dimana pasien yang pertama masuk dengan kondisi gawat dan darurat, dengan berbagai macam kondisi/penyakit pasien?

Masalah takut mah Alhamdulillah ngga ada, soalnya niatnya adalah bekerja dengan halal, membantu orang-orang sakit dan kebetulan penulis bukan orang yang penakut gara-gara kebanyakan nonton film horor buatan anak Indonesia (paham kan ya film horor Indonesia banyak yg berlebihan atau malah “membodohi” dengan tujuan menakuti penontonnya yg berefek paranoid tentang rumah sakit)

Kembali lagi……..

Saat penulis ditawari pekerjaan ini, beliau yang hanya bertanya “apa kamu gengsi kerja di Rumah Sakit yg tugasnya dorong-dorong pasien dari UGD ke ruangan? dengan berbagai macam karakter pasien beserta keluarganya, dengan berbagai kondisi dan penyakit yang diderita pasien, apa kamu sanggup?” lanjut beliau

“Pekerjaan ini ngga ada hubungannya dengan keahlian dan ijasah kamu, juga jangan terlalu berharap muluk-muluk besarnya gaji yang sesuai impian kamu, apa kamu sanggup?”
entah kenapa saat itu penulis dengan mantap hanya bisa menjawab “Insya Allah ngga gengsian atau malu dengan bertemu banyak orang, karena niatnya hanya bekerja demi membantu perekonomian keluarga. soal gaji, saya sadar bahwa ijasah hanya ijasah sekolah menengah, yang penting bisa sedikit meringankan beban orang tua”.

Iya, buat apa kita gengsi dengan suatu pekerjaan selama itu halal dan kita sanggup menjalaninya. Apalagi di tempat yang seperti Rumah Sakit, siapa tahu bisa jadi ladang pahala untuk kita juga…

Kemudian penulis mempersiapkan segala sesuatunya termasuk berkas-berkas yang harus dibawa saat melamar ke kantor instalasi tersebut. sSingkat cerita… esoknya saat pertama menginjakkan kaki di kantor pastilah ada perasaan was-was dan grogi, soalnya ngga ada persiapan apapun kalau harus ada wawancara dari bagian SDM. Penulis hanya membawa berkas-berkas lamaran pekerjan yang umum dibawa saat akan melamar kerja dan yang pasti doa dari orang tua penulis yang mengiringi setiap nafas dan langkah berikhtiar mencari rejeki halal.

Seingat penulis, hari itu hanya diisi dengan penyerahan berkas lamaran lalu dilanjut pengarahan kondisi lapangan beserta tugas-tugas yang nantinya harus dilaksanakan oleh penulis. Saat itu penulis bersama dua orang yang sama-sama melamar pekerjaan mendapat arahan dari perawat senior di bagian UGD tersebut. Hari besoknya, penulis barulah resmi bekerja di bagian UGD.

Ternyata memang bekerja di Rumah Sakit, khususnya di UGD itu butuh mental & stamina ekstra. Tanpa mengecilkan profesi di bidang lainnya, karena di UGD, kita harus selalu siap siaga menerima pasien yang datang, yang butuh pertolongan untuk ditangani dan diobati, tentunya dengan catatan yang harus digaris bawahi: “tidak semua pasien yang datang pasti diterima di UGD, tergantung tingkatan kondisi & kegawatan si pasien tersebut.

Itu perlu dilakukan demi pasien juga, jangan sampai terlalu banyak pasien di UGD yangg sebenarnya bisa ditangani di bagian rawat jalan. Jika terlalu banyak pasien pun imbasnya kepada pasien-pasien itu sendiri, seakan-akan ada kesan pilih kasih antara si kaya dengan si miskin. Padahal sama sekali tidak! Dokter dan perawat akan memilah pasien sesuai tingkat kegawatannya, siapa yang paling parah dan mengancam nyawa, itulah yang mendapat prioritas utama, mendapat pertolongan medis.

Pasien lainnya pasti mendapat pertolongan dan perawatan setelah pasien-pasien yang lebih gawat dan darurat ditangani juga sudah stabil kondisinya. Tapi yang pasti semua pasien mendapat pantauan dari semua dokter maupun perawat, jadi ngga ada istilah mana yang berduit itu yang ditolong duluan.

Secara umum, UGD adalah instalasi yang memberi layanan yang disediakan untuk kebutuhan pasien yang dalam kondisi gawat darurat dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat yang cepat. Sistem pelayanan yang diberikan menggunakan sistem triage, dimana pelayanan diutamakan bagi pasien dalam keadaan darurat (emergency), BUKAN berdasarkan antrian seperti di instalasi rawat jalan pada umumnya.

Apa yang dapat di layani di UGD ?

– Pasien gawat darurat, tidak darurat, darurat tidak gawat dan pasien tidak gawat, tidak darurat oleh karena penyakit tertentu.
– Pasien akibat kecelakaan (Accident) yang menimbulkan cidera fisik, mental, sosial, gangguan pernafasan, Susunan saraf pusat, Sistem Kardiovaskuler, Trauma, berbagai luka, patah tulang, infeksi, gangguan metabolisme, keracunan, kerusakan organ, dll.
– Penanganan kejadian sehari-hari, korban musibah massal (kecelakaan lalu lintas beruntun, keracunan) yang jumlah korban/pasiennya banyak dan bencana alam

Ternyata eh ternyata…Lama kelamaan penulis merasa sangat betah dan enjoy ditempatkan di UGD, malah merasa sangat bersyukur. Kenapa? Menurut pendapat pribadi penulis sebagai awam (bukan paham medis), bisa bekerja di UGD bisa mengenal berbagai macam penyakit atau luka yg harus ditangani segera di UGD, mengetahui tindakan-tindakan dasar penanganan pasien gawat & darurat.

Banyak saudara dan teman penulis yang bertanya “kenapa kok mau dan sanggup bekerja di tempat seperti UGD?” Kalau dijawab secara bahasa medis sih jelas penulis ngga akan sanggup menjawab, tapi dengan sederhana, penulis hanya bisa menjawab “kalau kita sudah bisa menguasai pekerjaan pokok kita & kita enjoy dengan semuanya itu, ngga ada alasan untuk keluar dari sana. Toh bekerja di IGD ngga sehoror yg kalian bayangkan”.

Iya pasti dong, dimana ada suka, disitu ada duka. Selain menambah koneksi, penulis bisa punya kenalan banyak dokter juga perawat, bisa mempelajari berbagai macam karakter & sifat orang, sangat banyak ilmu yg didapat penulis selama bekerja di IGD.

Dulu penulis ngga paham harus bagaimana kalau misalnya, menemukan korban kecelakaan lalu lintas, yang kena serangan jantung, bahkan jika menemukan kasus tersedak biji yang sepele tapi bisa berakibat kematian jika ngga segara ditolong dengan cara yang cepat tapi tepat, dan beberapa kasus lainnya. Semua didapat dari beberapa pelatihan dasar penanganan pasien gawat darurat.

Bekerja di UGD itu ngga mengenal tanggal merah atau libur, kecuali kita dapat jatah libur setelah shift malam. Alhamdulillah penulis masih diberi stamina yang cukup kuat untuk begadang, ngga tidur dari awal masuk dinas malam sampai besok paginya, jika shift malam jam dinasnya 10 jam. Entah itu dinas pagi, shit sore atau malam, sedikit banyaknya pasien ngga bisa diprediksi.

Tapi sebenarnya penulis lebih enjoy kerja di shift sore & malam, kenapa? hanya kaum pekerja yg paham lah hahaha…

Berbagai kasus kejadian yang sampai masuk media massa elektronik & surat kabar, pernah dialami. seperti kecelakaan lalu lintas bis KB dengan elf di jalur Nagrek Cicalengka, tabrakan di tol Padaleunyi atau Cipularang contohnya, yang beberapa kali menimbulkan banyak korban. Penulis melihat langsung bagaimana kondisi korban/pasien yang datang di UGD. Dari yang patah tulang (kaki atau tangan), kepala yang luka berat…kalau diceritain mah ngeri-ngeri sedap gitu lah, bisa merinding bulu kuduk kalau diingat mah.

Waktu heboh virus flu burung atau flu babi pun penulis pernah mengalami. penulis sampai harus memakai pakaian pelindung diri khusus pasien virus menular. Alhamdulillah beberapa kali masuk tv atau koran walau jelas ngga keliatan wajahnya karena seluruh badan tertutup, dari kelapa sampai kaki.

Yang namanya kerja di bagian UGD pasti ada jaga hari Raya, khususnya hari raya Idul Fitri pasti akan lebih sibuk. Penulis merasakan gimana rasanya begadang di malam takbiran, beberapa kali jaga di hari Idul Fitri, saat orang lain bisa berlebaran dengan keluarga di rumah atau mudik ke kampung halaman, penulis dan tenaga medis lainnya harus siaga di UGD demi melayani dan bersiap seandainya terjadi sesuatu hal yg tidak diinginkan.

Tapi ya itulah, jika kita sudah enjoy dengan pekerjaan, kondisi seperti itu ngga jadi masalah besar, malah kita serasa mendapat motivasi lebih, dedikasi dan mencari pahala. Selain itu, kalau jaga di hari Lebaran mah, biasanya banyak makanan (wareg laaah…)

Ternyata penulis pernah masuk TV saat liputan berita di salah satu TV swasta, saat meliput malam tahun baru (kalau ngga salah mah), saat itu penulis di depan pintu masuk UGD menerima pasien yang datang dengan tubuh penuh luka akibat sabetan senjata tajam, kepala dan badannya bermandikan darah segar, tercium bau alkohol yang sangat kuat…
Soal awal dan penyebab kenapa si korban mengalami itu, bukan urusan penulis. Tugas penulis saat itu, siaga menerima datangnya pasien ke IGD. Kebetulan waktu itu ada 1-2 orang jurnalis yang sedang meliput kegiatan UGD di malam tahun baru, tapi penulis ngga menganggap mereka ada, dalam artian, bertugas dan bekerja seperti biasa, ngga berharap diliput lalu masuk media (teu hayang jadi artis laaaaahh…).

Dan dari omongan saudara dan teman yang kebetulan menonton berita tersebut, ada yang ngeri, ada yang acung jempol kepada penulis yang berani tanpa rasa jijik menerima pasien yang berdarah-darah… Mau gimana lagi atuh kalau udah jadi tugas mah, tarimakeun weh ku rasa ikhlas…(bersambung)

*Penulis adalah seorang bobotoh dengan akun twitter @outsider022 yang bekerja disalah satu Rumah Sakit Pemerintah di Kota Bandung Bagian (IGD) atau (UGD)Isi tulisan diluar tanggung jawab redaksi | Hatur nuhun |


Jika bobotoh mempunyai tulisan dan ingin ditayangkan di website bobotoh.id silahkan kirim melalui email : idbobotoh@gmail.com disertai nama lengkap, akun twitter dan foto.

[socialpoll id=”2327464″]

Komentar

Luur, Nu Ieu Tos Dibaca?

Helmi M. Permana

Orang Bandung, suka foto, suka bola, & suka musik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.