TENDANG ANAK HINGGA TEWAS, AYAH BIKIN SKENARIO BUANG JASADNYA

M Efendi (36) nyaris membuat warga percaya dengan skenario yang dibuatnya setelah menendang anaknya hingga tewas, Jumat (12/2/2016) lalu itu. Saat memberi keterangan di Polsek Lubuk Baja, Minggu (14/2/2016), Efendi bercerita, setelah tahu anaknya meninggal, dia lalu membersihkan tubuh anaknya dan menyimpannya di balik koper.

Efendi yang tinggal di dekat kawasan pasar Induk RT07 RW04, itu lalu mulai berpura-pura menanyakan anaknya kepada warga sekitar. Dia lalu bercerita bahwa anaknya hilang, Jumat siang.
Warga setempat bahkan sempat ikut panik dan percaya kalau sang anak hilang diculik orang. Effendi mengaku bahwa anaknya menghilang dari rumah saat dia pergi keluar.

Untuk meyakinkan tetangga, dia bahkan mengumumkan bahwa anaknya hilang melalui pengeras suara di mushala terdekat.

Warga yang mendengar pengumuman lalu ikut mencari Maulana. Semua warga di RT07 itu ikut menelusuri bahkan ke sebuah bekas galian yang ada disana karena khawatir Maulana tenggelam di kolam tersebut.

Pencarian terus dilakukan tetapi tidak membuahkan hasil. Karena tidak kunjung bertemu, akhirnya warga pulang ke rumah masing-masing. Peristiwa hilangnya Maulana lalu dilaporkan pelaku ke Polsek Lubuk Baja.

Skenario lanjutan

Setelah itu, Effendi baru kembali pulang ke rumah setelah malam. Begitu sampai di rumah, dia menyiapkan skenario lanjutan agar mayat anaknya tidak diketahui berada di rumah. “Setelah kembali ke rumah. Saya sempat tidur dan terbangun sekitar pukul 03.00 WIB (Sabtu (14/2/2016) dinihari,” katanya.

Saat tersentak itu, Efendi kemudian mengambil jasad anaknya yang disimpannya di balik koper di dalam kamarnya. Efendi berencana meletakkan jasad Maulana begitu saja di depan mushala, seolah-olah dia menjadi korban pemukulan dan penculikan.

Namun dalam perjalanan menuju mushala, dia kaget melihat tiga orang warga yang sebelumnya ikut membantu mencari anaknya berjalan ke arahnya. Karena tersentak, jasad korban yang dibungkus dengan kain itu terjatuh dan nyemplung ke kolam yang berada dekat ia berdiri.

“Lalu tiga orang itu bertanya sama saya, udah ketemu anakmu bro, saya jawab ‘belum’. Kemudian saya pergi meninggalkan kolam itu. Tapi tiga orang tadi tidak pergi-pergi sampai besok paginya,” ungkapnya.

Ieu rame Lurr.. (HATI-HATI LUR ! 4 PERTANYAAN IEU BISA MENYIEUN ANAK ALAMI GANGGUAN JIWA !)

Selanjutnya, sekitar pukul 07.00 WIB, warga dikagetkan dengan penemuan mayat Maulana yang mengapung di kolam tersebut.

Effendi pun berpura-pura kaget dan membawa anaknya pulang ke rumah untuk dimakamkan.

Selang beberapa menit, polisi mendatangi TKP. Korban pun langsung dibawa ke rumah sakit otorita Batam (RSOB) untuk divisum.

Visum “berbicara”

Kapolsek Lubuk Baja Kompol I Dewa Nyoman ASN mengatakan, awalnya, polisi memang mengira bahwa Maulana tewas karena tenggelam di dalam kolam.

“Saat anggota lapor kalau anak yang hilang itu sudah ketemu dan mengapung di kolam. Kita tidak curiga, berarti anak itu memang dapat musibah,” ungkapnya.

Namun, polisi mulai curiga karena berdasarkan keterangan sejumlah saksi, saat pencarian berlangsung, kolam itu sudah diperiksa warga. Bahkan warga sempat masuk ke kolam untuk memastikan kalau sang anak memang tidak ada di dalamnya.

“Ada warga yang bilang seperti itu. Katanya mereka sempat periksa di dalam kolam saat melakukan pencarian. Tetapi tidak ketemu, di sana kita mulai curiga,” kata Dewa.

Kecurigaan pihak kepolisian semakin menguat ketika polisi meminta kepada orangtua korban agar anaknya divisum ke rumah sakit. Saat itu, Efendi, pelaku yang juga ayah kandung sang anak menolak permintaan polisi.

Setelah diberikan penjelasan oleh kepolisian, barulah pihak keluarga mengizinkan visum dilakukan.

“Kita berikan penjelasan kepada mereka. Memang untuk kasus seperti ini prosesnya harus divisum. Baru mereka paham dan akhirnya memperbolehkan korban kita bawa,” lanjut Dewa.

Setelah dilakukan pemeriksaan ditemui banyak tanda kekerasan di tubuh korban. Korban mengalami pendarahan di bagian ginjal, sobek di leput usus, dan ada bekas memar di tubuh korban. Selain itu, dari hasil visum juga tidak ditemui paru-paru korban basah terkena air.

“Di sana kita bisa menyimpulkan, kalau korban dibuang setelah dia tewas,” ungkapnya.

Kecurigaan polisi pun membuat Efendi akhirnya mengaku bahwa dirinya menendang anaknya hingga tewas. Dia beralasan tersulut emosi saat sang anak buang air besar dan selalu rewel, sedangkan istrinya tengah bekerja mengumpulkan barang bekas.

“Dia di rumah bertiga. Saat kejadian istrinya tidak di rumah, sementara anaknya yang paling kecil tengah berada di ayunan,” tutur Dewa. (.id/Kompas.com)

[socialpoll id=”2331656″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.