LIVE REVIEW: 30 TAHUN KAHITNA “LOPE PESTIPAL”

Penuh cinta, kejutan, dan nostalgia

Sebuah layar putih raksasa, yang dipasang diagonal menyelimuti seluruh panggung, menjadi hal pertama yang menyapa mata pengunjung Plenary Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta, pada Sabtu (13/2) malam. Bentuknya yang tidak terduga menyisakan tanda tanya besar akan seperti apa dalam perayaan ulang tahun ke-30 nya ini, sekaligus menimbulkan spekulasi bahwa musik dewasa ini memang sudah berbeda standar: musik saja tidak cukup.

Pertanyaan tersebut terjawab ketika bagian tengah bidang putih tersebut terbuka dan menampakkan para personel Kahitna yang telah siap menyapa penontonya. Sambutan—lebih terdengar sebagai jeritan penggemar wanita tentunya—langsung bergema melihat sosok ketiga vokalis; Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario Ginanjar. Tayangan visual Exquisite Indonesia yang ditembakkan proyektor turut menemani kesembilan personel tersebut.

Di belakangnya, Yovie Widianto terduduk di depan pianonya, diikuti Budiana Nugraha pada drum-nya, Doddy Isnaeni pada bass, Bambang Purwono pada posisi keyboard, Andrie Bayuadjie sebagai gitaris, dan Harry Suhardiman pada perkusi.

Ketiga vokalis menggebrak panggung dengan “Bagaimana”, “Everybody Needs Somebody”, dan “Permaisuriku”, sebelum akhirnya menyapa penggemarnya, “Selamat malam soulmate Kahitna!” Lagi-lagi teriakan yang didominasi oleh wanita terdengar. Hal yang sudah pasti akan dimaklumi.

Sesuai dengan janji Yovie pada jumpa pers yang diadakan sehari sebelum pelaksanaan konser, mereka membawakan lagu persis seperti apa yang ada di album. Hanya beberapa yang dibawakan dengan gaya berbeda, seperti “Tentang Diriku” yang dibawakan uptempo dan “Takkan Terganti”—yang ironisnya berganti dengan aransemen jazz. Meski demikian, dahaga penonton akan nomor hits seperti “Menanti”, “Engga Ngerti”, “Katakan Saja”, “Andai Dia Tahu”, “Tak Sebebas Merpati”, “Menikahimu”, dan “Tak Mampu Mendua” tetap terpuaskan.

Kemunculan grup vokal Project Pop menjadi kejutan pertama. Sayangnya, tembang “Gara-Gara Kahitna” mereka, yang rasanya malam itu sesuai dengan konteks, hanya dibawakan sedikit sambil menunggu personel Kahitna berganti baju di belakang panggung. Teringat gurauan mereka saat tampil di panggung kecil sebelum acara utama: jika nanti mereka menggelar konser, maka gantian Kahitna yang akan membuka konser tersebut.

Tidak hanya pada tiga lagu pertama, ketiganya juga masih sempat melonjak-lonjak sambil menyanyikan “Kita Bangun Negeri” dan “Dirantau” ketika masuk kembali ke panggung dengan balutan varsity biru-putih. “Nggak lip sync, lho,” canda Hedi yang terengah-engah sambil terduduk di tangga panggung seusai bernyanyi.

Rasanya ketiga vokalis tersebut patut mendapatkan apresiasi lebih. Pasalnya, mereka tampil dengan berbagai koreografi yang cukup melelahkan. Mohon diingat, usia kepala tiga yang sedang mereka rayakan adalah usia band-nya, bukan usia mereka. Tentu saja kecuali mereka sudah berkarier sejak hari pertama mereka dilahirkan.

Tampak tidak ingin membuat konser terlalu ‘jadul’, Kahitna mengundang Raisa untuk bernyanyi di panggung tersebut. Sebuah kejutan bagi penonton yang masih belia. Suasana menjadi dramatis ketika penyanyi populer tersebut melantunkan “Mantan Terindah”. Rasanya suasana tersebut tidak akan berhasil tanpa string dan brass section yang akhirnya dimunculkan dari balik layar pada set kanan dan kiri panggung.

Yovie dan kawan-kawan memberikan kesempatan pada penonton untuk membuat lagu, dengan mengajukan enam kata yang diminta langsung saat itu juga oleh Kahitna. Mereka juga membatasi tiga nada: do, sol, re, serta menggunakan enam kata saja: pembunuh, puisi, makan, cinta, cuek, baper. Kata ‘ketoprak’ yang diteriakkan oleh penonton di tribun sayangnya tidak terdengar oleh mereka.

Selagi mereka menggarapnya, giliran grup The Overtunes mengambil alih panggung. Membawakan “Bintang”, vokal lembut Mikha Angelo dipadu dengan Mario seakan mampu mengistirahatkan penonton sejenak. Disusul “Seandainya Aku Bisa Terbang”, giant screen yang terpasang di bagian kanan dan kiri panggung menampakkan personel Kahitna saat menggarap lagu.

Masih belum puas menghadirkan bintang tamu, tiga wanita yang dikenal dalam trio Be3 menggantikan the Overtunes. Trio yang digawangi oleh Nola, Widi, dan Cynthia Lamusu tersebut sempat menyanyikan medley “Andai Dia Tahu” dan “Merenda Kasih” sebelum akhirnya Kahitna kembali muncul di panggung menyanyikan lagu dadakan tersebut.

Rasanya ribuan penonton malam itu sependapat bahwa tiga puluh tahun berkarir dalam dunia musik bukan hanya angka. Bukan Kahitna namanya jika tidak jago membuat lagu cinta, bahkan dengan kata-kata random dan tiga nada saja. Jangan lupa, mereka hanya membutuhkan dua bintang tamu saja untuk mengisi waktu tersebut.

Seorang penyanyi muda asal Bandung yang sedang naik daun, Isyana Sarasvati, turut tampil malam itu dengan gaun putih. Menyanyikan “Cinta Sudah Lewat”, suaranya menggelora tanpa cacat seperti biasanya. Sajian menarik lainnya bagi penonton belia yang hadir malam itu.

Tipuan Kahitna di akhir, setelah membawakan “Cantik”, “Untukku”, dan “Cerita Cinta” yang ditutup dengan hujan confetti, ternyata berhasil membuat beberapa penonton pulang. Entah keberhasilan ini harus dibanggakan atau tidak, dan entah mereka benar-benar tertipu atau sudah merasa cukup bernostalgia.

Tipuan tersebut tentunya berujung dengan encore seperti apa yang sudah diprediksi. Tidak tanggung, mereka membawakan tiga lagu, “Merenda Kasih”, “Aku, Dirimu, Dirinya”, dan “Setahun Kemarin.” Kali ini Kahitna benar-benar pamit dari panggung setelah balon-balon putih dilepas dan membanjiri seisihall.

Dengan membawakan lebih dari dua puluh lagunya, konser tersebut mampu menggilas rasa rindu penggemar lama Kahitna. Bagi penggemarnya yang kali ini kehabisan tiket, sebaiknya banyak-banyak berdoa mereka masih mampu melakukan koreografi pada konser-konser berikutnya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.