“LOMPAT NAK… AYO LOMPAT…!” | SUBHANALLAH.. GUSTII..

“Lompat nak… ayo cepat lompat…!” Kata-kata itu mengiang di telinga Novasari (8), gadis kecil yang menjadi korban selamat dari yang tenggelam di Selat Bali, Jumat (4/3/2016).

Novasari tak tahu siapa yang meneriakinya, ia hanya ingin berusaha mengejar sang ibu yang tiba-tiba hilang.

Nova berkali-kali tersandung dan tertubruk penumpang lain saat mengejar ibunya, Masruroh, yang mencoba mencari tempat aman di kapal. Belum juga berhasil menemukan sosok si ibu, kaki Novasari serasa terbebani. Air laut yang awalnya hanya semata kaki, dalam waktu singkat sudah memenuhi ruangan. Tidak ada yang memandunya untuk keluar ruangan, yang ia lihat hanya kepanikan luar biasa.

“Emak… emak…,” teriaknya panjang, mencari sang ibu.

Pada saat yang bersamaan, badan kapal kian miring ke kiri. “Ayo lompat nak, lompat….”

Teriakan itu terdengar lagi. Dengan sisa keberaniannya, Nova pun terjun ke laut, mengikuti penumpang lain yang terjun terlebih dulu.

Suara Nova terbata-bata berusaha menahan tangisnya saat menceritakan kembali detik-detik terakhir kapal tenggelam. Air matanya terus terurai setiap kali menyebut kata emak dan adiknya. Badannya yang terbungkus kain sarung terlihat bergetar.

Jaket pelampung

Nova tak bisa berenang. Ia pun tak berhasil mendapatkan jaket pelampung di dalam atau geladak kapal. Tak ada yang menyambutnya saat ia terjun ke laut, tetapi ia tak berpikir panjang saat memutuskan untuk melompat. Baginya tak ada jalan lain untuk selamat kecuali melompat saat kapal akan karam di Selat Bali.

Saat tubuhnya masuk ke dalam air, Nova meronta-ronta berusaha untuk tetap menggapai udara di atas air. Ia sudah menelan banyak air dan hampir kehabisan napas, serta tenaga, tetapi tiba-tiba saja benda keras memukul badannya.

“Saya otomatis memegang benda yang ternyata kayu itu. Saya pun berpegangan erat. Entah berapa lama berada di air, petugas berperahu pun akhirnya datang menolong saya,” katanya.

Nova adalah salah satu korban yang selamat dalam musibah tenggelamnya kapal Rafelia II di Selat Bali. Saat kapal mulai karam, ia terpisah dari sang ayah, Jaenuri (40), yang mencoba mencarikan jaket pelampung untuk Nova.

Nova awalnya digandeng ibunya yang juga menggendong adiknya, M Romlan (1 tahun 6 bulan), tetapi nasib berkata lain. Mereka terpisah. Ibunya ditemukan tak selamat. Jenazahnya ditemukan di dalam kapal dengan posisi menggendong sang adik. Ayahnya yang terjun ke laut ditemukan selamat meski terluka parah akibat tergesek karang.

Kepanikan

Kepanikan luar biasa tergambar dari cerita-cerita korban yang selamat. Di menit-menit terakhir, sebagian penumpang bahkan tak tahu bahwa kapal akan tenggelam. Mereka mengira tak ada masalah dengan kapal karena kapal terus melaju. Lampu tak mati, petugas pun tak memberikan informasi darurat.

“Saya baru sadar ada yang tak beres saat ada anak kecil yang berteriak kepada ayahnya kalau sepeda motornya terendam air. Saya langsung bergegas melihat sendiri ke bawah dan langsung panik karena air sudah menggenangi lambung kapal,” kata Yayan Saryana, pengemudi truk asal Bandung, Jawa Barat.

Saat mengetahui kondisi darurat, ia pun mencari-cari jaket pelampung untuk menyelamatkan diri. Beruntung, Yayan tahu tempat penyimpanan jaket pelampung karena ia rutin menyeberang Bali dengan kapal feri jurusan Jawa-Bali itu.

Jika Yayan masih sempat mendapatkan jaket pelampung, Ny Putu sama sekali tak kebagian. Ia dan anaknya yang berusia 21 tahun sempat terpisah karena si anak mencari jaket pelampung. Dirinya diminta mengamankan diri ke ruang yang lebih tinggi.

Namun, ia nekat terjun ke laut ketika kapal sudah miring. Ia berusaha mencapai pelampung yang ia lihat dari kejauhan. “Rasanya tak mungkin saya mencapainya. Saya mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa berenang ke pelampung itu. Entah bagaimana akhirnya saya bisa mencapainya,” kata Ny Putu.

Kapal Rafelia II tenggelam di Selat Bali ketika hampir sampai bibir pantai Ketapang, Banyuwangi. Pihak Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Indonesia Ferry Ketapang menyatakan, ada lima orang yang hilang dalam musibah itu.

Berdasarkan catatan Ship Traffic Control Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Rafelia II bertolak dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali, pukul 12.30. Sekitar 15 menit kemudian, nakhoda kapal Rafelia II, Bambang Adi, menghubungi petugas ship traffic control untuk meminta tindakan darurat, yakni permintaan evakuasi penumpang.

Lima menit kemudian, nakhoda juga menghubungi Manajer Operasional PT Dharma Bahari Utama Sekali, pemilik kapal, dan 19 menit setelahnya kapal tenggelam dekat dengan pendaratan kapal di Pantai Ketapang, Banyuwangi.

Banyak isu beredar mengenai penyebab tenggelamnya kapal. Isu itu mulai dari kelebihan muatan, arus Selat Bali yang deras dengan kecepatan 0,5 knot, kondisi kapal yang tak laik, hingga teknik penataan kendaraan di kapal yang tak imbang.

Namun, belum ada pernyataan resmi soal penyebabnya. Selama ini, Selat Bali dikenal berarus kencang. Kapal yang menyeberang harus mengikuti arus atau berzig-zag dan tak jarang ada kapal kandas terseret arus.

Di setiap inspeksi menjelang Lebaran, Kementerian Perhubungan selalu turun tangan untuk memeriksa kelengkapan alat penyelamatan. Hasilnya pun selalu beres. Namun, entah mengapa saat kejadian kapal tenggelam, tetap saja ada penumpang yang tidak kebagian jaket pelampung.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Umar Aris mengatakan, sebelum kapal bertolak, syahbandar sudah mengecek seluruh kelengkapan keselamatan, termasuk jumlah pelampung keselamatan. Kapal pun dinilai layak berlayar dan diberikan surat berlayar.

“Ketika dinyatakan tak layak, tentu saja syahbandar akan melarang kapal itu beroperasi. Mengenai masalah kenapa sampai terjadi musibah, itu masih dalam penyelidikan,” katanya.

Tenggelamnya kapal Rafelia II ironi dari kebijakan keselamatan penyeberangan. Kapal itu tak mempunyai manifes detail. Pencatatan penumpang kapal hanya berdasarkan kendaraan yang masuk, bukan jumlah penumpang di dalamnya.

“Mau yang masuk mobil kosong atau penuh, ya, tetap dicatat satu mobil. Jadi, kalau ada musibah seperti ini, kami tak bisa memastikan detail berapa jumlah nyawa di dalamnya,” kata Kepala Polres Banyuwangi Ajun Komisaris Besar Bastoni Purnama. (Siwi Yunita C) (.id/Kompas.com)

 

[socialpoll id=”2339555″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.