BANYAK WANITA JEUNG BOCAH MARAOT DI DI LAUT PAPUA NUGINI | INNALILLAHI.. KNAPAH?

Warga Papua Niugini sering melihat hal yang menyedihkan, yakni banyak wanita dan anak-anak imigran mati mengambang di laut sekitar Pulau Manus.

Perdana Menteri Papua Niugini Peter O’Neill menyampaikan hal itu di Melbourne, Kamis (3/3/2016). Ia menyerukan, sudah saatnya Australia menutup kamp pencari suaka di Manus karena telah menjadi masalah bagi Papua Niugini, seperti dilaporkan Sydney Morning Herald.

“Ketika kami ada begitu melihat wanita dan anak-anak meninggal di laut. Kami memberikan bantuan dan itu yang telah kami lakukan,” kata O’Neill, tanpa merinci.

Pulau di wilayah teritorial Papua Niugini itu adalah salah satu tempat yang dipakai otoritas Australia untuk menampung pencari suaka dari Timur Tengah dan Asia Selatan. Namun, kehadiran imigran di sana, kata O’Neill, telah merusak reputasi pulau itu.

Pemerintah koalisi Australia yang dipimpin Partai Liberal berhaluan konservatif mulai berkuasa pada 2013. Mereka mengampanyekan “Stop the Boats”, yang berarti menghentikan aliran imigran dan mengadopsi langkah-langkah tegas untuk mencegah aliran pencari suaka.

Siapa pun yang masuk ke Australia dengan kapal atau perahu ditangkap. Mereka lalu dikirim ke pusat penampungan di Manus dan Nauru, di Samudra Pasifik. Selain itu, Australia juga mengirim pulang ke negara asal imigran atau pencari suaka.

O’Neill juga mengatakan, pusat detensi di Manus pada akhirnya harus ditutup. Negaranya tidak memiliki sumber daya untuk memukimkan imigran. Namun, keputusan akhir tergantung Australia.

Ieu rame Lurr.. (BERAPA ONGKOS KRISIS PENGUNGSI DI JERMAN? | WEWW..)

“Pada tahap tertentu, tentu saja, kita harus menutup pusat detensi itu. Orang-orang ini tidak bisa tetap berada di Manus selamanya. Namun, hal itu sepenuhnya terserah Australia,” ujar O’Neill, seperti dirilis Reuters.

Menanggapi pertanyaan tentang apakah fasilitas detensi telah merusak reputasi Papua Niugini, O’Neill mengatakan, masalah itu telah merusak wilayahnya.

Kebijakan Australia menyediakan penampungan bagi pencari cuaka lepas pantai telah memicu kecaman internasional dari kelompok pegiat HAM, termasuk PBB. Sejauh ini, para pencari suaka yang tiba di Australia masih kecil dibandingkan di Eropa dan menjadi isu politik yang panas.

Pengadilan Tinggi Australia bulan lalu menolak untuk mendeportasi 267 anak-anak dan keluarga mereka yang dibawa ke Australia dari Nauru untuk berobat. Penahanan dan kemungkinan deportasi kembali ke Nauru terhadap seorang bayi perempuan yang dikenal sebagai Asha menggemparkan dunia.

Bayi yang lahir di Australia dari orangtua Nepal memicu curahan dukungan yang luas di Australia dan juga belahan lain dunia, termasuk Indonesia. (.id/Kompas.com)

[socialpoll id=”2324026″]

[socialpoll id=”2337683″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.