INSTRUKSI SOEHARTO JELANG GERHANA MATARI 1983 MENCEKAM, EH NAHA…

Hampir 33 tahun silam, Indonesia pernah disapa oleh Total (), tepatnya pada 11 Juni 1983. Kala itu, berlangsung hanya di Pulau Jawa, lokasi dengan populasi penduduk terbanyak di Indonesia. Puncak totalitas berlangsung cukup lama, hampir 7 menit. Kala itu fenomena terjadi pada tengah hari bolong, yaitu sekitar jam 12 siang. Bagaimana tidak heboh, seharusnya terik, tapi secara alami berubah menjadi seperti malam, kata orang-orang.

Ya, peristiwa ini bisa dikatakan menjadi awal mula anggapan Gerhana Matahari sifatnya “membahayakan” muncul.

Imbauan rezim Soeharto yang instruksional

Peneliti astronomi di Observatorium Bosscha, Moedji Raharto bercerita, pada saat itu pemerintah melakukan perintah mengenai GMT secara instruksional. Semua informasi ditelan mentah-mentah,” cerita Moedji saat berbincang dengan CNN Indonesia.

Warga diperintahkan masuk ke dalam rumah. Lucunya, saat itu adalah hari kerja, namun di sejumlah tempat terpaksa harus menghentikan aktivitas mereka hingga siang hari.

Imbauan tersebut diceritakan Moedji, datang dari banyak pihak seperti Departemen Kesehatan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Penerangan Indonesia (sekarang Kementerian Komunikasi dan Informatika), hingga para dokter. Serangkaian imbauan ini disalurkan ke masyarakat dari jauh-jauh hari, kata Moedji.

“Saya saat itu sedang di Rembang, Jawa Tengah. Petugas keamanan masyarakat setempat terlihat ada yang menjaga lingkungan sekitar. Itu hebatnya kepemimpinan Soeharto, semua orang nurut masuk rumah karena takut. Pengalaman yang mencekam,” kisahnya.

Itu semua dilakukan untuk melindungi diri sendiri dari marabahaya, terutama kebutaan. Gerhana Matahari Total, diungkapkan Moedji, memang dipercaya membahayakan kesehatan mata karena sinarnya yang begitu terang. Namun, ada distorsi informasi kala itu.

Penyampaian dari otoritas pada saat itu seakan-akan memang menjadikan bahwa gerhana ini sungguh membahayakan. Padahal menurutnya, GMT masih bisa diamati oleh mata dengan pelindung khusus. “Efek buta juga tidak terjadi secara langsung, kok. Tapi orang-orang juga musti paham, untuk menyaksikan GMT memang dianjurkan jangan terlalu lama,” lanjut Moedji.

Pun begitu dengan apa yang diceritakan oleh peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Gunawan Admiranto. Ia mengatakan, saat ia berada di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Imbauan datang dari pemerintah setempat agar tetap berada di dalam rumah.

“Aparat tingkat terbawah sempat mengusir orang-orang yang keluar rumah agar mereka kembali masuk. Mungkin orang-orang jaman dulu terlalu menangkap secara harfiah perintah pemerintah. Minim informasi juga sih, karena belum ada internet,” ungkap Gunawan di kesempatan terpisah.

Hal tersebut membuat jalan raya menjadi sepi. Meski begitu, diceritakan Gunawan, warga yang jauh dari jangkauan aparat keamanan masih ada yang nekat keluar rumah untuk mengamati GMT.

“Sisanya ya menonton dari televisi saja,” katanya lagi.

“Kalau tahun 1983 pariwisatanya juga diekspos, pasti dulu lebih mantap dan gila, sebabGMT 1983 sangat memorable,” tutup Moedji. (.id/cnnindonesia.com)

 

[socialpoll id=”2324661″]
[socialpoll id=”2333124″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.