MAJALAYA BERJUMPA DI NEW YORK DI PANGGUNG SHAFIRA | WEIIISSS…..

Shafira terus memantapkan langkah untuk menjadi label busana muslim tingkat dunia. Setelah tampil di ajang Couture Fashion Week di New York beberapa saat lalu, mempersembahkan karya terbaru di Indonesia Fashion Week 2016.

Di panggung Jakarta, mengambil tema Twenties Metropolis, Shafira mengawinkan mode New York era 1920-an dengan wastra asli Nusantara. Mereka yang pada tahun ini berusia 27 tahun menunjukkan 60 koleksi terbaru yang bermain dengan geometris, monokromatis, kilau berlian, dan juga kain-kain tradisional Indonesia.

Wastra atau kain yang digunakan oleh Shafira kali ini adalah sarung dan songket Silungkang asal Sumatra Barat.

 

Metropolis secara umum menampilkan kepiawaian Shafira mencampur kain-kain tradisional dan gaya mode Barat pada era ’20-an, ketika dunia mode mulai memasuki era modern pasca Perang Dunia I.

Bentuk art deco juga menjadi salah satu pilihan agar dapat menampilkan kesan glamor. Hal tersebut juga menjadi upaya Shafira agar hijab dan busana santun dapat diterima oleh dunia fesyen internasional.

Di segmen pertama, Shafira menyajikan gaya muslim yang berpadu tampilan “gahar” ala mafia New York. Menyesuaikan cloche hat yang banyak digunakan wanita di era Twenties, Shafira pun banyak menyajikan turban.

Turban yang dipilih pun dibentuk dengan sedemikian rupa agar terlihat antik dan unik mendampingi berbagai bentuk pakaian, mulai dari jaket panjang maupun pendek, hingga aneka variasi gaun.
Keputusan Shafira untuk mengadopsi pakaian yang pernah dipakai oleh masyarakat salah satu kota mode dunia tersebut dapat dipahami bila terkait dengan tujuan menjadi label skala dunia. Namun kadar “Barat” yang dimasukkan dalam Metropolis terasa terlalu banyak hingga membiaskan identitas Shafira yang identik dengan busana muslim, bukan hanya sekedar modest wear.

Kendati demikian, upaya Shafira mengangkat wastra dengan cara mengubahnya menjadi tampak menakjubkan patut diapresiasi. Siapa sangka sarung motif kotak-kotak monokrom yang biasa digunakan untuk beribadah, menjadi indah dan modern saat dibawa ke atas panggung runway.

Begitu juga dengan songket Silungkang yang diboyong Shafira ke New York. Songket asal Minang tersebut sukses memukau warga Big Apple, ketika dikawinkan dengan sutra sifon dan detail sulamart deco pada koleksi Metropolis bagian ke-dua.

Bila pada bagian pertama Shafira menonjolkan sosok androgyny dari kesibukan New York, maka pada bagian ke-dua label ini menampilkan sisi romantis tanpa menghilangkan kesan megah dan misterius.

Shafira tak hanya menampilkan kesan megah melalui bentuk art deco dan kilau benang songket, tetapi juga menambahnya dengan berlian yang diselipkan di antara kain.

Meskipun demikian, Shafira sukses membuktikan bahwa kain yang terlihat biasa, bisa jadi menakjubkan. Potensi wastra nusantara ini dapat menjadi peluang baru mengubah wajah wastra Nusantara agar dapat diakui di liga mode internasional. (.id/CNNIndonesia.com)

 

[socialpoll id=”2340859″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.