MENIKMATI JAVA JAZZ FESTIVAL, SEPERTI RAYAKAN MUSIM SEMI | INGET DI DEN HAHH..

Java Jazz Festival (JJF) tinggal satu hari lagi! Setelah dua perhelatan besar dua hari kemarin, pada Jumat (4/3) dan Sabtu (5/3), festival musik terbesar se-Asia Tenggara ini siap dipungkas pada Minggu (6/3).

Perhelatan tahun ini merupakan kali ke-12. Sejak awal, JJF selalu dihelat pada awal Maret, atau pada akhir Februari hingga awal Maret. Namun yang pasti tak pernah meleset dari bulan ke-tiga dalam kalender Masehi.

Mengapa JJF selalu dihelat pada awal Maret? Ternyata hal ini tak terlepas dari kecintaan Peter F. Gontha, pengusaha dan penggagas JJF, pada musik dan musim semi. Lewat acara tahunan JJF, ia menggabungkan kedua cintanya. “Menikmati musik itu tak ubahnya menikmati hari pertama musim semi. Dalam arti kata, musim semi kan, pergantian setelah musim dingin. Bagi orang Barat, musim semi mendatangkan kebahagiaan,” kata Peter kepada Zoomx, pada 2014.

Lebih jauh ia menambahkan, “Musim semi itu paling bagus, temperaturnya tidak dingin dan tidak panas, dalam suatu waktu. Memasuki Maret, orang bersuka cita menyambut hari pertama musim semi. Jadi musik itu seperti hari pertama musim semi.”

“Buat saya, alangkah cantiknya kalau setiap hari kita dapat menyanyikan satu lagu kebahagiaan. Memulai hari, sedari pagi dengan musik,” kata Peter di kediamannya di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Peter sendiri sudah mengakrabi jazz sejak sangat belia gara-gara tertular hobi sang ayah, V. Willem Gontha, yang pernah nge-band bareng biang jazz Bubi Chen, Jack Lesmana dan Maryono. Tak sekadar menjadi penikmat, juga pegiat jazz.

“Bagi saya, musik adalah segalanya,” kata pria 67 tahun. Sebagai bukti kecintaannya pada musik, Peter membentuk grup musik Bhaskara, juga mendirikan Radio Arif Rachman Hakim (ARH) yang kerap disebut sebagai radio jazz.

Lebih intens lagi, pria yang pernah menjadi pemimpin Perhimpunan Jazz Indonesia ini mendukung pergelaran JakJazz yang digagas Ireng Maulana, pada 1988. Berikutnya, sejak 2005, ia menggagas JJF dan rutin menggelarnya saban tahun.

Beberapa tahun belakangan ini, sang pendiri merangkap chairman PT Java Festival Production telah mengestafet penyelenggaraan JJF kepada putrinya, Dewi Gontha. Peter, kini, “menyerah” bila ditanya soal detail JJF.

“Wah, soal itu saya enggak tahu lagi,” katanya, dikutip Zoomx. “Anak saya, Dewi, 100 kali jauh lebih detail dari saya mengenai hal ini. Ya, memang dia masih berada di bawah bayang-bayang saya. Nomor satu, karena dia tidak mau tampil ke depan.”

“Nomor dua,” ia menambahkan, “saya sudah lebih dulu berkecimpung di jazz, sewaktu dia masih sekolah. Jadi orang mengatakan saya ini ‘Bapak Jazz Indonesia.’ Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya saya santai saja. Sekarang, malah Dewi dan timnya yang luar biasa sibuk.”

Peter mengaku tak pernah memberikan wejangan apa-apa kepada Dewi. Ia menyebut, ide JJF pun sesungguhnya dari Dewi yang berniat memulihkan nama baik Indonesia di mata dunia pasca tragedi Bom Bali dan tsunami di Aceh, pada 2004.

Tentu saja bukan perkara mudah mendatangkan musisi asing ke Tanah Air yang tengah berduka dilanda tragedi beruntun. Namun akhirnya usaha bapak dan anak ini membuahkan hasil. Kini, JJF menjadi festival jazz terbesar di Asia Tenggara. Bukan cuma menggelar acara musik tahunan, Peter juga menjalin persahabatan dengan musisi lokal dan internasional. “Bukan sekadar kenal, tetapi kami pergi bersama, makan bersama, dan merayakan sesuatu bersama,” katanya.
Peter mengaku punya trik untuk membukakan mata musisi dunia tentang Indonesia, “Saya sering mempromosikan negara kita dengan mengirimkan link Wikipedia mengenai Indonesia ke mereka. Saya bilang, ‘Baca saja,’  dan itu membuka mata mereka.”

Tentu saja, Peter juga menghargai musisi lokal. Ia berprinsip, “Saat mengarap JJF, saya pikir, ini harus melibatkan 65 persen musisi Indonesia, dan dari 65 itu 50 persen harus musisi baru dan 50 persen lagi musisi yang sudah punya nama.”

Peter mengaku menikmati lagu-lagu cinta milik Dian Pramana Putra, Raisa, Reza, atau Ruth Sahanaya. Juga lagu lain berbagai genre, dari dangdut, jazz, rock, bosanova. Kecuali musik klasik.  “Saya tidak akan mencari musik klasik,” katanya.

Peter juga gemar menyimak lagu-lagu Tony Bennett, Diana Krall, Sergio Mendez, tak terkecuali Beyonce. Diakui, playlist-nya berisi aneka ragam musik dan lagu. Yang jelas, ia tak pernah menyetel lagu yang itu-itu saja.

“Menyimak musik itu memberikan rasa damai. Semua bisa diekspresikan dalam musik: emosi, kebebasan, cinta, kesedihan… Bayangkan bila dalam hidup ini tidak ada orang yang menemukan atau menciptakan musik,” kata Peter.

“Boleh dibilang, para pencipta musik sebenarnya orang-orang spiritual yang memberikan kepada kita suatu kebahagiaan, suatu nilai tambah hidup yang semarak,” katanya seraya menyebut musik sebagai “satu bagian yang sangat penting dalam hidup saya.” (.id/CNNIndonesia.com)

 

[socialpoll id=”2326293″]

[socialpoll id=”2338723″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.