SETELAH 20 TAHUN, BIOSKOP HADIR DEUI DI JALUR GAZA

Kamis (25/2/2016), mungkin merupakan hari bahagia bagi sejumlah warga di .

Sebab, hari itu untuk pertama kali dalam 20 tahun terakhir, mereka kembali bisa menikmati film di .

Dua dekade lalu, satu-satunya bioskop di daerah kantung Palestina itu terbakar habis akibat ketegangan politik yang memicu kerusuhan.

Meski bukan film-film blockbuster Hollywood yang diputar, karena dianggap tak pantas oleh Hamas, penguasa Jalur Gaza, setidaknya mesin proyektor sudah berputar kembali.

Sekitar 150 orang duduk di kursi masing-masing di aula Komunitas Bulan Sabit Merah. Tempat ini biasanya digunakan untuk menggelar perayaan-perayaan tradisional Palestina.

Kali ini, aula itu menjadi tempat pemutaran film “Oversized Coat”, sebuah film produksi 2013 karya sutradara Palestina yang bermukim di Jordania, Nawras Abu Saleh.

Film ini mengisahkan kehidupan bangsa Palestina antara 1987-2011, masa-masa di mana upaya damai gagal dan bangkitnya dua kali perjuangan melawan Israel.

Di antara para penonton, terdapat Alaa Abu Qassem, seorang pelajar asal Gaza yang belum pernah melihat film layar lebar sebelumnya.

Ieu rame Lurr.. (INGIN NONGTON BIOSKOP LEBIH HIRUP, CGV BLITZ TERAPKAN PROYEKTOR LASER | WIIIIHH..)

Tentu saja, ini merupakan pengalaman baru bagi Abu Qassem dan beberapa remaja Palestina lainnya.

“Saya sangat bahagia,” kata Qassem yang masih balita saat bioskop terakhir Gza terbakar dalam konflik Hamas-Fatah saat itu.

“Tapi mana popcorn-nya?” ujar dia.

Pada dekade 1950-an, bioskop menjamur di Jalur Gaza, kala Mesir memerintah daerah kantung itu. Saat itu film-film Arab, Barat dan Asia merupakan hiburan yang wajar bagi warga Gaza.

Pada saat intifadah pertama pada 1987, semua bioskop dibakar dan sempat diperbaiki lalu beroperasi kembali.

Namun, konflik politik internal Palestina pada 1996, mengakibatkan semua bioskop itu kembali dibakar.
Di salah satu sudut Gaza, masih terlihat poster film usang, sebagian ditulis dalam bahasa Ibrani, mengingatkan masa-masa pendudukan Israel di Gaza.

Poster film itu masih tergantung di tembok menghitam sebuah bangunan yang dulunya adalah bioskop terbesar di Gaza.

Jendelanya sudah sejak lama hancur. Dan berbagai coretan yang mengagungkan perlawanan terhadap Israel atau mengiklankan bisnis lokal terlihat bertebaran di dinding kusam itu.

Suasana hampir serupa dengan 20 tahun lalu seolah tercipta kembali. Ratusan orang datang, duduk menanti diputarnya film.

Hal yang berbeda adalah, saat lampu mulai diredupkan, beberapa penontong malah membuat “film” sendiri dengan menggunakan telepon pintar.

Nampaknya, mereka tak rela momen bersejarah itu lewat begitu saja tanpa diabadikan.

“Gaza sangat merindukan bioskop. Membuat rakyat Gaza tak memiliki bioskop dan teater adalah pelanggaran kemanusiaan mereka,” kata Basel al-Attawna, seorang sutradara teater di Gaza.

Hiburan memang kian menjadi barang langka di Gaza. Saat Israel dan Mesir memperketat pengawasan perbatasan, sebagian besar dari 1,9 juta warga Gaza tak bisa bepergian keluar dari daerah kantung itu.

Film, biasanya ditonton secara pribadi di rumah lewat televisi atau DVD.

Hussam Salem, dari perusahaan Ain Media yang mendukung pemutaran film pekan lalu itu, mengatakan inisiatif ini dimulai dua bulan lalu.

Saat itu, sebanyak 250 orang memadati aula yang sama untuk menonton film pertama yang diputar di tempat itu.

Awalnya, Ain Media berencana untuk menggelar pemutaran film tiap pekan pada Sabtu. Namun, film kedua diputar di pekan yang sama karena membludaknya permintaan.

Setelah menonton film “Oversized Coat” sebagian besar penonton menyatakan senang menyaksikan film yang mengisahkan perjuangan rakyat Palestina melawan Israel.

Namun, mereka juga ingin menonton film Mesir dan Barat dengan bintang-bintang ternama seperti Tom Cruise dan Sylvester Stallone.

Sayangnya, kata Salem, tema film yang diputar harus mendapat persetujuan Kementerian Dalam Negeri Hamas sebelum bisa ditonton warga.

Artinya, lanjut Salem, penyuntingan dilakukan di banyak adegan yang dianggap berlebihan dan dinilai tak pantas, termasuk adegan berciuman.

Sehingga, sejauh ini film-film yang diputar memang yang dianggap sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai bangsa Palestina. (.id/Kompas.com)

 

[socialpoll id=”2337640″]

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.