MELIANA: MENJADI BOBOTOH ADALAH TUNTUTAN HATI!

“Mengapa sampai segitunya ke Persib? Emang Persib ngasih apa?”. Pertanyaan tersebut pernah terlontar di benak seorang Bobotoh wanita bernama Meliana Pancarani Kania Dewi. Pertanyaan yang cukup “mengejutkan” itu pun ditanggapi santai oleh dara kelahiran Bandung tahun 1995 silam ini. Dengan jawaban yang nampaknya datang dari hati, dirinya pun menjawab, “Ya.. Gatau, emang bodoh sih, tapi namanya juga tuntutan hati,”.

Jawaban tersebut memang sepertinya pasti dijawab oleh para pendukung tim kesayangannya. Fanatisme adalah suatu hal yang diusung oleh para suporter untuk mengukur sejauh mana dirinya bangga terhadap klub sepak bola yang dibelanya. Perempuan yang sudah pasti “gila” Persib ini pun mencoba menceritakan tentang suporter dan fanatisme.

“Menjadi seorang suporter kadang selalu dipandang sebelah mata, tidak sedikit pemberitaan media mengenai citra yangg jauh dari kata dewasa “katanya”. Memang terkadang fanatisme adalah sebuah kebodohan, hujan-hujanan mencari tiket, kesana kesini mencari pool bis yang bisa dipakai away, “adu urat” dengan calo, ditakol polisi, ditilang, bahkan ada yang diputusin pacar, hujan juga bukan hanya hujan air lagi tapi lontaran batu bak para jemaah haji yang sedang jumrah pun kami pernah mengalaminya,” ungkapnya.

Ieu rame lur: KEMENPORA GEUS SATUJU, ISC 2016 DIPASTIKAN SESUAI JADWAL!

Lalu, apa yang dirinya rasakan ketika Persib bermain tidak sesuai harapan? Harapan yang tentunya ingin Persib selalu memenangkan pertandingan, meskipun hal tersebut bisa dikatakan mustahil.

“Kalau Persib butut juga da cinta, sama seperti halnya seseorang yang hobi mengoleksi perangko, dia rela mngeluarkan money berapapun, jika menurut kita yang ga minat pasti berpikir buat apa coba? Tapi bagi dia itu hoby dia semakin banyak semakin puas dan bahagialah dia. Perlu diingat KALIAN TAKAN PERNAH MERASAKANNYA JIKA KALIAN BUKAN DARI BAGIANNYA. Persib tidak memberi materi. Tapi Persib memberi arti, arti kesetian, arti perjuangan, arti kebahagian, dan arti kekeluargaan, sebagai contoh walau tidak kenal siapa dia tapi kalau lagi berada diluar Jabar (Jawa Barat), bertemu mereka yang memakai atribut berbau Persib rasanya bahagia, saking bahagia kami memanggilnya dulur, LUR KAMANA LUR, bukan sam ingat. Berdasarkan pengalaman saya sih begitu, karena Persib juga saya bisa jalan-jalan kesana kesini, jadi sejauh apapun kamu pergi, dimana pun kamu berada, tetap pakai atributmu, banggalah jadi suporter, bahkan jika rivalmu berlaga jongjon we pake atribut tuluy gorowok aing persib maneh naon, *tong ketang da sieun abige hehehe herey etamah,” jelasnya.

Dirinya pun memberikan komentarnya mengenai Persib yang gagal juara di turnamen Piala Bhayangkara lalu. Menurutnya, tim Persib yang baru ini masih perlu penyesuaian terhadap karakternya. “Kalau menurut pandangan aku kemarin Persib bisa masuk final aja udah bagus dibawah Dejan secara pemain juga di rombak hampir semua baru, ditambah Bow (Febri) sama Zola kan mereka yang lebih keliatan di pemain mudanya, cuma harus lebih sering dikasih main aja, biar makin berkembang insyallah pasti bisa,” ujarnya.

Selama menjadi Bobotoh, Meliana pun mengungkapkan kesan-kesannya. Pengalaman Persib saat bermain kandang maupun tandang pun pernah dirasakan langsung olehnya. Namun, pengalaman menonton langsung Persib pertama kali di stadion dan momen Persib juara Indonesia Super League 2014 (ISL) adalah momen yang menurutnya paling berkesan. “Kalau home pengalaman yang berkesan mah pas pertama nonton ke stadion sama orang tua, itu maksa banget, keukeuh pengen ke setadion kalau ga salah pas SMP, waktu Persib vs Persebaya, kesannya dapet banget, dari yang susah nyari tiket, desak-desakan masuk tribun, quality time sama keluarga, ditambah ngerasain atmosfer persahabatan Viking Bonek dulu. Ditambah hasil Full Time nya menang, top lah itu mah,”

“Kalau away mah pastilah yang paling berkesan waktu final ISL 2014, dibanding away Madura, Gresik dll, Palembang paling berkesan, penantian selama 19 tahun terbayar sama air mata bangga, belum lagi perjuangam diperjalanan dari pergi sampai pulang, ga nyangka masih bisa hidup sampai sekarang soalnya memang keaadaan waktu pulangnya mencekam banget, belum lagi pas sampai Bandung disambut,” ujarnya bercerita.

Tak lupa, Meliana pun memberikan harapannya kepada Persib untuk kedepannya. Tentunya adalah sebuah do’a darinya untuk Persib agar lebih baik kedepannya dari segi organisasi dan lainnya.

“Manajemennya lebih baik lagi dijaga supaya para pemain yang benar-benar hatinya di Persib merasa betah jangan sampai pergi-pergi lagi, pertiketan, emang sulit tapi semoga bisa lebih terorganisir pembagiannya, dan dari segi panpelnya juga, semoga tidak ada kecurangan lagi, Harapan buat Bobotohnya semoga makin dewasa lagi dan terus berkreasi, perbanyak chanting dan banner motivasi, utamakan Persib jangan organisasi, yang lebih penting chant karya sendiri,” tutupnya. (Bobotoh.id/GD/RF)

[socialpoll id=”2352059″]


 

[socialpoll id=”2351283″]

Komentar

Reno Firhad Rinaldi

Author #21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.